News

Menerka Kongres XXXIII HMI

Oleh: HMI Cabang Makassar dan HMI Cabang Yogyakarta*

Medio 2022 lalu, Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam mengadakan Pleno III dan Rapat Pimpinan Cabang di Manado, Sulawesi Utara. Pertemuan sekaligus palagan intelektual antara PB HMI dan Pimpinan HMI Cabang Se-Indonesia itu dilaksanakan sejak tanggal 5-10 Juni 2022.

Kegiatan tersebut mendiskusikan dan menetapkan beberapa hal penting. Termasuk jadwal pelaksanaan Kongres ke XXXIII dan penetapan Tuan Rumah Kongres ke XXXIII. Poin pertama, dibahas dalam agenda resolusi dinamika HMI, yakni pada komisi internal yang diikuti oleh beberapa pimpinan HMI Cabang dengan menyepakati pelaksanaan Kongres ke XXXIII paling lambat di bulan Oktober atau November 2022.

Alasan yang paling mendasar atas kesepakatan tersebut adalah, forum Kongres yang sudah tiba masanya untuk dilakukan seperti yang termaktub di dalam Konstitusi bagian Anggaran Rumah Tangga pasal 14 ayat c dan Pasal 23 ayat b tentang masa jabatan Pengurus Besar HMI. Jamak diketahui, Ketua Umum PB HMI Affandi Ismail terpilih dan dilantik pada Kongres XXXII di Kendari, 6 Maret 2020 dengan masa jabatan 1441-1443 H/2020-2022 M.

Poin selanjutnya, adalah memutuskan dan menetapkan HMI Cabang Aceh Timur sebagai Tuan Rumah Kongres XXXIII. Keputusan dan ketetapan ini disampaikan langsung oleh Ketua Umum PB HMI Affandi Ismail dalam penutupan acara Pleno III dan konferensi pers di media.

Sayangnya, keputusan dan ketetapan itu menuai polemik karena dianggap tidak sesuai dengan kriteria untuk menjadi Tuan Rumah Kongres yang telah disepakati pada Rapat Pimpinan Cabang. Walhasil, Cabang-Cabang yang berada di wilayah Badan Koordinasi HMI Jawa bagian Barat melayangkan surat resmi kepada PB HMI untuk meninjau ulang dan menganulir ketetapan HMI Cabang Aceh Timur sebagai Tuan Rumah Kongres, dan menetapkan ulang Tuan Rumah Kongres yang baru.

Namun, meski begitu, surat resmi tersebut tak kunjung mendapat respon organisasional (baca: balasan dalam bentuk surat) dari PB HMI. Selain itu, sejak pelaksanaan Pleno III dan Rapat Pimpinan Cabang di Manado awal Juni lalu, PB HMI belum pernah mengedarkan informasi valid dan resmi tentang pelaksanaan Kongres XXXIII.

Oleh karena itu, seperti HMI Cabang lainnya, HMI Cabang Makassar dan HMI Cabang Yogyakarta meminta kejelasan pelaksanaan kongres. Berdasarkan surat dari HMI Cabang Makassar dengan nomor 030/A/SEK/01/1444 dan surat dari HMI Cabang Yogyakarta dengan nomor 190/A/SEK/01/1444, kedua HMI Cabang tersebut meminta kejelasan pelaksanaan Kongres ke XXXIII kepada Ketua Umum atau Pengurus Besar HMI.

Adapun permintaan kejelasan/keberlanjutan Kongres ke XXXIII yang diajukan kepada PB HMI adalah sebagai berikut: a. Struktur Steering Committee Kongres XXXIII, b. Struktur Organizing Committee Kongres XXXIII, c. Struktur Majelis Pekerja Kongres XXXIII, dan d. Waktu pelaksanaan Kongres XXXIII

Selanjutnya, surat tersebut ditanggapi oleh PB HMI dengan surat nomor 446/A/SEK/01/1444 dan 447/A/SEK/01/1444 perihal undangan audiensi dan ditujukan kepada kedua HMI Cabang di atas. Audiensi tersebut dilangsungkan pada Rabu, 24 Agustus 2022 pukul 20.00 WIB secara daring. Dari unsur PB HMI, hanya dihadiri oleh Ketua Umum Affandi Ismail saja. Sedangkan di pihak lain, dihadiri langsung oleh Ketua Umum HMI Cabang Yogyakarta Isyraf Madjid, Ketua Umum HMI Cabang Makassar Ahmad Nurfajri Syahidallah, beserta kader HMI lainnya dari dua cabang tersebut.

