Literasi

Persatuan Sebagai Tujuan Pembangunan

Oleh: Cecep Jamiat*

OPINI, EDUNEWS.ID – Dirgahayu Republik Indonesia Selamat menginjakan umur yang ke 71, pada momen kemerdekaan ini penulis ingin seraya mengajak kepada pembaca yang arif mari sejenak kita menundukan kepala dan mengheningkan cipta seraya mendoakan para pahlawan kita yang telah berjuang membela bangsa ini sampai titik darah penghabisan semoga amal ibadah serta perjuanganya dapat bermanfat untuk masa depan Indonesia.

Kali ini penulisakan sedikit mengulas kembali tujuan kemerdekaan Indonesia yang btertuang di dalam Pembukaan UUD 1945 alenia 4 yaitu :

  1. Melindungi segenap bangsa indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia
  2. Memajukan kesehjahterakan umur
  3. Mencerdaskan kehidupan bangsa,dan
  4. Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial

Tujuan pertama terkait dengan persatuan bangsa indonesia, dan hanya dengan persatuan Indonesia-lah maka negara akan mampu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Ketika persatuan telah tercapai, maka hal tersebut menciptakan prakondisi bagi proses pembangunan yang bertujuan untuk mencapai ketiga tujuan kemerdekaan berikutnya.

Didasarkan padainterprestasi ini,maka tujuan nomer 2 merupakan landasan pelaksanaan pembangunan Nasional, yaitu untuk memajukan Kesehjahteraan umum.

Permasalahan muncul ketika interpretasi tujuan kemerdekaan tersebut dipersepsikan sebagai capaian yang berifat sequental (berurutan) dan bukan sebagai suatu hal yang perlu dibangun dan dijaga sebagai konsep yang berkesinambungan. Benar bahwa persatuan merupakan tujuan pertama Indonesia dan tanpa adanya persatuan, maka tujuan berikutnya tidak dapat dicapai.

Namun demikian perlu dicatat bahwa ketika persatuan telah tercapai,bukan berarti fokus kita hanya tercurah kepada ketiga tujuan lainya tanpa mempertimbangkan untuk menjaga keberlangsungan tujuan pertama tadi. Disinilah letakpotensi permasalahan ketika persatuan di Indonesia ini dianggap sebagai hal yang diterima begitu saja (taken for granted).

Permasalahan menjadi semaki serius jika persatuan Indonesia dianggap telah tercapai pada saat proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 17 agustus 1945,dan tidak perlu lagi dikwatirkan keberlangsungan persatuan tersebut  agar segenap elemen bangsa fokus kepencapaian tujuan 2, 3 dan 4.

Sedikit beralih kepengalaman internasional dimana berbagai negara menunjukan betapa sulitnya menjaga persatuan dan keutuhan suatu negara. India dan Pakistan terpecah menjadi dua negara justru ketikaperjuangan mereka berhasil memaksa inggris memerdekakan kedua negara yang dulunya adalah satu wilayah koloni yang sama.bahkan kemudian Bangladesh melepaskan diri dari Pakistan beberapa tahun setelah kemerdekaan Pakistan.

Hal serupa juga terjadidi negara tetangga kita yaitu malaysia, dimana singapura akhirnya memisahkan diri dari malaysia di awal dekade 1960-an. Diawal dekade 1990 – an Uni Soviet terpecah menjadi beberapa negara dan kemudian menandai berakhirnya perang dingin. Perpecahan, perang etnik dan bahkan Genosida terjadi di negara bekas Yugoslavia dipertengahan dekade 1990-an.

Pengalaman internasional diatas membuktikan betapa sulitnya mempertahankan persatuan bahkan Timor Leste pun ikut melepaskan dirinya dari tubuh NKRI. Maka dari itu pada moment kemerdekaan ini penulis mengajak kepada seluruh elemen masyarakat Indonesia, Pemerintah dan Anak muda pada khususnya untuk saling menjadi keutuhan bangsa dengan cara menanamkan nilai–nilai Nasionalisme kepada anak–anak bangsa melalui pendidikan nasionalisme  inilah Indonesia akan bisa memepertahankan persatuanya hingga menjadi negara adidaya seperti yang dicanangkan pada tahun 2025. Bukan hanya itu saja persatuan juga menjadi modal sebagai tujuan pembangunan karena dengan persatuanlah akan terciptanya tatanan masyarakat yang harmonis serta tidak miskin akan toleransi seperti semboyan bangsa Indonesia “Binneka Tuggal Ika”.  MERDEKA.

Cecep Jamiat. Mahasiswa Fisipol UMY.

To Top