Hukum

Sekjen PP Pemuda Muhammadiyah Bongkar Skenario Tim Ahok di Persidangan

JAKARTA — Sekretaris Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Pedri Kasman, menjelaskan pihak terdakwa dalam hal ini Ahok akan membangun opini yang menyalahkan saksi-saksi pelapor. Hal tersebut dilakukan karena Ahok dinilainya sudah tidak bisa mengelak atas kasus yang menyeretnya ke pengadilan.

Pedri menjelaskan, pihak terdakwa sudah tidak bisa mengelak lagi atas kasus tersebut sehingga mencari-cari cara untuk membangun opini di luar pokok perkara.

“Cara yang biasa dipakai adalah dengan mempreteli pribadi saksi, lalu diumbar ke publik. Seolah saksi itu harus bersih seperti malaikat,” ujarnya seperti dilansir dari republika.co.id, Senin (16/1/2017).

Pedri merasa aneh ketika dalam persidangan bukannya terfokus dalam masalah kasus penistaan. Tetapi malah merembet ke pribadi para pelapor.

“Padahal yang terdakwa adalah Ahok, kenapa saksi yang dipreteli,” ujarnya.

Lebih lanjut, kata dia, tim kuasa hukum terdakwa juga berputar-putar di masalah yang tidak terkait perkara seperti soal kepemimpinan, pilkada, program-program gubernur, dan lainnya.

“Bahkan bisa saja pertanyaan mereka menjerat saksi karena salah jawab. Lalu mereka jadikan itu opini politik di luar sidang,” katanya.

Saat ini, kasus penistaan agama oleh terdakwa Basuki Tjahaja Purnama masih dalam tahap mendengar keterangan saksi.

Pedri menduga Ahok dan tim kuasa hukum akan berputar-putar di masalah yang tidak terkait perkara seperti soal kepemimpinan, pemilihan kepala daerah (pilkada), program program gubernur, tafsir kata auliya dan lain lain.

“Bahkan bisa saja pertanyaan mereka menjerat saksi karena salah jawab. Lalu mereka jadikan itu opini politik di luar sidang,” ujar Sekretaris Pemuda Muhammadiyah Pedri Kasman, Senin (16/1).

Untuk itu, dia menyarankan jaksa penuntut umum (JPU) harus banyak berperan sebagai pengacara negara yang harus membuktikan dakwaannya supaya persidangan jadi fokus dan tidak bertele-tele. Majelis hakim, kata dia, juga mesti menghentikan pertanyaan yang tidak penting.

Pasalnya jaksa dan hakim-lah yang berkepentingan membuktikan perkara tersebut. Sementara saksi hanya orang yang dimintai keterangan. “Jaksa dan hakim harus berupaya keras menjaga kualitas persidangan ini dan menjauhkannya dari tendensi politik,” kata Pedri.

Berdasarkan pengalaman persidangan sebelumnya, Pedri menduga Ahok dan tim penasihat hukumnya akan lebih banyak  mengejar dan mempertanyakan hal-hal terkait dengan pribadi saksi-saksi dan bertendensi menghancurkan kredibilitas saksi-saksi.

Padahal saksi pelapor adalah korban atas penodaan agama yang diduga dilakukan Ahok, sebagaimana juga umat Muslim seluruh dunia yang merasa kitab sucinya dinodai. Pedri mengatakan saksi pelapor hanya menyampaikan apa yang didengar, dilihat dan dirasakan atas peristiwa tindak pidana penodaan agama.

“Dari pengalaman sidang sidang sebelumnya, kemungkinan Ahok dan pengacaranya tidak akan banyak membahas masalah yang jadi pokok pada kasusnya itu,” kata Sekretaris Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Pedri Kasman, Senin (16/1).

Padahal, kata Pedri, Ahok sudah mengakui bahwa dirinya memang mengatakan kalimat “..dibohongin pakai surah Al-Maidah 51, macam macam itu… dibodohin gitu ya …..”. Semuanya terekam pada pidatonya di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, di menit 24.20 hingga 24.33. Video berdurasi total 1 jam 48 menit 33 detik tersebut pun kini sudah jadi barang bukti di tangan majelis hakim.

“Itu ucapan dia langsung. Yang ada di video itu benar adalah dia. Jadi dia enggak mungkin lagi berkelit dari fakta itu. Fakta itu jelas dan terang sekali. Saksi-saksi pun sudah tentu akan bersaksi seputar itu,” kata Pedri.

Menurut dia, lantaran sudah tidak bisa mengelak, maka Ahok dan tim kuasa hukumnya diduga akan mencari cara untuk membangun opini di luar pokok perkara.

“Cara yang biasa dipakai adalah dengan mempreteli (menyudutkan) pribadi saksi, lalu diumbar ke publik. Seolah saksi itu harus bersih seperti malaikat. Padahal yang terdakwa adalah Ahok, kenapa saksi yang dipreteli,” ujarnya.

REPUBLIKA

To Top