Literasi

Melirik Perpustakaan Publik

Oleh: Sukma Putra Permana*

Kemanakah tujuan Anda bersama keluarga, terutama anak-anak, pada hari libur atau saat waktu luang di sela-sela kesibukan selama sepekan? Bagi yang berkantong tebal, gampang saja mengatur jadwal dan tujuan wisata ke luar kota. Bagi yang pas-pasan, paling-paling hanya berwisata ke tempat-tempat menarik di sekitar kota tempat tinggal.

Bahkan ada yang hanya menghabiskan waktu di rumah saja, sambil menyaksikan berbagai program siaran televisi dari berbagai stasiun yang ada. Mudah, murah, dan meriah. Tinggal menekan tombol-tombol saluran televisi pada remote control yang ada dalam genggaman. Acara-acara untuk mengisi liburan disiarkan secara semarak oleh hampir seluruh stasiun televisi. Terlepas dari bermutu atau tidaknya program-program siaran yang ditampilkan.

Hanya itukah pilihan hiburan yang ada? Adakah alternatif lain yang lebih bermanfaat dan mendidik serta tidak sekadar hiburan semata? Selain wisata ke tempat-tempat yang sudah banyak diketahui awam, ada satu tempat yang dapat menjadi alternatif dan penuh manfaat. Tempat itu adalah Perpustakaan Publik yang ada di sekitar kota tempat tinggal kita.

Gudang Buku vs Lumbung Ilmu 

Mendengar kata-kata Perpustakaan Publik (Perpusblik), mulai terbayang dalam pikiran kita model Perpusblik yang selama ini dikelola oleh pemerintah daerah setempat atau yang lebih kita kenal dengan Perpustakaan Daerah (Perpusda). Perpusda yang tergambar dalam benak masyarakat awam selama ini adalah sebuah tempat penuh deretan buku usang tidak terawat, ketinggalan jaman, dan berdebu. Bila memang ada tempat semacam itu, mungkin lebih pantas disebut gudang buku, tempat menumpuk buku-buku bekas yang sudah jarang dipakai lagi. Benarkah demikian?

Cobalah untuk ‘melirik’ sekali lagi ke Perpusblik yang ada di sekitar kita. Beberapa Perpusblik yang ada sekarang keadaannya relatif lebih baik dibandingkan beberapa tahun lalu. Ada Perpusblik yang dikelola oleh lembaga-lembaga swasta atau komunitas. Ada juga satu-dua Perpusblik yang dikelola Pemerintah Daerah dengan kondisi yang cukup baik. Akan tetapi image yang dimiliki sebagian masyarakat adalah bahwa Perpusblik masih sekadar sebagai tempat menumpuk buku-buku. Pandangan semacam inilah yang seharusnya berusaha kita hilangkan.

Selain buku-buku, sedapat mungkin Perpusblik juga mengoleksi laporan penelitian, majalah, surat kabar, kliping, dan bentuk tertulis lainnya. Perlu ada juga koleksi peta, foto, rekaman dalam pita kaset, compact disc, slide, atau micro film. Beberapa Perpusblik sudah pula melengkapi pelayanannya dengan jaringan internet. Dengan demikian, Perpusblik dapat menjadi semacam lumbung ilmu, tempat menyimpan berbagai informasi bermanfaat yang menjadi rujukan orang banyak. Sayang, hingga saat ini peran lumbung ilmu itu belumlah maksimal karena kurangnya perhatian dari masyarakat.

Penyebab Kurangnya Perhatian

Setidaknya, ada empat faktor penyebab kurangnya perhatian masyarakat terhadap Perpusblik. Pertama, minat baca yang masih rendah karena belum begitu berkembangnya budaya membaca. Berdasarkan survei UNESCO minat baca masyarakat Indonesia baru 0,001 persen. Artinya, dalam seribu masyarakat hanya ada satu masyarakat yang memiliki minat baca (Gobekasi.pojoksatu.id/ Kamis, 19 Mei 2016). Masyarakat kita masih mengembangkan budaya mendengar radio dan menonton televisi yang kebanyakan hanya menampilkan hiburan. Program berita pun sekarang sifatnya lebih menghibur. Informasi yang disajikan dikemas sangat menarik, provokatif, dan sensasional. Jadi, tinggal duduk santai mendengarkan radio atau menonton televisi sambil menikmati makanan dan minuman kegemaran kita.

Kita tak dapat dengan santainya makan dan minum sambil membaca buku. Apalagi bila dilakukan di dalam perpustakaan. Koleksi yang kita baca berisiko menjadi kotor dan rusak. Sisa-sisa makanan dan minuman yang tercecer akan mengundang serangga seperti semut atau rayap sehingga sangat mungkin dapat merusak koleksi penting lainnya.

