Literasi

Tentang ‘Membajak’ Tuhan

Di dalam bisnis… hal ini kadangkala terbalik!
Seharusnya bisnis untuk mendukung pekerjaan Tuhan,
bukan pekerjaan Tuhan untuk mendukung bisnis
~Zig Ziglar

Oleh: Melki AS*

OPINI, EDUNEWS.ID – Sidang paripurna MPR 2016 kali ini berjalan dengan baik. Diikuti oleh anggota dewan serta menteri-menteri Negara DAN ada juga diplomat dari Negara lain. Akhir paripurna pun kemudian di tutup dengan doa yang lumayan panjang dari salah satu anggota dewan dari salah satu partai politik. Harapannya agar bangsa ini bisa lebih baik.

Tetapi ada yang sedikit mengganjal dari doa penutupan paripurna tersebut. Yaitu langsung menyinggung pemerintahan yang sedang ada sekarang ini. Memang tidak ada yang salah pada doanya. Tapi persoalananya adalah hal ini dilakukan oleh kader politik yang berseberangan dengan partai politik yang sedang memimpin negeri ini.

Presiden terpilih yang sedang menjalankan tugas sebagai kepala pemerintahan adalah dari partai PDIP. Dan pembaca doa dalam paripurna yang kontroversi ini adalah dari parta Gerindra. Padahal PDIP dan Gerindra ini adalah partai politik yang bersaing dalam pemilu sebelumnya. Karena semuanya mengusung pasangan presiden masing-masing. Dan dua partai yang pernah bersaing dari pemilu sebelumnya ini rupanya masih membonceng kekecewaaan mendalam pasca ditetapkannya pasangan yang menang dan pasangan yang kalah. Jadilah konten doa menyasar seolah menyalahkan kepemimpinan hari ini yang dianggap lemah dan tidak becus dalam mengurus Negara.

Netizen maupun masyarakat pun bereaksi dengan beragam dan bermacam-macam tanggapan. Ada yang menyebutkan bahwa wajar-wajar saja hanya karena itu sebatas doa yang lumrah. Dan ada juga yang menganggap ini adalah upaya penyerangan terhadap individu dan parpol yang masih terasa persaingannya sampai hari ini. Dan bagi parpol pemenang pemilu yang dianggap ‘khinat’ dalam doa yang dibacakan oleh parpol pesaingnya, sontak membuat kecaman dan tidak terima. Mereka menganggap ini adalah upaya politisasi doa yang tujuannya bukan saja untuk meminta kemurahan dari Tuhan, tetapi sengaja untuk menyerang lawan-lawan politiknya.

Pertanyaannya dari hal seperti ini adalah apakah masih etis (memimpin dan membaca doa) dilakukan oleh orang yang masih mendendam secara politik? Bukankah dalam berdoa itu harus melepaskan beban dan amarah serta meresapi setiap kata-kata yang tulus yang keluar dari mulut dan hati hanya semata untuk meminta kepada Tuhan.

Dan apakah boleh berdoa hanya menurut tuntutan dari kelompok sendiri dan mengabaikan kelompok lainnya? Inilah sebenarnya yang perlu kita cermati lagi sembari melihat titik terang dari kontroversi yang terlanjur tersiarkan dan dilihat oleh masyarakat dalam peristiwa ini.

Adanya upaya politisasi doa seperti yang terjadi sekarang ini sebenarnya masih terbilang anyar. Biasanya dalam suatu pertarungan politik dalam memperebutkan kekuasaan, cara yang kerap dipakai parpol, kader dan pendukunganya justru adalah mempolitisir kehidupan agama dan keyakinan. Yang muara dari hal tersebut itu kemudian adalah tindakan rasis.

