Artikel

Peningkatan Kapasitas Masyarakat terhadap Pemahaman Labeling Produk Pertanian di Bidag Ekspor Impor

Gambar: Proses Sosialisasi Pengabdian Kepada Masyarakat dengan Tema: Peningkatan Kapasitas Masyarakat Terhadap Pemahaman Labeling Produk Pertanian di Bidang Ekspor Impor

Oleh:Genesiska, S.Si, M.Sc (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta), Rezki Satris, S.IP, M.A (Universitas Amikom Yogyakarta)

 EDUNEWS.ID-Produk pertanian menjadi salah satu sektor perdagangan internasional yang sering dilakukan antar negara. Hal ini disebabkan karena produk pertanian merupakan sektor penting dalam memenuhi kebutuhan pangan suatu negara. Setiap negara saling mempunyai ketergantungan dengan negara lain sesuai dengan kebutuhan nasionalnya yang dikenal dengan istilah national interest.  Keterkaitan dan ketergantungan antar negara menyebabkan terjadinya bentuk kerja sama dalam bidang perdagangan. David Ricardo melalui teori keunggulan komperatif yang berisi prinsip-prinsip pembagian kerja antar negara di mana setiap negara harus mengkhususkan diri dalam bidang kegiatan ekonomi berdasarkan keunggulan komperatif yang dimiliki setiap negara (Adrian Sutedi, 2014).

Terjadinya perdagangan internasional disebabkan oleh dua hal, pertama, negara-negara yang melakukan perdagangan didorong atas hadirnya perbedaan yang dimiliki oleh negara lainnya sehingga dengan melakukan perdagangan secara internasional akan memberikan keuntungan satu sama lainnya. Kedua, negara-negara berdagang karena lebih efisien untuk mengimpor barang dari negara lain dari pada menghasilkannya di dalam negeri karena biaya produksi dalam negeri yang tinggi (Sasono 2013).

Meningkatnya kerjasama antara negara dalam bidang perdagangan terutama dalam hal pertanian menyebabkan produk-produk pertanian semakin banyak dibutuhkan oleh berbagai negara. Akan tetapi seiring dengan banyaknya kebutuhan dari berbagai negara tentu membuka ruang-ruang terhadap hadirnya kejahatan internasional. Kejahatan perdagangan international terhadap produk pertanian memberikan dampak kerugian terhadap para petani dan produsen pertanian secara tidak langsung. Hal ini bisa menyebabkan perolehan keuntungan para petani dan produsen menurun secara signifikan.

Oleh karena itu, untuk melindungi dari dampak kejahatan perdagangan internasional terutama dalam hal produk pertanian dibutuhkan pemahaman tentang traceability produk pertanian, khususnya untuk tanaman bahan pangan sehingga jaminan kualitas dan keamanan produk bisa terjamin hingga ke konsumen. Salah satu bentuk traceability produk mencakup proses dari produksi sampai distribusi, di mana produk berasal dan ke mana produk akan didistribusikan. Dalam proses traceability produk tersebut, tentu akan memudahkan para konsumen untuk mengetahui dan mengidentifikasi produk-produk pertanian mulai dari proses produksi hingga distribusi dan konsumsi.

Dalam hal labeling produk melalui sistem traceability digunakan untuk membuktikan keaslian sebuah produk tertentu. Hal ini telah dilakukan di Eropa pada abad pertengahan sekitar tahun 1930-an. Salah satu produk yang menjadi traceability produk adalah sampanye Perancis. Namun seiring dengan perkembangan globalisasi, traceability tidak hanya digunakan untuk melacak asal-usul sebuah produk namun juga digunakan untuk menjamin keamanan dan keperluan kapitalisasi produk seperti branding. Kepentingan traceability terhadap branding ini terlihat dalam tren labelisasi produk salah satunya label organic untuk produk pertanian (Asian Development Bank Institute, 2009).

Pemahaman masyarakat terhadap labeling produk pertanian terutama dalam hal ekspor impor menjadi sangat penting untuk diketahui. Mengingat banyaknya masyarakat yang belum mengerti tentang proses labeling produk dilakukan terutama dalam hal keamanan pangan. Sesuai dengan “Pasal 1 angka 5 Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 18 tahun 2012 tentang Pangan (untuk selanjutnya disebut UU No. 18/2012) berbunyi: “Keamanan Pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat sehingga aman untuk dikonsumsi”.

Namun pada kenyataannya, banyak masyarakat yang belum paham terhadap pentingnya pemahaman terhadap proses labeling terhadap barang-barang ekspor maupun impor terkait produk pangan pertanian. Ditinjau dari definisnya, label pangan yakni suatu bentuk keterangan terkait pangan yang berisi gambar, tulisan, kombinasi keduanya, atau bentuk lain yang disertakan pada pangan, dimasukkan ke dalam, ditempelkan pada, atau merupakan bagian kemasan pangan. Label dan iklan pangan termasuk dalam lingkup pengaturan penyelenggaraan pangan yang diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 18 tahun 2012 tentang pangan (Indonesia, 2012).

Oleh karena itu, melalui pengabdian ini, salah satu bagian dari proses edukasi terhadap pemahaman labeling produk pertanian di bidang ekspor impor difokuskan kepada masyarakat akademisi terutama mahasiswa dilakukan oleh Genesiska S.Si, M.Sc, karena dengan melakukan sosialisasi kepada mahasiswa diharapkan akan mampu menjalarkan pengetahuan tidak hanya untuk diri tetapi untuk masyarakat luas. Selain itu, Dari segi pemahaman Labeling Produk Ekspor dan Impor disampaikan oleh Rezki Satris, S.IP, M.A. Salah satu harapan bahwan mahasiswa sebagai kaum terdidik harus mampu menjadikan dirinya sebagai penggerak perubahan guna mendorong terjadinya tranformasi sosial di masyarakat.

Mahasiswa harus mampu mengambil peran-peran social di masyarakat terutama mahasiswa yang berada dinaungan organisasi. Kegiatan ini dihadiri oleh mahasiswa terutama dari Himpunan mahasiswa Islam Komisariat Fisipol sebagai mitra dengan berbagai jurusan di antaranya Hubungan Internasional, Ilmu pemerintahan dan Ilmu Komunikasi. HMI Sebagai salah satu mitra kerjasama dalam rangka pengabdian menjadi salah satu motor penggerak dalam mengambil bagian perubahan di masyarakat. Akan tetapi persoalan tentang proses labeling masih menjadi kendala dalam memahami bagaimana proses labeling sebuah produk bisa dilakukan terutama dalam hal pertanian. Oleh karena itu, sosialisasi tentang pemahaman labeling produk pertanian di bidang ekspor impor menjadi sangat penting untuk dilakukan sebagai bagian dari proses dalam mengambil perubahan di masyarakat kelak.

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top