Mauliah Mulkin

Harga Seorang Anak

Oleh: Mauliah Mulkin*

HORISON, EDUNEWS.ID – Sudah kali kedua pengantar air minum langganan kami menetapkan tarif yang berbeda, apabila anak-anak yang menerima air itu. Lebih mahal dari biasanya. Kenapa ya? Saya sendiri heran, karena beliau (seorang bapak paruh baya) sudah lama menjadi langganan kami. Kenapa saat anak kecil (kelas V SD) yang menerimanya, ia memperlakukannya dengan cara berbeda?

Pertanyaan seperti ini cukup mengusik, karena dalam pikiran saya, anak dan orang dewasa mestinya memiliki hak yang sama dalam perhatian dan perlakuan. Sebenarnya bukan hanya untuk kasus ini saja. Di beberapa tempat dan waktu yang berbeda saya sering menemukan keganjilan-keganjilan serupa.

Misalnya, saat anak antri membeli barang kebutuhan di warung. Meskipun ia yang pertama datang, jika di belakangnya menyusul orang dewasa maka sudah pasti si orang dewasa itulah yang akan dilayani terlebih dahulu. Mending jika hanya satu orang dewasa, bagaimana jika dua, tiga, dan seterusnya. Maka anak akan menjadi malas untuk dimintai tolong lagi berbelanja ke tempat itu. Kadang pernah ada kejadian anak di rumah pulang tanpa membawa apa-apa. Kelamaan antri katanya.

Setelah peristiwa antaran air itu, si bungsu bertanya, “Apakah perlakuan Umi juga akan seperti itu kalau menghadapi anak-anak?”

“Oh, tidak Nak. Justru Umi akan lebih berhati-hati jika menghadapi anak-anak, karena ia biasanya akan jujur dan berterus terang menceritakan  pengalamannya kepada orangtuanya. Alasan lainnya juga, apa bedanya orang dewasa dengan anak-anak?” Saya mencoba memancing kepeduliannya dan memberinya rasa aman bahwa Insya Allah orangtuanya akan selamanya sangat menghargai anak-anak.

Ironis memang, kita menuntut anak-anak menghargai orangtua, tapi di saat bersamaan justru memperlakukan mereka dengan sikap meremehkan bahkan kadang cenderung mengabaikannya. Kembali kita semua perlu mengetuk pintu kesadaran kita selama ini, bagaimana seharusnya memperlakukan mereka.

Hargai anak sejak dini

Mulai kapan sebaiknya kita menghargai anak? Tidak perlu  muluk-muluk, mulai saja saat sekarang ketika kesadaran mulai tumbuh dan bertunas. Pada saat anak memanggil kita apakah sesegera itu pula kita menjawabnya? Saat anak mulai berbicara kepada kita apakah kita mendengarkannya dengan sepenuh perhatian? Saat anak mengungkapkan uneg-unegnya apakah kita berempati atau justru spontan balik menyalahkannya? Dan saat anak sedang asyik bercerita, inginnya ngobrol dari hati ke hati dengan kita, gawai sudah kita singkirkan jauh-jauh? Hanya pembaca sendiri yang bisa menjawab sebagian kecil pertanyaan di atas.

Adalah sesuatu yang mustahil mengharapkan anak kecil lebih bijak daripada orang dewasa. Karena hukum alam telah membuktikan bahwa anak yang dibesarkan dengan kekerasan akan serta-merta mempraktikkan perilaku-perilaku kasar. Sebaliknya jika anak dibesarkan dengan kelemahlembutan maka ia akan menjadi pribadi yang juga lemah lembut. Lalu dari mana sebaiknya anak belajar? Tentu saja dari lingkungan terdekatnya, iyalah keluarganya, orangtuanya sendiri.

Cukuplah sekolah, tempat les, atau lembaga lainnya yang berada di luar jangkauan kita para orangtua bertindak kerap tak sejalan dengan keinginan kita. Kita tidak bisa seenaknya mengubah kebijakan yang berlaku di tempat-tempat tersebut, ingin ini dan itu sesuai kehendak diri. Akan tetapi keluarga yang berada di bawah kendali kita harusnya bisa kita pengaruhi. Karena bapak dan ibulah nahkoda dan awaknya. Penentu ke mana kapal hendak dilayarkan.

Anak yang tumbuh dalam atmosfer penghargaan akan belajar menghargai orang lain, minimal saudara-saudaranya, orangtuanya tentu saja, para kerabat, dan orang-orang yang berada di luar lingkungan rumah. Dan pada akhirnya mereka mampu menghargai diri sendiri, agama, bangsa, dan tanah airnya.

Dalam upaya menghargai dirinya ia tidak akan menjadi pribadi yang  hipokrit, mudah dibeli oleh siapa pun atau oleh kepentingan apa pun. Jika ia menghargai dirinya ia tentu hanya melakukan perbuatan-perbuatan baik dan mulia saja. Dan jika ia menghargai dirinya, ia akan kembali kepada Sang Penciptanya dalam kondisi terbaiknya.

Begitu pun jika ia menghargai agama, bangsa, dan negaranya. Ia akan menempatkan semuany dalam posisi yang semestinya. Tidak menjual agamanya, tidak mudah tunduk pada kepentingan bangsa lain, karena baginya, semua itu sangatlah berharga dan bernilai sangat tinggi.

Mauliah MulkinIbu Rumah Tangga. Bergiat di Kelas Literasi Paradigma Institute.

To Top