Literasi

Literasi : Sesadar Sang Penyelam

Rifqa Tsania Khoirunnisaa, Siswi kelas X IPA SMAIT Insan Cendekia Madani

LITERASI, EDUNEWS.ID- Sorang pelancong bersiap menyelam di taman laut bunaken. Dia telah mempersiapkan semua peralatan terbaik sejak jauh-jauh hari. Mulai dari pakaian renang terbaik, kaki katak terbaik, lampu dahi terbaik, hingga tabung oksigen dengan kualitas nomor satu.

Lalu, byuuuurrrr ! dia masuk ke dalam air dan menuju kedalaman 10 meter. Disana ia teramat takjub atas semua ciptaan Allah yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Alangkah agungnya sang maha pencipta ! tetapi beberapa langkah di depannya tampaklah seorang bapak bercelana kolor berkaos oblong berenang riang. Hebat ! gumamnya. Ia mampu menyelam tanpa alat !

Beberapa saat kemudian, ia melanjutkan perjalanannya menuju ke dalam 20 meter. Pemandangannya memang tak seceria di atas, tetapi tampak mempesona dan berwibawa “Allahu Akbar !” ditiap lapis lautan Allah tunjukan kuasanya yang menakjubkan. Termasuk, itu dia ! si celana kolor kaos oblong yang melambaikan tangan ketika ia mengacungkan jempol, “luar biasa !” gumam penyelam kita. Dua puluh meter dan dia sanggup pulang balik ambil udara di permukaan.

Sekarang saatnya 30 meter ! dan rasa takjubnya kepada Allah bertambah syahdu. Juga kepada orang itu ! si celana kolor kaos oblong kini tegak dihadapannya ! di kedalaman 30 puluh meter. Tak sanggup menahan rasa kagum yang membuncah, ia beranikan bertanya sambil memeluk dan berteriak di telinganya. “Pak, bapak hebat sekali yah ! untuk sampai ke kedalaman ini saya harus pakai alat macam-macam yang harga sewanya mahal, Bapak kok bisa sampai ke kedalaman ini tanpa alat?! bagi saya bapak adalah penyelam terhebat di dunia !”.

Si bapak menggapai-gapai dan dengan tenaga penuh dia berteriak di telinga penyelam, namun terdengar lirih seperti sisa-sisa, “Gua tenggelam goblokk !!”

——- // ——–

Kesadaran menurut saya adalah hal pertama yang membedakan seorang penyelam dan seorang yang tenggelam. Jika seorang penyelam disebut “sadar”, maka yang tenggelam bisa disebut “lalai”.

Kesadaran membuat kita bisa mempersiapkan diri dan perangkat-perangkat untuk menyelami lautan kehidupan ini. Kesadaran adalah anugerah agar kita bisa memilih yang terbaik diantara alat-alat itu, seoptimal kemampuan kita. Kesadaran membuat mata kita terbuka, tubuh lincah bergerak kian kemari, dan semua indera peka untuk merasakan berbagai keindahan hidup. Ketika mereka yang tenggelam hanya menguruk, mengumpat, gelagapan, dan kembung kesakitan dalam lautan nikmat tuhan. Mengapa manusia bias beriman, beribadah, bersyukur, dan bersabar? Jawaban termudah adalah karena dia sadar. Tetapi, sudahkah kita menjalani hidup ini dengan sepenuhnya sadar?

Ya, seringkali kita terhijab dari pesan-pesan sejati, karena kita silau melihat pemandangan di seputaran, bukan aba-aba yang kita tangkap, tapi contoh yang tampak. Telinga kita dikalahkan oleh mata. Kita hidup dengan mengikuti trend dan mode. Bukannya trend dan mode itu selalu salah, tetapi ketidakmampuan kita mendengar pesan sejati dari illahi gara-gara perhatian kita yang berlebihan terhadap banjiran data dan informasi lain itulah yang berpotensi bahasa. Dan itu adalah suatu bentuk ketidaksadaran.

Tentu banyak lagi bentuk ketidaksadaran lagi. Diantara kita mungkin pernah menghadiri shalat berjamaah, ikut takbiratul ikhram bersama imam, dan tiba-tiba kita sadar , “ wah sudah salam toh?!” jasad kita teronggok berjengkang-jengking di masjid itu, tapi hati kita entah dimana. Juga dalam kulia, ketika kita baru kemarin baru kenalan dengan dosen di pertemuan pertama, dan kenyataannya esok hari sudah ujian semester! Ketidaksadaran ! parahnya jika ketidaksadaran itu cukup panjang , padahal hidup ini pendek , dan berujung pada kehadiran malaikat maut. Agaknya saat itu taka ada lagi yang sempat tersadar “lho kok jatah hidup saya sudah habis?’’

Lalu, apa yang harus kita lakukan? Sederhananya, sadarlah !

Di lautan nikmat, dua makhluk berpisah,

Yang satu menyelam, yang satu tenggelam

Kau tahu apa bedanya?

Visi kita di awal-awal perjuangan bermodal kesadaran. Sadar bahwa kita manusia akan menuntun kita memanfaatkan berjuta karunia Allah Ta’ala untuk mengabdi padaNya. Sadar bahwa kita seorang muslim memandu kita untuk menjadi rahmat bagi semesta alam. Sadar bahwa kita seorang mujahid. Memantapkan langkah kita untuk menjadi pengukir peradaban di masa depan. SADARLAH !

#Disadur dari buku “Jalan Cinta Para Pejuang – Salim A. Fillah”

 

Rifqa Tsania Khoirunnisaa, Siswi kelas X IPA SMAIT Insan Cendekia Madani

 

To Top