Sulhan Yusuf

Ayah dalam Tiga Tembang Kenangan

Oleh: Sulhan Yusuf*

PARADIGMA, EDUNEWS.ID – Tidak banyak yang tahu, apatah lagi merayakannya, bahwa setiap tanggal 12 November, adalah Hari Ayah Nasional. Tinimbang Hari Ibu, yang peringatanya lumayan menyita perhatian publik. Dan, amat banyak keluarga yang merayakannya, dengan cara mengistirahatkan ibu pada hari itu, dari rutinitas dapur, sumur dan kasur. Mungkin karena masyarakat kita sangat patriarkis, sehingga perlakuan terhadap ibu, di Hari Ibu itu, sejenis pembebasan dari ketertindasan kaum ayah. Karenanya, tak perlulah memberi penanda yang berlebihan, bila Hari Ayah tiba, toh para ayah sudah sangat superior dalam kesehariannya.

Saya sendiri selaku ayah dari empat orang anak, benar-benar lupa akan Hari Ayah. Nantilah seorang kawan di media sosial menguarkan ucapan selamat kepada para ayah, barulah saya ingat. Padahal, berbulan yang lalu, saya sudah menjadwalkan, bahwa setiba hari ayah itu, saya akan menulis, setidaknya, sejumput esai, yang waktu itu, saya sudah menancapkannya dalam dinding ingatan, dengan judul: Ayah dalam Tiga Tembang Kenangan.

Namun, sebelum saya menuliskannya, saya tetiba saja teringat pada suatu film, yang dibintangi oleh Robert De Niro, yang bertitel: Everybody’s Fine. Film ini, secara tak sengaja saya tonton di jaringan TV kabel, sewaktu saya piknik di kampung halaman, Bantaeng, beberapa tahun lalu. Kesan film itu amat mendalam, dan hingga kini masih memengaruhi saya, dalam kaitannya, tatkala berinteraksi dengan anak-anak saya. Tepat di Hari Ayah Nasional, saya memperingatinya dengan cara menonton kembali film itu, lewat jejaring fasilitas internet. Meski saya tonton ulang, rasa-rasanya, film itu tetap saja memberikan kesan baru.

Diceritakan dalam film itu, seorang lelaki yang mempunyai empat orang anak, yang telah ditinggal mati oleh isterinya. Setelah ia pensiun dari pekerjaannya, ia bermaksud mengundang semua anak-anaknya, yang telah bertebaran di beberapa tempat-negara, agar berkumpul kembali, guna merayakan purna tugasnya itu. Namun, tak satu pun dari anak-anaknya, yang punya kesempatan untuk memenuhi undangannya, waima sebelumnya, mereka semua telah mengiyakannya. Akhirnya, sang Ayah berinisiatif, untuk mengunjungi semua anak-anaknya, tanpa memberi kabar terlebih dahulu. Serupa kejutanlah yang ingin ditunaikan.

Sebenarnya, sang Ayah tahu betul, penyebab tidak bisanya, semua anak-anaknya berkumpul. Pun, ia tahu betul bahwa semua anaknya itu mengalami permasalahannya masing-masing. Mulai dari ketidakjelasan pekerjaan antara yang disampaikan padanya dengan realitas sesungguhnya, keretakan rumah tangga yang mengancam, hingga ketika salah seorang anaknya telah meninggal karena overdosis. Semuanya ia tahu, namun tetap saja ia menyembunyikannya. Bahkan, hingga akhir film, ketika ia mengunjungi pusara istrinya, ia masih mengatakan pada istrinya, bahwa semuanya baik-baik saja, everybody’s fine.

Lalu, kenangan saya tarik dari film ini, kemudian saya pindahkan ingatan pada masa sekolah dasar dahulu, tahun 70-an. Di tahun-tahun itu, di rumah saya, selain ayah dan ibu, ada tujuh orang saudara saya. Dan, ada satu orang kakak saya, yang memadai selera musiknya. Kala itu, ada beberapa group band yang berkibar benderanya, yang hingga kini telah melegenda. Group legendaris yang saya maksud adalah Koes Plus, Panbers dan The Mercy’s. Yang menarik dari ketiganya, karena masing-masing punya lagu yang berjudul Ayah, yang kesemuanya didekasikan buat para ayah, baik yang sudah ditinggal ayah, maupun yang sementara masih bersama ayah.

