Literasi

Kemerdekaan Antara Das Sein dan Das Sollen

Oleh: Irfan Safari*

Kemerdekaan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah berasal dari kata merdeka adalah bebas dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya, merdeka itu adalah berdiri sendiri tidak terkena atau lepas dari tuntutan, tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; leluasa, bebas merdeka (dapat berbuat sekehendak hatinya). Sedangkan Kemerdekaan adalah keadaan (hal) berdiri sendiri (bebas, lepas, tidak terjajah lagi, dan sebagainya), kebebasan: adalah hak segala bangsa.

Menurut Tokoh pemikir pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara (2 Mei 1889-26 April 1959) mendefinisikan format manusia merdeka itu dalam kalimat: ”Manusia merdeka yaitu manusia yang hidupnya tidak tergantung pada orang lain, akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri.”

Kemerdekaan dalam terma sosial sering dilihat sebagai terbebasnya masyarakat dari kehidupan tertindas, kemiskinan, diskriminasi, eksploitasi, kesenjangan dan ketidakadilan menuju masyarakat yang diridhoi oleh Tuhan Yang Maha Esa. Sederhananya bebasnya dari Kemiskinan menuju kesejahteraan. Terwujudnya masyarakat yang berkeadilan, makmur, sejahtera dan sentosa sebagai cita-cita UUD 1945.

Kemerdekaan Menurut Islam, kemerdekaan yang sesungguhnya adalah bebas untuk bertindak karena manusia adalah makhluk yang diberikan otonomi dan kepercayaan sebagai khalifah fil ardh, pemimpin di bumi. Namun, kemerdekaan itu dibatasi dengan hukum-hukum dalam syariat Islam.

Dalam sejarah Islam, Nabi Muhammad Saw juga mengalami penjajahan dari bangsanya sendiri, yaitu kaum Kafir Quraisy. Beliau tidak bisa menyuarakan pikiran, ide-idenya, dan ajaran tentang Islam. Umat Rasulullah Saw disiksa tanpa ampun. Bahkan, Nabi Muhammad beserta dengan para pengikutnya diusir dari bumi kelahiran, bumi pertiwinya sendiri. Inilah masa-masa di mana Nabi Muhammad sebagai pembawa Islam dijajah tanpa ampun. Sampai suatu ketika, Rasulullah SAW, memutuskan untuk hijrah, pindah dari Mekah menuju Madinah. Di sana, beliau dari rombongannya disambut warga Madinah dan memiliki kekuatan baru, lengkap dengan persenjataan dan keterampilan perang.

Kemerdekaan itu ketika manusia bebas dari segala jenis-jenis berhala manusia yang membuat manusia semakin jauh dari Allah SWT dan menghalangi manusia untuk menyembah kepada Allah SWT baik berupa fisik maupun non fisik menuju penyembahan sesuatu yang Maha yakni Allah SWT.

Kemerdekaan adalah fitrah setiap manusia, entah kemerdekaan secara lahiriah ataukah kemerdekaan secara batiniah, setiap manusia yang hidup mengharapkan dan mendambakan kemerdekaan yang seutuhnya agar manusia tersebut dapat hidup dengan aman bahagia dan sentosa baik didunia maupun di akhirat. Sehingga kemerdekaan itu menjadi hal yang paling urgen untuk setiap individu-individu sehingga kemerdekaan itu menjadi hal yang mutlak adanya. Sehingga kemerdekaan selalu diusahakan oleh setiap manusia yang ingin merdeka seutuhnya dari hal-hal yang menjajah dirinya baik hal berupa fisik maupun non fisik.

Negara Kesatuan Republik Indonesia telah memperjuangkan kemerdekaan secara lahiriah untuk bebas dari penjajahan kaum kolonial entah itu penjajahan dari kolonial Belanda, Jepang, Portugis dan Inggris yang ingin menguasai tanah ibu pertiwi ini, tetapi hal itu semua sudahlah berlalu, kini Indonesia bebas dari penjajahan-penjajahan fisik yang seperti itu yang telah menguras tenaga, pikiran, jiwa dan raga bangsa Indonesia, tetapi itu semua biarlah menjadi catatan sejarah yang terjadi dimasa kelam dan akan selalu diingat oleh generasi bangsa Indonesia kedepan.

Jika kita menelusuri sejarah Bangsa Indonesia yang kini telah merdeka 71 tahun lamanya berarti Indonesia sudah cukup lama telah menikmati hasil kemerdekaan itu. Hal itu merupakan pencapaian yang cukup lama untuk konteks  Indonesia  untuk membawa kemerdekaan ini menuju bangsa Indonesia yang lebih sejahtera adil dan makmur sentosa. Tentunya kemerdekaan tersebut bukan lahir begitu saja tetapi diperoleh dari pengorbanan dan perjuangan bangsa Indonesia lewat para pejuang-pejuangnya, seluruh rakyat Indonesia telah bersama-sama berjuang keluar dari penjajahan kolonial.

