Nasional

Ahli Epidemiolog Sebut Tak Ada Tanda Corona akan Berakhir di Indonesia

ilustrasi

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI), Hariadi Wibisono, menyebut berdasarkan hasil analisa epidemiologi belum ada tanda-tanda akhir dari pandemi virus corona (Covid-19) di Indonesia.

Hal tersebut dikatakan dalam surat yang ditujukan kepada Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto.

“Hasil analisa epidemiologi menunjukkan bahwa periode pandemi yang berlangsung lebih dari lima bulan ini belum ada tanda-tanda akan berakhir. Bahkan di dua minggu terakhir bulan Agustus ini kasus terus meningkat di beberapa wilayah,” kata Hariadi, mengutip dari keterangan tertulis yang diterima CNNIndonesia.com, Senin (17/8/2020).

PAEI menilai, kondisi ini terjadi sebab pengendalian pandemi Covid-19 di Indonesia belum berjalan efektif sesuai pedoman Kepmenkes Nomor HK.01.07/Menkes/413/2020 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Covid-19.

Hariadi merinci beberapa kendala yang membuat upaya pengendalian pandemi tidak berjalan efektif, salah satunya adalah perhitungan positivity rate yang tidak sesuai dengan metode pengendalian wabah.

Untuk mengejar tes 1/1000 penduduk sesuai standar Badan Kesehatan Dunia (WHO), pemerintah Indonesia hanya melakukan uji swab pada komunitas atau surveilans masyarakat. Padahal swab semestinya diprioritaskan untuk orang yang datang ke rumah sakit dan menjadi suspek atau kasus probable yang memiliki gejala mirip Covid-19.

“Diperlukan peningkatan jumlah suspek yang dites sesuai dengan metode surveilans yang komprehensif melalui contact tracing dan surveilans suspek atau probable untuk meningkatkan kinerja penemuan kasus secara tepat sasaran,” katanya.

Kemudian, Hariadi mengatakan indikator pelaporan kasus baru sejak ditemukan semestinya kurang dari 24 jam, dan kasus konfirmasi dirilis kurang dalam 48 jam. Dengan demikian, setidaknya 90 persen suspek diisolasi lebih cepat, sesuai pedoman Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Masalah selanjutnya adalah kasus kematian probable dan petugas kesehatan yang terinfeksi semestinya terhitung sebagai kasus kematian terkait Covid-19. Menurut Hriadi, ini menunjukkan pemerintah belum fokus pada pengendalian pandemi.

“Kematian probable dan petugas kesehatan yang terinfeksi belum menjadi perhatian dalam pengendalian ini,” tuturnya.

PAEI juga menilai dimensi utama pengendalian pandemi di Indonesia didasarkan pada standar kesehatan masyarakat di komunitas. Namun disiplin dan karantina tidak menjadi perhatian penuh dari kepala daerah.

“Maka dapat dipastikan kondisi [pandemi] seperti ini akan berlangsung lebih lama,” tuturnya.

Oleh karena itu, PAEI merekomendasikan beberapa hal kepada Kementerian Kesehatan. Hariadi mengatakan, Kemenkes sebaiknya segera melakukan evaluasi dan menentukan langkah selanjutnya agar pandemi dapat terkendali sesuai dengan standar epidemiologi.

Menurutnya, diperlukan peningkatan jumlah suspek yang dites, dengan melakukan penelusuran kontak, surveilans suspek, agar kinerja penemuan kasus dapat segera ditemukan.

“Kemenkes segera melakukan evaluasi komprehensif dan menentukan langkah-langkah selanjutnya agar pandemi ini dapat terkendali sesuai metodologi epidemiologi yang terstandar, kedua, diperlukan peningkatan jumlah suspek yang dites sesuai dengan metode surveilans yang komprehensif,” ucapnya.

Hariadi juga mengatakan, pihaknya akan mengerahkan pihaknya untuk mendukung pemerintah dalam menanggulangi pandemi ini agar segera berlalu.

“PAEI akan mengerahkan seluruh komponen di pusat dan daerah untuk mendukung pemerintah utamanya Kementerian Kesehatan dalam penanggulangan pandemi ini,” ujarnya.

cnn

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top