Literasi

Antara Fiksi, dan Wacana Retorika

Oleh: Cecep Jamiat*

OPINI, EDUNEWS.ID – Berawal dari sebuah isu hangat yang sedang beredar di antaranya adalah dwi kewarganegaraan Mantan Menteri yang baru saja dilantik yakni Acandra selaku mantan menteri ESDM yang menggantikan Sudirman Said. Bukan hanya itu saja beberapa kalangan pun ikut turut berbicara terkait masalah ini d iantaranya adalah suguhan yang berisikan bahwa Badan Intelejen Negara gagal dalam menjalankan tugasnya.

Ya rupa – rupa masalah yang kian mencuat di antara kabinet kerja ala Jokowi-JK, tidak berhenti begitu saja ada salah satu fenomena langka yang dialami oleh negeri setengah kehilangan kendali ini, mengapa? Mungkin sebagian kalangan atau mayoritas penikmat rokok sudah mengetahui akan isu tersebut, yakni rencana Jokowi menaikan harga rokok dengan nominal 50 ribu rupiah setiap bungkusnya.

Antara fiksi dan wacana retorika itu lebih tepatnya penulis sampaikan melalui opini kali ini, karena hal yang sangat tidak masuk akal ketika negara mengorbankan penyumbang cukai terbesar akan dinaikan yang kemudian akan mempengaruhi tingkat konsumerisme pasar.

Tidak berhenti sampai disitu saja, wacana ini akan memperoleh dampak yang buruk bagi stabilitas ekonomi Negara, di antaranya adalah Negara harus menjawab secara gamblang mau dikemanakan para pekerja tembakau Indonesia, namun anggapan tersebut sudah dijawab melalui serba–serbi tulisan yang kian meramaikan media online.

Seorang penulis terkemuka pun ikut angkat bicara yakni Tere Liye yang baru-baru saja memuat tulisannya terkait isu ini. Kurang lebih isi tulisannya mengulas soal corak produksi perusahaan rokok sudah tidak menggunakan jasa manusia melainkan mesin. Inilah mengapa Tere Liye dalam tulisanya secara rasional menyerukan sikap setujunya terkait kebijakan ini.

Saya mengajak sedikit berpikir out of the box kepada para pembaca yang berbahagia, bahwa jangan terlalu majemuk menanggapi isu ini karena memang kejelasan yang masih perlu dipertanyakan. Kalau memang benar negara bisa secara tegas menaikan harga rokok, mengapa tidak sekalian ditutup dan diharamkan di negeri ini? Ya, itu hanya anggapan tidak berlandas dari penulis.

Daripada kita terlalu terpaku pada isu yang tidak ada unsur kejelasannya ini, lebih baik kita berpaling sejenak seraya mengheningkan cipta atas gugurnya rasa peduli negara akan pentingnya budaya literasi Indonesia.

Beberapa hari yang lalu sedang geger bahwa ada tindakan kriminalitas yang dilakukan oleh aparat negara yang mengusir atau membubarkan secara paksa perpustakaan jalanan di daerah Bandung. Hal ini sangat disayangkan mengapa hal yang positif malah di kerangkeng? Padahal, seperti yang kita ketahui bersama bahwa membaca adalah salah satu hal untuk memajukan bangsa ini.

Membaca adalah tindakan positif yang akan membuat sumber daya manusia berkembang sekaligus mempersiapkan SDM berkualitas menuju Indonesia 2025 atas bonus demografinya. Hal ini tentunya sangat menyakti hati para pejuang literasi, kenapa tidak? Tindakan yang sangat irasional ini dilakukan oleh beberapa kalangan yang tidak bertanggungjawab.

Melalui tulisan ini, penulis mengajak kepada pembaca yang terhormat agar melakukan tindakan perlawanan terhadap oknum aparat yang tidak bertanggung jawab atas tindakan merugikan negeri.

Lawan para penjajajah yang mencoba membatasi kebebasan berpikir, anak Indonesia harus gemar membaca, membaca menolak lupa, membaca menolak kebodohan.

Cecep JamiatMahasiswa Fisipol UMY.

To Top