Tetapi perlu di ingat bahwa perjuangan bangsa Indonesia tidak cukuplah sampai disitu tetapi masih juga bukan hanya berhenti sampai proses pembebasan dari penjajahan kolonial, Bangsa Indonesia belumlah dikatakan sebagai bangsa yang merdeka tetapi bangsa Indonesia adalah bangsa yang baru berada di “pintu” belum berada didalam kemerdekaan itu dan juga bangsa yang baru “menjadi” bangsa yang sedang belajar untuk merdeka, Kemerdekaan yang diperoleh pada tanggal 17 agustus 1945 adalah hanyalah awal bangsa Indonesia dalam mengenal yang namanya kemerdekaan. Tetapi kemerdekaan yang sesungguhnya belumlah kita nikmati dan temukan dalam ruang-ruang kehidupan bangsa Indonesia.

Sekilas seperti apa itu Das Sein berarti keadaan yang sebenarnya pada waktu sekarang, sedangkan Das Sollen berarti apa yang dicita-citakan; apa yang harus ada nanti, atau untuk singkatnya arti dari keduanya adalah “yang ada dan yang seharusnya”. Keduanya diambil dari bahasa Jerman. sederhananya antara kenyataan dan harapan. Bangsa Indonesia telah memperjuangkan kemerdekaan itu sehingga tibalah saatnya untuk dinikmati secara bersama-sama hasil kemerdekaan tersebut serta bersama-sama mengawal kemerdekaan itu demi mewujudkan kesejahteraan bersama. Banyaknya ide-ide besar yang digagas oleh oleh Founding Fathers Bangsa Indonesia yakni untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia yang sesungguhnya, baik kemerdekaan ekonomi, politik, pendidikan, sosial, kebudayaan dan kemerdekaan beragama yang telah dirumuskan dalam 5 (lima) Pilar Kebangsaan, yaitu: Pancasila, Undang-undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, Bhineka Tunggal Ika, dan Sumpah Pemuda

Kenyataannya bahwa Bangsa Indonesia hari ini belum mampu mewujudkan kemerdekaan yang sejati, realitasnya masih banyak persoalan yang belum diwujudkan ekonomi yang berdikari, politik yang berdikari, penegakkan hukum, pendidikan yang berkualitas, kebudayaan tidak dijaga dan dirawat. Belum lagi persoalan kemiskinan, kesenjangan sosial, diskriminasi, eksploitasi, intoleransi, konflik sosial dan konflik agama terus terjadi. Dari segala persoalan tersebut bangsa Indonesia harus mampu menemukan solusinya.

Bagaimana kemerdekaan yang seharusnya untuk kita wujudkan dalam tatanan kehidupan bernegara dan berbangsa? Pengisi kemerdekaan haruslah mampu memerdekakan akalnya, memerdekakan hati nuraninya, memerdekakan tindakannya, dan memerdekakan Ruhaninya dari ikatan, belenggu, penindasan, dan kekuasaan hawa nafsu rendah. Kemerdekaan dari komponen penting di dalam diri manusia tersebut akan mendorong suatu peleburan menjadi satu kesatuan utuh, mengandung kekuatan Tuhan yang sangat dahsyat. Seluruh alam semesta dan seisinya akan tunduk kepada manusia Ihsan. Inilah sesungguhnya Hakikat Kemerdekaan. Dengan demikian, di dalam mengisi kemerdekaan selalu dalam tuntunanNya dan keridhaanNya, dan pasti sejalan dengan visi dan misi para pejuang yang berjiwa Tauhid.

Apakah kemerdekaan tersebut sudah kita wujudkan dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara itu pertanyaan yang paling mendasar, pertanyaan seperti itu harus mampu dijawab oleh kita semua dalam bentuk tindakan. Dengan momentum kemerdekaan ini semoga negara Indonesia menjadi Negara yang sejahtera adil dan makmur, seperti di negeri Saba yang dipimpin oleh seorang Bilqis. Allah SWT memberikan gambaran dari masyarakat madani dengan firman-Nya dalam Q.S. Saba’ ayat 15:

Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan yang Maha Pengampun”.

Di ayat yang lain juga dijelaskan bahwa kita adalah umat terbaik dan sekaligus umat terakhir sebagaimana telah dijelaskan dalam Q.S. Ali Imran ayat 110

Artinya: Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.

Dari ayat diatas bahwa bangsa Indonesia harus menjadi umat terbaik diantara umat-umat yang lain yang senantiasa menjalankan segala tugas dan tanggungjjawabkan kita sebagai manusia. Semoga bangsa mampu mewujudkan itu semua demi kesejahteraan umat manusia dunia dan akhirat.

Irfan Safari. Pengurus Badko HMI (MPO) Sulambanusa.

To Top