Literasi

Berawal dari KKN, Mahasiswa Unpad Bikin Kelas Inspirasi

KUNINGAN, EDUNEWS.ID – Pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh mahasiswa bisa dimulai melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Hal ini pun yang diterapkan oleh mahasiswa dari Universitas Padjadjaran yang sedang melakukan KKN di Desa Gunungsirah, Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Melalui program kerja pendidikan dan pengajaran, sejumlah mahasiswa Unpad ini menggelar program bertajuk “Kelas Inspirasi”. Kelas inspirasi sendiri merupakan suatu program yang memiliki tujuan untuk memperbaiki tingkat kesadaran akan pendidikan.

Program ini diinisiasi oleh mahasiswa Universitas Padjadjaran, Muhammad Zul Fajri Taswin. Menurutnya, ide ini timbul didasarkan oleh keinginan untuk membuat program cara belajar yang efektif.

Fajri (sapaan akrabnya) pun sempat mendiskusikan idenya tersebut bersama dosennya di kampus. Fajri pun mendapat gambaran bahwa di daerah KKN masih diliputi oleh permasalahan rendahnya tingkat kesadaran akan pendidikan.

Masih banyak anak-anak yang lebih memilih untuk bekerja atau langsung menikah. Untuk itu, Fajri pun mengecek melalui Badan Pusat Statistik Desa Gunungsirah, Kecamatan Darma. Dan hal yang disampaikan sang dosen pun sesuai dengan yang tercantum dalam BPS.

“Dari situ tercetuslah pemikiran bagaimana membuat semacam pelatihan untuk meningkatkan motivasi mereka untuk melanjutkan pendidikan,” ujar Fajri.

Konsep dari “Kelas Inspirasi” sendiri merupakan penerapan atas teori Orientasi Masa Depan (OMD) yang dicetuskan oleh Nurmi pada 1989.

Dari hal tersebut, Fajri ingin membuat pelatihan yang berbasis dari teori psikologi. Dalam penerapan “Kelas Inspirasi” dibagi menjadi dua sesi yakni adanya kelas inspirasi berupa acara seperti talkshow inspirasi yang dikemas secara sederhana namun tepat sasaran dan sesi kedua berupa bimbingan dengan adanya Kakak Asuh.

“Kalau misalnya di awal itu terpikirkannya bawa oleh-oleh aja. Karena kalau misalnya kita cuma membuat satu program kerja lalu kita pergi itu namanya hanya hit and run. Kamu melakukan sesuatu lalu lari, jadi seperti tidak melakukan apa-apa alias tidak ada keberlanjutannya,” jelas Fajri.

Akhirnya tercetuslah ide untuk membuat sebuah proposal hidup yang mereka isi selama program pelatihan berlangsung. Dan setelah pelatihan proposal hidup tersebut bisa dipajang di kamar, atau dibaca lagi dan kemudian bertindak sesuai dengan isi proposal tersebut.

Untuk program Kakak Asuh, setelah mendapat saran dari dosen, Fajri menjelaskan bahwa dalam teori OMD yang berisi tiga tahap yakni, motivasi, perencanaan, dan evaluasi.

Titik berat dari program Kakak Asuh adalah pada tahap evaluasi. Kita perlu memastikan mereka untuk bisa melakukan evaluasi diri. Seperti kesadaran berupa, “apa yang saya harus lakukan untuk mencapai target ketika saya menemui hambatan-hambatan yang membuat saya kesulitan mencapai target-target tersebut”.

Dan akhirnya tercetuslah ide Kakak Asuh tersebut dan menjadikan para mahasiswa KKN sebagai Kakak Asuh yang melakukan fungsi memandu, memotivasi, dan mengevaluasi adik asuh.

Kakak asuh pun menjadi tempat untuk berbagi hal, tempat bercerita, membantu menyelesaikan masakah pribadi hingga persoalan akademik.

Program “Kelas Inspirasi” ini sendiri memiliki segmentasi siswa MTS Al-Ihsan Desa Gunungsirah. Meski pada awalnya program yang dicanangkan oleh Fajri ini memiliki konsep untuk diterapkan pada siswa tingkat SMA. Namun, karena tidak ada institusi pendidikan setingkat SMA maka konsep diperbaiki dan disesuaikan untuk diterapkan kepada siswa MTS atau setingkat dengan SMP.

Hal ini kembali didasarkan pada teori OMD yang mengatakan bahwa kesadaran akan masa depan mulai muncul pada saat duduk di bangku tingkat SMP. Meski, pada realitanya masih terdapat hambatan akan kesadaran berpendidikan dari para siswa di Desa Gunungsirah.Hal ini pun yang memperlihatkan bahwa tidak selamanya suatu teori sesuai dengan realita. Karena terdapat banyak faktor yang memengaruhi.

Kuntum Khairani sebagai Kakak Asuh mengatakan bahwa melalui program Kelas Inspirasi dan Kakak Asuh tidak hanya adik asuh saja yang terinspirasi namun juga Kakak Asuh pun ikut terinspirasi. Dari program ini Kakak asuh pun menyadari ada hal-hal yang perlu diperbaiki termasuk terkait dengan masa depan.

“Dengan adanya program ini bisa membuat kita berkaca diri pula. Kita tidak hanya berjuang untuk memperbaiki pola pikir adik asuh, kita juga bisa memperbaiki pola pikir kita sendiri,” kesan Kuntum.

Tentunya sebagai Kakak asuh terdapat pula tantangan-tantangan yang dihadapi. Bagi Kuntum, mahasiswa Sastra Jerman, FIB Unpad ini tantangan yang ia peroleh datang dari dua adik asuhnya. Adik asuh yang pertama memiliki permasalahan belum lancar dalam membaca dan menulis padahal sudah duduk di bangku kelas 7 MTS.

Alhasil diperlukan kesabaran yang tinggi untuk membimbingnya. Selain itu, ada pula adik asuh yang sangat pemalu sehingga dibutuhkan pendekatan khusus agar muncul keterbukaan diri dan inisiatif untuk berbicara. Dengan begitu, akan lebih memudahkan bagi Kakak asuh untuk membantu dalam menyelesaikan permasalahan pada diri mereka.

“Harapan kami mereke memiliki pikiran yang jauh lebih terbuka dan wawasan mereka jauh lebih luas lagi. Yang saya lihat sekarang ini pemikiran mereka sangat sempit, misalnya sekadar lulus SMP saja, seolah-olah mereka tidak menyadari pentingnya pendidikan. Harapan dari saya setelah ada program ini mereka lebih memikirkan pendidikan itu penting buat kehidupan mereka. Lewat pendidikan kita bisa menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik dan dihargai,” tukas Kuntum.

 

Sumber : CNN

To Top