Solusi untuk mendorong terbentuknya budaya membaca, salah satunya dapat dimulai dari institusi pendidikan. Selain menyampaikan informasi secara searah di kelas, para pengajar dapat memulai paradigma baru dalam pendidikan dengan mengarahkan peserta didik untuk menelaah koleksi Perpusblik yang berhubungan dengan bidang studinya. Atau, bila di lingkungan kerja, atasan dapat mendorong karyawan untuk rajin membaca dan menulis artikel singkat sesuai bidang kerjanya. Sarankan mereka untuk mengunjungi Perpusblik guna mencari referensi yang dibutuhkan.

Kedua, terbatasnya jumlah koleksi yang disebabkan oleh minimnya anggaran. Padahal, Perpusblik harus memiliki sebanyak-banyaknya judul buku bermutu demi memenuhi kebutuhan masyarakat. Perpusblik harus selalu meningkatkan mutu dan jumlah koleksinya, agar tetap up to date. Minimnya anggaran disebabkan oleh karena minimnya kesadaran betapa sangat pentingnya Perpusblik sebagai pusat informasi yang mencerdaskan bangsa. Contohnya, nasib terlantar yang dialami oleh Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin karena tidak mendapat cukup perhatian dari pemerintah atau masyarakat, terutama dalam hal pendanaan untuk operasional pemeliharaan koleksi (kiniNEWS/ kini.co.id/ Jumat, 26 Agustus 2016).

Untuk mengatasinya, adakanlah kerjasama saling menguntungkan dengan sebanyak-banyaknya Perusahaan Penerbitan untuk mendapatkan buku-buku dengan diskon tertentu (bagaimana dengan UU No. 4 Th. 1990 tentang Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam?). Sebagai imbalannya, Perpusblik menyediakan tempat bagi acara-acara pameran buku, peluncuran buku, diskusi buku, atau book signing oleh penulis buku.

Ketiga, kualitas para pustakawan di Perpusblik secara umum masih kurang memadai. Mereka sering dianggap sebagai orang-orang yang bekerja ala kadarnya, kadang dengan mimik wajah datar dan kurang ramah. Keadaan seperti itu dapat membuat orang jadi enggan berkunjung.

Agar kesan tersebut hilang, pustakawan harus profesional dan memiliki kemampuan teknis serta intelektual memadai. Hendaknya ada semacam ‘insentif’ berkala atas prestasi kerja para ‘pejuang pustaka’ itu. Dengan demikian, akan muncul semangat kerja dalam melayani pengunjung. Pustakawan pun harus gemar membaca, sehingga dapat mengambil manfaat positif dari koleksi yang ada. Jadi, ketika ada pengunjung membutuhkan pertolongan untuk mencari koleksi tertentu, pustakawan dapat memberikan rekomendasinya.

Terakhir, kurangnya upaya Perpusblik untuk mendekatkan diri pada ‘konsumen’-nya. Pemanfaatan hubungan masyarakat untuk pemasaran (Marketing Public Relations = MPR) dapat menjadi upaya jalan keluarnya. Biaya pemanfaatan MPR untuk ‘memasarkan’ Perpusblik lebih efisien dibandingkan iklan, karena pesan-pesannya disampaikan dalam bentuk berita oleh pihak ketiga (Stasiun Radio, Televisi, Surat Kabar, atau Majalah). Hasilnya pun lebih efektif, terutama dalam menarik perhatian dan simpati ‘konsumen’. Perlu pula tetap dijalin hubungan baik dengan masyarakat, perusahaan penerbitan, media massa cetak, media elektronik, dan perpustakaan lain.

Selanjutnya, sebagai bagian dari MPR, Perpusblik harus ‘mendekati’ masyarakat sekitarnya melalui kegiatan sosial di lingkungannya (community relations), menerbitkan bulletin atau newsletter berkala, sering mengadakan lomba penulisan atau resensi buku dengan merangkul para penerbit, lembaga-lembaga pendidikan, dan komunitas-komunitas literasi.

Marilah kita upayakan agar Perpusblik yang kita miliki tidak kurang perhatian, sehingga hanya seperti gudang buku. Jangan jadikan Perpusblik semacam ‘tempat buangan’ bagi para pustakawan yang telah bekerja dengan dedikasi dari sebuah tempat yang pantas disebut sebagai lumbung ilmu. Setiap waktu luang atau hari libur bersama keluarga dapat kita isi dengan berkunjung ke perpustakaan-perpustakaan publik yang ada di sekitar kita. Akan ada hal-hal positif dan sekaligus juga wawasan baru yang kita peroleh dari Perpusblik.

Nah, dengan demikian, perubahan paradigma dalam menggali ilmu pun dapat kita mulai dari Perpusblik, agar kedangkalan intelektual dan kemiskinan informasi positif, yang bisa jadi turut mendukung terjadinya keterpurukan bangsa ini, dapat segera teratasi. Semoga.

Sukma Putra Permana. Peminat dunia literasi dan puisi, bergiat di Komunitas Belajar Menulis (KBM) Yogyakarta.

To Top