Mauliah Mulkin

Anakku yang Enggan Mengaji Lagi

Mauliah Mulkin

Oleh: Mauliah Mulkin*

HORISON, EDUNEWS.ID – Kemarin saat berbelanja ke toko dekat rumah, saya berpapasan dengan salah seorang murid/santri TPA saya. Seorang anak laki-laki, kelas 6 SD. Sudah lama sekali ia tidak pernah ke masjid untuk mengaji, baik pagi maupun sore. Padahal sebelumnya ia termasuk anak yang rajin datang mengaji. Dengan berusaha menjaga intonasi agar tetap datar, saya bertanyalah padanya, kenapa tidak pernah lagi ke masjid? Ia terdiam sejenak sebelum mulai menjawab.
“Anu Ustazah, saya mengaji di rumah sekarang.” Ia terbata-bata berusaha menjawab.
“Oh begitu? Memangnya ada apa di masjid?” Sambil tersenyum, saya menunggu jawabannya. Dalam pikiran saya mungkin ia mendapat gangguan dari teman-temannya, atau ada masalah lain yang ia pendam dan tak berani ia utarakan kepada guru-gurunya.

Beberapa detik percakapan, saya tidak berhasil mengorek informasi penyebab ia sudah enggan lagi datang mengaji. Saya lalu menawarkannya untuk mengaji saja di rumah setiap malam selepas sholat magrib. Ia mengangguk setuju. Ia pun berlalu, sementara saya melanjutkan urusan membeli kebutuhan dapur di toko tetangga.

Esok harinya ketika sedang berbelanja di pasar saya bertemu dengan orangtua si anak. Ibunya mengaku kewalahan menghadapi anaknya ini. Sudah sering disuruh ke masjid untuk mengaji tapi tidak juga diindahkan. Ia nampak putus asa. “Saya harus bagaimana lagi, Ustazah?” Itu salah satu keluhannya. Saya juga bingung harus jawab apa saat itu, karena waktu sudah kasip menjelang magrib, saya pun permisi pulang. Menjawab persoalan seperti ini sebaiknya duduk bersama dalam rentang waktu yang cukup lama.

Adalah sebuah keganjilan jika orangtua tidak mengetahui apa yang telah terjadi pada anaknya. Itu artinya, ia benar-benar telah berjarak dengan si anak. Baik secara fisik maupun secara psikis. Karena orangtua yang dekat dengan anak akan otomatis memiliki kepekaan terhadap hal-hal yang menimpa buah hatinya. Anak yang tiba-tiba mengurung diri di kamar tanpa sebab, anak yang mendadak menjadi pendiam, atau sebaliknya. Semua bisa dikenali dengan mudah jika komunikasi orangtua-anak dekat dan terbuka. Apabila tidak dekat dan terbuka berarti ada sesuatu yang salah dalam hubungan mereka selama ini. Maka orangtua wajib mencari tahu sebabnya dan berusaha membenahinya.

Jika orangtua serius ingin memperbaiki hubungannya dengan anak, maka apa pun yang menimpa anak, orangtua akan mudah untuk mendeteksinya. Apabila yang terjadi sebaliknya, maka jadikanlah komunikasi dengan anak sebagai agenda terbesar untuk segera dibereskan. Karena banyak masalah bersumber dari ketidakberesan komunikasi antar dua belah pihak.

Anak yang tiba-tiba malas melanjutkan pelajaran mengajinya di masjid pasti ada sebabnya. Mari kita deteksi. Orangtua hendaknya mulai mengamati kebiasaannya sehari-hari. Apakah sepulang sekolah ia langsung pulang atau memilih berlama-lama di sekolah atau di luar rumah? Orangtua perlu peduli soal perubahan tersebut. Ada baiknya begitu mengetahui anak mulai tidak rutin pulang sesuai jadwal biasanya, maka orangtua perlu segera mencari tahu sebabnya. Menanyakannya pada anak yang bersangkutan. Jika jawabannya dapat dipercaya, maka jadikanlah itu sebagai pegangan. Mengapa anak perlu ditanyai soal ini? Agar anak tahu bahwa orangtua masih peduli pada kehidupannya. Masih perhatian padanya. Dan ia juga tahu orangtuanya masih memantau kegiatannya sehari-hari. Dan yang terpenting orangtua tetap menyayanginya apa pun yang terjadi padanya. Sehingga ia akan selalu menjaga segala tindak tanduknya walaupun sedang berada di luar rumah.

Apabila usaha menanyai anak tidak mendapatkan hasil, maka pilihan langkah lainnya orangtua mencari tahu kebiasaan maupun kegiatan anak selama di luar rumah. Tentu tanpa sepengetahuannya. Guru atau pihak sekolah bisa menjadi pihak yang membantu jika dimintai keterangan. Teman-teman sepermainannya, ataupun tempat les dan sejenisnya.

Setiap masalah mesti segera diberi porsi perhatian yang cukup dan cepat. Jika tidak, ia akan berkembang seperti bola es yang makin lama makin besar. Karena pada prinsipnya masalah haruslah diselesaikan, bukannya dibiarkan begitu saja. Anak yang mulai tidak peduli dengan kegiatan mengajinya sebenarnya memiliki masalah yang mendahuluinya. Hanya saja orangtua kurang peka sehigga terlewatkan begitu saja. Nanti ia menjadi perhatian saat terasa mulai mengganggu aktivitas sehari-hari. Padahal jika saja ia segera diselesaikan atau dicarikan solusinya saat masalah mulai muncul, tentu penanganannya tidak akan serepot ketika masalah tersebut menjadi sangat besar.

Percayalah pada adagium, selalulah mengusahakan dirimu lebih besar dari masalah itu sendiri, agar kita memiliki kemampuan mengatasi masalah tersebut. Maka selain sesegera mungkin mencari solusi atas setiap masalah yang menimpa, kita pun sebagai pribadi perlu terus-menerus menempa diri agar memiliki kapasitas yang memampukan untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang ada.

Mauliah Mulkin. Ibu Rumah Tangga. Pegiat Kelas Literasi Paradigma Institute.

To Top