Puisi

Puisi-puisi Winda Efanur

Indera yang bersaksi

Aku menyukai puisi selayak embun pagi

tetes embun basah yang menempel dedaunan

sebuah cerita dan doa, terekam panorama pagi

entah puisi ini gagal melukis syahdunya tafakur alam,

abjad demi abjad ku bariskan, menyalin kisah lain

kisah disaksikan matahari,

pasang indera saksi di awal pagi

 

Mata

Sekawanan bocah-bocah tak tertulis zaman.

Mereka mengawali pagi dengan dusta.

Sebongkah mimpi di malam lalu terlambat mengantarnya pada kisah keluarga cemara.

Tak ada ranting cemara berderak di awal pagi.

Mereka pun tak punya cemara itu, karena keluarga adalah kisah dongeng di malam lalu.

Pagi kenyataan terlampau pahit.

Syukurnya, Tuhan melimpahkan kasihNya, bocah-bocah itu membeli kebahagian di sela-sela kesibukan kota.

Cerita mereka tersusun rapi dari buliran keringat di lampu merah.

Dan langit jadi ibu mereka, menyelimuti mereka dari terik mentari zaman.

 

Telinga

Suara kegaduhan di tempat pembuangan sampah.

Tiga belas pengepul sampah mengais rezeki dari sisa-sisa.

Sisa tentang sampah daun, sisa plastik-plastik bekas hingga sisa-sisa pagi.

Pagi adalah waktu yang berulang, begitupun TPA tempat rezeki berulang.

Setiap pagi, para pengepul melakoni cerita yang sama.

Entah kapan cerita berlalu, sementara matahari kian bersembunyi di balik awan.

Menandakan awan mendung, dan hujan segera turun.

Para pengepul masih asyik memilah-milah nasib.

 

Hidung

Aku baru menulis puisi ini separuh.

Atau lebih tepatnya bukan puisi melainkan deretan kalimat berantakan.

Kali ini ketukan keyboardku terhenti pada kata ‘Pagi’, aku si penulis membau aroma-aroma waktu.

Pada pagi bermula sejuta harapan menambal sulam cerita berlubang.

 

Lidah

Aku mengecap kelelahan dari saudara-saudaraku.

Mereka yang berkeluh kesah di jalanan atau para pengepul di tempat pembuangan.

Terkadang selera makanku hilang ketika tayangan televisi meliput kisah mereka.

Televisi apik meramu kesengsaraan jadi tontonan.

 

Tangan dan Kaki

Apa yang aku genggam? Dimana kakiku berpinjak.

Kedua tangan ini masih melukis sketsa pagi. Kaki-kaki justru mengejar mentari.

Padahal pasang indera telah menautkan cerita pilu. Dan aku belum beranjak dari tulisan ini.

Kenapa aku seperti televisi, yang sibuk memotret kisah mereka dalam kotak puisi.

 

Cilacap, 19 Oktober 2016

 

Winda Efanur FS, Alumnus Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Penulis meyakini satu kalimat yang ditulis dengan jiwa bisa bermakna dan bermanfaat bagi orang lain. Kontak penulis, email : [email protected].

To Top