Tapi meskipun Negara sudah mengingatkan agar meniadakan tindakan rasis seperti menyinggung unsur sara dan semacamnya dalam berpolitik, parpol kadang pada praktiknya justru mengumbar sara tersebut sebagai bahan jualan dalam menarik dukungan masyarakat. Dan tak jarang hal itu laris manis saat dilepaskan di musim kampanye atau saat menyerang lawan politik tertentu, kapanpun dan dimanapun.

Contoh yang paling nyata adalah diskredit terhadap pemimpin atau calon pemimpin yang non muslim. Padahal basis dasar Negara ini adalah hukum. Dan pemerintahan pun dinilai dari kinerjanya. Tapi kenapa masih saja ketika minoritas yang melakukan sesuatau atau upaya yang menuju kebaikan, tetap saja di busuk-busuk-kan seolah apa yang dikerjakannya tidaklah benar.

Hal seperti ini dialami gubernur Jakarta Basuki Cahaya Purnama atau biasa disapa Ahok. Dan ada juga kasus serupa yang terjadi sebelumnya ialah saat salah satu lurah di Jakarta di pimpin oleh Susan yang notabenenya adalah beragama kristiani. Lalu separah itukah bangsa kita ini menyikapi persoalan sara sehingga mengalahkan akal sehat dimana tujuan kehidupan dalam berbangsa dan bernegara ini adalah agar kita bisa hidup berdampingan sebagai makhluk sosial antara satu dengan yang lainnya tanpa adanya sekat-sekat perbedaan, termasuk kepentingan politik.

Seorang filsuf Jerman, Erich Fromm (1900) telah mengajarkan bahwa hal yang harus kita lakukan dalam hidup ini seharusnya adalah sesuatu yang bersifat biofili, atau sesuatu yang bernilai hidup. Bukan malah nekrofili, atau yang tidak bernilai hidup. Disini, dalam konteks politik, sesuatu yang dianggap bernilai hidup adalah dengan upaya membangun bangsa ini secara bersama-sama sehingga hasilnya pun bisa dinikmati secara bersama-sama pula.

Tetapi kalau seandainya yang terjadi adalah saling cederai antara kelompok satu dengan kelompok yang lainnya, justru hal seperti itu hanya akan menjauhkan bangsa ini dari cita-cita kemerdekaannya. Dan ini tentunya berpotensi merusak serta harus dihindari. Akan tetapi hal seperti itu terkadang tanpa disadari biasa saja terjadi. Ini yang kemudian menurut Fromm bahwa terkadang sesuatu yang ingin kita lakukan dasarnya baik (biofili), akan tetapi karena terbentur kepentingan dalam menjalankan visi misi kelompok golongan, sesuatu yang baik tersebut justru menghasilkan sesuatu yang buruk (nekrofili).

Seperti contoh doa yang jadi kontroversi saat ini. Spirit dasarnya mungkin lumrah dan sama seperti doa-doa lainnya. Tetapi kemudian hari dalam dinamika kekinian, dimana kekuasaan dibentuk oleh mesin politik, hal tersebut bisa jadi tersimpangkan tujuannya dari pengejawantahan sebagai pengaduan nasib kepada Tuhan, justru akhirnya bermuatan politis yang bisa saja menghancurkan kredibilitas individu atau kelompok lainnya.

Apalagi itu menyangkut tuduhan khianat yang disinggungkan spesial terhadap salah satu kelompok tertentu semata. Karena dalam dinamika kehidupan, kita juga harus pandai menempatakan posisi atau etika dalam setiap tindakan. Dan barangkali, di kontroversi doa ini, etikanya yang kurang tepat, baik orang yang memimpinnya atau tempat dimana doa itu di ucapkan atau diksi kata-katanya.