Audiensi yang berlangsung sekitar tiga hingga empat jam itu dimoderatori oleh saudara Farras, kader HMI Cabang Yogyakarta. Kegiatan tersebut dimulai oleh Ketua Umum PB Affandi Ismail dengan menjawab empat poin tentang kejelasan/keberlanjutan Kongres XXXIII. Berikut saya tikkan jawaban-jawaban dari Ketua Umum PB HMI satu per satu, berdasarkan risalah yang dituliskan oleh HMI Cabang Makassar & HMI Cabang Yogyakarta.

Pertama, komposisi Steering Committee Kongres XXXIII telah disusun dengan personalia seperti ini: Ketua Komisi Intelektual, Kebudayaan dan Peradaban Islam PB HMI, Muhajir MA sebagai koordinatornya dan seluruh Ketua Badan Koordinasi HMI se-Indonesia sebagai anggotanya. Namun belum di-SK-kan.

Kedua, komposisi Majelis Pekerja Kongres XXXIII juga telah disusun dengan personalia seperti ini: Ketua Komisi Pendidikan dan Kebudayaan PB HMI, Fahrul Rizal sebagai koordinatornya dan seluruh Sekretaris Badan Koordinasi HMI se-Indonesia sebagai anggotanya. Namun belum juga di-SK-kan.

Ketiga, komposisi Organizing Committee juga bernasib sama dengan dua komposisi sebelumnya: belum di-SK-kan. Menurut pengakuan Ketua Umum PB HMI Affandi Ismail, ada beberapa pertimbangan hingga Surat Keputusan Organizing Committee belum diterbitkan. Sebut saja misalnya, beliau tidak dapat mengabaikan begitu saja surat yang dilayangkan oleh Cabang-Cabang di wilayah Badan Koordinasi HMI Jawa bagian Barat kepada PB HMI tentang Peninjauan Kembali penetapan Tuan Rumah Kongres. Serta, keputusan Rapat Harian Pengurus Besar HMI.

Keempat, waktu pelaksanaan Kongres XXXIII masih dalam tahap ikhtiar. Berdasarkan pengakuan Ketua Umum PB HMI, Kongres XXXIII dapat dilaksanakan di bulan November jika dikerjakan tanpa gejolak dan dengan semangat penuh. Meski begitu, Ketua Umum PB HMI Affandi Ismail sendiri mengakui bahwa waktu ideal dalam perjalanan melaksanakan kongres ialah 6 bulan. Klimaksnya, di penghujung audiensi, PB HMI menyebutkan beberapa kiat untuk merekonsoliasikan dan menyelesaikan dinamika serta gejolak terkait Kongres XXXIII, utamanya perihal lokasi yang sejauh ini belum menuai hilalnya.

Kiat pertama, Kongres ke XXXIII HMI tetap dilangsungkan di Aceh. Upaya yang bakal selalu dilakukan oleh PB HMI ialah dengan selalu melakukan evaluasi pada perkembangan yang terjadi. Sehingga, apabila tidak terdapat perkembangan maka PB HMI akan meninjau kembali ketetapan atas penentuan Aceh sebagai tuan rumah tersebut. Singkatnya, Kongres ke XXXIII di Aceh Timur akan di-SK-kan dan dilakukan evaluasi. Artinya, jika tak memenuhi standar evaluasi berdasarkan indikator yang diberikan, PB HMI akan mempertimbangkan memindahkan lokasi Kongres XXXIII dari Aceh ke bagian Indonesia lainnya.

Kiat kedua, pembukaan seremonial Kongres XXXIII diadakan di Jakarta dan forum Kongres XXXIII tetap dilakukan di Aceh. Ikhitiar ini dianggap sebagai solusi atas polemik yang terjadi. Dengan menghadirkan tindak keadilan, meski membutuhkan lebih banyak persiapan dan beragam aspek teknis lainnya. Selain itu, Ketua Umum PB HMI Affandi Ismail meminta kepercayaan penuh kepada HMI Cabang Se-Indonesia, bahwa PB HMI bisa menyelenggarakan Kongres XXXIII.

Akan tetapi, dan ini yang paling pamungkas: persoalan Kongres bukan hanya kisaran pergantian kepengurusan, suksesi kemimpinan, dan tetek bengek lainnya. Ada beragam hal yang tak boleh dinafikan: persoalan tunduk dan patuh terhadap Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, Pedoman-pedoman Pokok serta ketentuan-ketentuan lainnya.

Arkian, begitulah sejumput hasil audiensi PB HMI bersama HMI Cabang Makassar-HMI Cabang Yogyakarta. Tentu, dan sudah pasti, masih terdapat banyak tanda tanya bersifat penasaran menyoal pelaksanaan Kongres ke XXXIII HMI. Olehnya, mari menerka Kongres ke XXXIII HMI .

 

*Penulis. Ketua HMI Cabang Makassar dan Ketua HMI Cabang Yogyakarta

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top