Hukum

‘Nyanyian’ Novanto Dinilai Politis

 
 
JAKARTA, EDUNEWS.ID – Pengamat politik The Indonesian Public Institute (IPI) Karyono Wibowo mengatakan, nyanyian terdakwa kasus e-KTP Setya Novanto menyebut nama dua kader PDIP, Pramono Anung dan Puan Maharani dalam sidang e-KTP mengandung unsur politik.
Menurutnya, ada yang janggal dengan pernyataan Setnov mengingat saksi sebelumnya Made Oka Masagung, kolega Setnov tidak menyebut nama Pramono dan Puan. Karyono menilai, pernyataan Setnov tersebut politis, terlebih saat ini sedang memasuki tahun politik.
“Ada dua dimensi dalam ucapan Setya Novanto. Hipotesis saya ada dua dimensi dalam cuitan Novanto politik dan hukum,” kata Karyono dalam acara diskusi bertajuk Masih Percayakah Dengan Setnov? di Cikini, Jakarta Pusat, Senin (2/4/2018).
Karyono mengaku meragukan kesaksian Novanto lantaran kerap membuat berbagai skenario sebelum dijebloskan ke dalam tahanan. Salah satunya saat Novanto dicari-cari KPK mengalami kecelakaan saat menumpangi Fortuner B 1732 ZLO.
Di mana mobil tersebut naik trotoar lalu menghajar tiang listrik. Kemudian dilarikan ke RS Medika Permata Hijau dan dikabarkan luka parah. Namun, dari foto beredar tak terlihat parah. “Jika begitu masih percayakah dengan Setya Novanto? Tentu boleh percaya boleh tidak, karena otoritas ada di tangan anda,” sebutnya.
Sementara itu, Ketua Umum Indonesia Hebat Rubby mengatakan, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) harus melihat latar belakang Setnov untuk mengusut nyanyian tersebut. Jangan sampai, kata dia, KPK terjebak dalam skenario Setnov, justru menjadi alat politik.
“Saya apresiasi dengan kinerja KPK karena bisa menangkap Setnov, berani menangkap seorang koruptor ulung dan bandit. Ini apresiasi besar. Tapi jika ingin membukanya jangan berdasarkan asumsi saja. Harus berdasarkan alat bukti yang kuat minimal dua alat bukti,” kata dia.

To Top