“Sementara kehidupan dicirikan dengan pertumbuhan dalam pola yang terstruktur dan fungsional, orang nekrofilis mencintai apapun yang tidak tumbuh, semua yang mekanis. Orang nekrofilis didorong oleh keinginan untuk mengubah sesuatu yang organik menjadi tidak organik, memandang kehidupan secara mekanis, seolah-olah semua makhluk hidup adalah benda mati…yang diperhitungkan adalah memori, bukan pengalaman, kepemilikan, bukan keberadaan. Orang nekrofilis hanya bisa berhubungan dengan objek (apakah itu setangkai bunga atau seseorang) jika ia memilikinya; oleh karena itu, ancaman bagi kepemilikannya berarti ancaman terhadap dirinya sendiri; jika ia kehilangan miliknya, ia kehilangan kontak dengan dunia….dia mencintai kendali, dan dengan tindakan mengendalikan ini dia membunuh kehidupan…. Penindasan (yang merupakan kendali yang berlebihan) bersifat nekrofilis ” Erich Fromm The Heart of Man.

Kembali ke persoalan kontroversi doa tadi, seharusnya hal ini memberikan pelajaran bagi kita. Terutama bagi partai politik. Adalah dikatakan sehat bagi perpolitikan kita saat ini setelah selesai masa kampanye dan pemilihan, kembali semuanya bersatu dan menjalankan roda pemerintahan secara bersama-sama. Tanpa membedakan lagi dirinya dari partai politik yang mana. Karena kepentingan yang harus dibahas kemudian hari adalah persoalan bersama sebagai perwakilan yang telah memenangkan hati rakyat.

Dimanapun posisi itu berada, apakah di legislatif atau eksekutif. Tidak lagi berkutat dengan kepentingan kelompok semata yang justru akan melemahkan usaha dalam memperjuangkan bangsa ini agar maju. Karena persoalan bangsa ini hanya bisa di selesaikan dengan bergandengan tangan secara bersama-sama. Bukan secara sendiri-sendiri atau masing-masing kelompok atau golongan. Dan bukankah pengalaman panjang sebagai bangsa terjajah sudah mengajarkan pada kita bahwa hanya dengan kebersamaan bangsa ini kemudian bisa meraih kemerdekaannya.

Hal seperti ini kiranya perlu kita refleksikan kembali. Terutama dalam dinamika berpolitik. Apalagi masyarakat hari ini makin cerdas. Mempertontonkan kebodohan di tengah masyarakat yang cerdas dewasa ini sangat mempertaruhkan sekali posisi dan jabatan dikemudian hari. Karena bukan tidak mungkin, masyarakat akan mengalihkan pilihannya kepada yang lainnya kalau ternyata orang yang dipilihhnya di periode kemarin justru jauh dari harapan.

Ditambah dengan keamburadulan yang mencampuradukkan kepentingan kelompok dan golongan dengan kehidupan dalam beragama dan berkeyakinan. Cukuplah kelompok ekstrem yang mengatasnamakan memperjuangkan dan membela agama, yang terbiasa melakukan tindak kekerasaan kepada siapa saja, yang kerap dipersoalkan keberadaan ormasnya, yang mencatut nama Tuhan. Jangan lagi diperparah dengan pencatutan atau pembajakan lainnya atas nama Tuhan demi kepentingan ekonomi politik individu atau kelompok tertentu.

Makanya penting untuk menempatkan sesuatu pada porsinya yang professional serta proporsional. Karena bisa saja sesuatu yang benar tetapi salah penempatannya, malah menjauhkan makna yang ingin disampaikan. Setelah hari ini harapannya agar kontroversi yang menyeret nama Tuhan serta keyakinan ini tidak terulang kembali. Apalagi dalam panggung politik.Partai politik dan para politisi seharusnya mampu berpolitik dengan elegan, tidak saling serang, tidak saling melecehkan atau saling menciderai sesama politisi.

Dan terutama tidak membawa nama-nama Tuhan dalam kepentingan yang tujuannya mencela atau memaki lawan politik. Karena kalau membawa nama Tuhan dalam upaya mencela atau menghina lawan politiknya, maka itu tidak ada ubahnya dengan membajak Tuhan itu sendiri.

Melki AS. Pegiat di Social Movement Institute (SMI)

To Top