EDUNEWS

9 Alasan Mengapa Menjadi Guru itu Keren, Yuk Simak!

Ilustrasi Guru Mengajar

EDUNEWS.ID-Menjadi seorang guru adalah profesi yang mulia. sebab mereka bertugas mencerdaskan kehidupan bangsa. Sayangnya belum semua orang memiliki keinginan kuat menjadi guru. Padahal ada 9 alasan mengapa mengabdi menjadi guru itu menarik untuk dijadikan pilihan.

Mungkin memang ada orang yang tidak mau menjadi guru karena alasan kesejahteraan. Apalagi masih banyak guru honorer yang digaji tidak layak. Bagi guru honorer saat ini pemerintah tengah membuka rekrutmen guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) agar guru honorer bisa mendapat gaji setara dengan PNS.

Melansir laman Ruang Guru di ruangguru.com, Rabu (1/12/2021), factor yang membuat orang ‘takut’ menjadi guru mungkin karena membayangkan pekerjaan yang menumpuk ataupun tekanan siswa untuk mendapat nilai yang baik dalam ujian.

Meski begitu, jangan buru-buru mundur tidak mau jadi guru. Sebab masih banyak alternatif yang bisa dipilih untuk menekuni profesi ini. Bahkan, bisa dijalankan secara part time, seperti mengajar bimbel ataupun menjadi guru privat.

Apa saja sih keuntungan yang diperoleh dengan menjadi guru? Simak 9 alasan di bawah ini:

1. Meningkatkan wawasan dan semangat belajar
Saat mengajarkan sesuatu, kamu akan turut serta belajar. Dengan mengajar, semangat untuk terus belajar dalam diri akan semakin bertambah. Bonusnya, otak juga semakin terampil kemampuannya karena terus-menerus diasah dan pengetahuanmu semakin luas tentunya.

2. Pekerjaan tidak monoton
Kata siapa jadi guru itu pekerjaan yang monoton dan membosankan? Dibanding pegawai kantoran, guru justru memiliki pekerjaan yang lebih beragam serta dinamis. Tiap hari guru akan terlibat dengan berbagai macam aktivitas, karakter siswa yang unik, topik-topik yang berbeda, dan tantangan baru.

3. Punya peran penting bagi masa depan
“Today you lead the school, tomorrow your students will lead the world.”
Menjadi guru, maka menjadi sosok yang digugu dan ditiru, juga jadi panutan. Guru adalah pengganti orangtua siswa di sekolah. Selain ilmu, siswa juga akan mencontoh perilaku gurunya. Kamu jadi memiliki peran penting dalam membentuk perilaku siswa kedepannya. Tanpa disadari, sekecil apapun hal yang dibagikan, bisa berarti sangat besar dan menggiring pada kesuksesan.

4. Jam kerja fleksibel
Kehidupan pekerjaan seyogianya bisa seimbang dengan kehidupan keluarga. Pekerja kantoran biasanya sulit punya waktu luang di hari kerja. Di sini guru memiliki jam kerja yang lebih singkat. Kalau guru sekolah, menyesuaikan dengan jam sekolah. Apalagi kalau guru privat, bisa tentukan sendiri jamnya.

5. Libur lebih panjang
Selain itu, guru juga punya waktu libur lebih lama dibanding karyawan kantoran, mengikuti jadwal murid. Seperti libur semester dan kenaikan kelas, guru mempersiapkan materi dan kurikulum semester atau tahun ajaran baru. Di luar itu, guru masih bisa mengatur waktu untuk berlibur dan tenangkan pikiran.

6. Panjang sabar
“A teacher takes a hand, opens a mind, and touches a heart.”
Menghadapi berbagai macam karakter setiap harinya akan membuat guru menjadi pribadi yang lebih sabar sehingga terhindar dari stress.

7. Hiburan
Tingkah dan perkataan siswa (khususnya TK dan SD) yang masih polos-polos akan memancing gelak tawa. Siswa juga tidak akan segan mengungkapkan isi hati mereka yang biasanya dapat membuat hati terenyuh. Mereka tidak akan malu menunjukkan rasa sayang kepada guru.

8. Jadi bos
Saat pintu kelas ditutup dan pelajaran dimulai, kamu adalah bos di ruangan tersebut. Guru akan memutuskan apa yang hendak terjadi hari itu, topik yang akan diangkat, siapa yang mengerjakan soal, hingga ujian dadakan. Tidak banyak pekerjaan yang memungkinkanmu untuk bisa memberikan kebebasan demikian.

9. Menyalurkan kecintaan pada anak
Kamu suka dengan anak-anak? Menjadi guru, kamu bisa menyalurkan kecintaanmu dengan mendampingi, mengajarkan nilai akademis-non akademis, dan moral pada mereka. Dengan begitu, akan lebih santai menjalani pekerjaan karena kamu suka apa yang ada di dalamnya.

sumber : sindo.edu

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top
// Infinite Scroll $('.infinite-content').infinitescroll({ navSelector: ".nav-links", nextSelector: ".nav-links a:first", itemSelector: ".infinite-post", loading: { msgText: "Loading more posts...", finishedMsg: "Sorry, no more posts" }, errorCallback: function(){ $(".inf-more-but").css("display", "none") } }); $(window).unbind('.infscr'); $(".inf-more-but").click(function(){ $('.infinite-content').infinitescroll('retrieve'); return false; }); if ($('.nav-links a').length) { $('.inf-more-but').css('display','inline-block'); } else { $('.inf-more-but').css('display','none'); } // The slider being synced must be initialized first $('.post-gallery-bot').flexslider({ animation: "slide", controlNav: false, animationLoop: true, slideshow: false, itemWidth: 80, itemMargin: 10, asNavFor: '.post-gallery-top' }); $('.post-gallery-top').flexslider({ animation: "fade", controlNav: false, animationLoop: true, slideshow: false, prevText: "<", nextText: ">", sync: ".post-gallery-bot" }); });