Baiklah, saya akan menyajikannya satu persatu. Saya mulai terlebih dahulu pada orang yang telah ditinggal ayah, dan ada kerinduan yang mendalam untuk bertemu. Simaklah tembang Ayah, yang digubah oleh Rinto Harahap, dan ditembangkan bersama group bandnya, The Mercy’s. Syairnya saya nukilkan:

Di mana, akan ku cari
Aku menangis seorang diri
Hatiku slalu ingin bertemu
Untukmu aku bernyayi

Untuk ayah tercinta
Aku ingin bernyanyi
Walau air mata
Di pipiku

Ayah dengarkanlah
Aku ingin berjumpa
Walau hanya dalam
Mimpi..

Lihatlah, hari berganti
Namun tiada seindah dulu
Datanglah, aku ingin bertemu
Untukmu, aku bernyanyi

Untuk ayah tercinta
Aku ingin bernyanyi
Walau air mata
Di pipiku

Ayah dengarkanlah
Aku ingin berjumpa
Walau hanya dalam
Mimpi..

Pun masih sama. Setali tiga uang, hadir pula Panbers dengan lagu Ayah, yang diciptakan oleh Benny Panjaitan, yang merupakan pentolan utamanya. Syairnya cukup menyentuh, seperti berikut ini:

Ayah
lembut wajahnya
terlukis di bingkai
wajah yang tenang
dan sayup
kulihat redup
syahdu merindu
ayahku
ayahku
waktu lampau
tetap kuingat
untuk kukenang

untuk kurasa
ini hanya wajah kayangan
terlukis dalam ingatan
hanyalah ini
pelepas rinduku
untuk ayahku
untuk ayahku
untuk ayahku
untuk ayahku

Tibalah saya di pamungkas, saya ajukan saja group band yang paling top, melegenda hingga kini, Koes Plus, dengan lagunya, Ayah, yang dikarang oleh Tonny Koeswoyo. Pada lagu ini, lebih banyak berbicara tentang kekaguman pada sosok ayah, yang menjadi teladan dalam melatai hidup dan kehidupan fana ini. Mari ikuti syair-syairnya:

Ayah… 
Betapa kuagungkan
Betapa kuharapkan

Ayah… 
Betapa kau berpesan
Betapa kau doa kan

Ayah
Betapa pengalaman
Dahulu dan sekarang

Ayah
Rambutmu t’lah memutih
Cermin suka dan sedih

Ayah… 
Ceritakan kembali
Riwayat yang indah waktu dahulu

Ayah… 
Ku takkan bosan mendengar
Riwayat waktu kau muda perkasa

Ayah… 
Kau dapat, merindukan
Kau dapat mengenangkan

Ayah… 
Waktu terus berlalu
Sampai ke anak cucu

Bagi saya, yang seorang lelaki, yang punya ayah walau telah berpulang, dan kini telah menjadi ayah pula, penabalan Hari Ayah Nasional, sungguh karunia yang tak terkira. Saya tidak merayakannya dengan aneka macam perayaan, cukup mereflesikan diri dengan menonton kembali film Everybody’s Fine, sembari memutar lagi tembang-tembang kenangan dari group band legendaris itu.

Sungguh, rasa-rasanya, saya terkenang kembali dengan sosok ayah yang telah menunggu saya di keabadian. Dan, di atas segalanya, berusaha menjadi seorang ayah, dari beberapa orang anak, yang ingin selalu menganggap anak-anaknya, baik-baik saja. Ayah…ingin bertemu walau hanya dalam mimpi… potret di bingkai hanyalah pelepas rinduku…. Ayah waktu terus berlalu sampai ke anak cucu.

Sulhan Yusuf. Koordinator Kelas Inspirasi Sulsel.

To Top