Inovasi

Unik, Sistem Belajar dengan Robot, VR, dan Drone

ilustrasi

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Di era yang semakin modern ini, ruang kelas di sekolah-sekolah mulai menerapkan berbagai teknologi tinggi. Mulai dari papan interaktif, menggunakan laptop, dan juga pembelajaran online semakin berkembang. Namun apakah kurikulum benar-benar berubah, atau anak hanya belajar hal yang sama pada perangkat yang berbeda?

Beberapa orang berpendapat bahwa pendidikan generasi saat ini, mulai dari anak-anak telah menerima pendidikan yang sedikit berbeda dari orang tua mereka, atau bahkan dari kakek dan nenek. Keterampilan generasi saat ini cenderung membutuhkan pembelajaran yang berbeda, mengingat saat ini adalah zaman dimana kecerdasan robot buatan sudah mulai mengancam pekerjaan.

Karena itu, kini mulai bermunculan sistem belajar mengajar yang berbeda di berbagai belahan dunia. Seperti dilaporkan BBC, pada Konferensi Bett yang digelar di London, terdapat sejumlah bentuk pembelajaran berteknologi tinggi yang ditawarkan sejumlah ilmuwan.

1. Sekolah Robot

Menurut pemiliknya, Geoffrey Fowler, sekolah tersebut merupakan sebuah gebrakan yang dibuat Excel. Meskipun tidak lebih dari sebuah portakabin, namun sekolah robot tersebut berhasil menarik peminat secara masif ketika pertama kali dibuka pada September 2016 lalu.

Sebanyak 180 siswa sangat beruntung menjadi peserta pertama yang mendapatkan tempat di sekolah tersebut, dan mendapatkan pengalaman kurikulum pembelajaran yang kini telah memasuki minggu ke-12.

Ada beberapa kelompok yang telah memulai proyeknya, diantaranya adalah salah satu kelompok tersebut telah dirancang dari awal untuk lingkungan virtual reality yang menunjukkan perjalanan mereka di sekitar Ethiopia sebagai bagian dari proyek untuk melihatkan pekerjaan charity Water Aid.

Di sekolah ini, salah satu grup siswa membuat proyek virtual reality environment, yang mampu memperlihatkan kondisi nyata sekitar perkampungan Ethiopian. Proyek ini sebagai bagian dari upaya penggalangan dana untuk air bersih.

Sementara grup siswa lainnya menghabiskan semester dengan mengajarkan Pepper, robot yang berwujud seperti manusia. Pepper diajarkan untuk membuat sejumlah gerakan, bahkan hingga gerakan dab yang saat ini tengah menjangkiti warga dunia.

Hal seru lainnya dilakukan grup siswa yang akan melakukan perjalanan ski yang tidak biasa akhir pekan nanti. Selama perjalanan, mereka akan diikuti oleh 11 Nao Robot, yang akan merekam bagaimana mengajarkan permainan sko.

Sekolah robot tersebut tidak menerapkan pekerjaan rumah. Mereka membiarkan siswa untuk menyelesaikan projek yang mereka lakukan, sebagai bagian untuk menginspirasi mereka menjadi bagian dari proses belajar mengajar.

Sekolah ini tidak bekerja sendirian. Mereka bekerja sama dengan berbagai industri. Tidak terkecuali University of East London, dan juga Thames Water and Fujitsu.

2. Kurikulum Drone

Banyak sekolah dasar saat ini mulai meyakini pentingnya pembelajaran kode atau sandi. Sejumlah sekolah di Amerika Serikat kini sudah menerapkan program pembelajaran kode melalui filosofi permainan.

Setidaknya ada 60.000 sekolah dasar di Amerika Serikat yang menerapkan pembelajaran sandi dengan menggunakan drone. Rata-rata setiap sekolah membeli 6-12 drone melalui kerjasama dengan Tynker, sebuah perusahaan yang bergerak mengembangkan program pembelajaran tersebut.

Siswa belajar bagaimana menggerakan drone, mulai dari yang termudah, hingga yang lebih kompleks seperti bekerja sama dengan tim untuk mengoperasikan drone.

Mungkin yang terbayang adalah, dibutuhkan guru yang memiliki kemampuan untuk memahami seluk beluk drone. Namun seorang guru kelas empat SD di Towne Meadow Elementary School mengaku tidak terlalu sulit untuk bisa menerapkan pembelajaran tersebut.

“Anak-anak belajar sangat cepat, dan mereka setiap minggunya terus mengembangkan kemampuan mereka dengan target-target tersendiri dalam sandi drone mereka. Mereka sangat tertarik dan antusias,” ujarnya.

Tujuan pembelajaran tersebut bukan untuk mendorong siswa menjadi seorang programmer, melainkan menjadikan pengkodean menjadi sebuah gaya hidup.

3. Virtual Reality

Penggunaan teknologi Virtual Reality (VR) tidak hanya pada permainan dan video. Namun kini VR juga mulai digunakan dalam sistem pembelajaran, salah satunya adalah di Prancis.

Jika biasanya murid di kelas belajar dengan bantuan buku, bayangkan masing-masing siswa menggunakan alat VR di kepala mereka untuk mempelajari berbagai hal. Mulai dari sejarah revolusi Prancis, hingga mempelajari tata surya.

Lenovo’s global education bekerja sama dengan Case Western Reserve University dalam pengembangan sistem pembelajaran tersebut. Mereka menerapkan strategi harga VR dan Augmented Reality (AR) yang lebih terjangkau, untuk mendorong peningkatan adopsi sistem pembelajaran tersebut.

 

Sumber : Pikiran Rakyat

To Top