Syifa Amin

Kegalauan Peradaban

CAKRAWALA, EDUNEWS.ID – Dunia Islam tampaknya sedang mengalami apa yang disebut oleh Joseph Massad dalam bukuDesiring Arabs (2007) sebagai “civilizational anxiety,” kegalauan peradaban. Massad mendeskripsikan kegalauan peradaban tersebut sebagai situasi di mana bayangan ideal tentang periode keemasan peradaban Arab-Islam di masa Daulah Abbasiyah dan upaya untuk membangkitkannya kembali terbentur dengan kenyataan yang mengecewakan.

Mereka yang ingin membangkitkan zaman keemasan itu, yakni para sarjana pengusung ide nahah (kebangkitan) seperti Jurji Zaydan (w. 1914), mengira bahwa zaman tersebut memiliki karya-karya dari para sarjana yang menjunjung tinggi moralitas adiluhung.Tapi pada kenyataannya, mereka harus kecewa karena karya puisi cinta (ghazal) Abū Nuwas menabrak tabu dan norma dengan menampilkan diskripsi seksual yang eksplisit, bahkan terhadap sesame jenis, yang dianggap immoral.

Hal ini membuyarkan imajinasi dan upaya para pengusung ide nahdah tentang moralitas yang agung dari zaman keemasan tersebut. Kegelisahan dan kegalauan menyelimuti benak mereka karena harapan dan bayangan berjarak jauh dengan kenyataan yang ditemukan. Itulah kegalauan peradaban (civilizational anxiety).

Dunia Islam Yang Gelisah

Dalam konteks hari ini, negeri-negeri yang mayoritas berpenduduk muslim mempunyai idealism untuk menerjemahkan nilai-nilai Islam yang luhur dalam praktik bernegara dan bermasyarakat. Mereka juga mempunyai harapan untuk dapat member kontribusi positif bagi kemajuan dan perdamaian peradaban dunia.

Namun pada kenyataannya, banyak masalah baik internal maupun eksternal yang dihadapi oleh dunia Islam. Secara internal, negeri-negeri muslim yang awalnya bertujuan mentas dari kekuasaan otoritarian dan bertransformasi menjadi Negara demokrastis, ternyata malah terjerembab kembali pada otoritarianisme militer (i.e. Mesir), terlilit persoalan sektarianisme dan perpecahan internal (e.g. Afghanistan, Iraq, Syria, dan Libya), dan bahkan menjadi rahim bagi lahirnya kelompok teror yang menebar ketakutan ke seluruh penjuru dunia (e.g. ISIS).

Turki yang diharapkan menjadi model Negara demokratis Muslim dan menjembatani dunia Timur dan Barat terus-menerus berada di bawah bayang-bayangk udeta militer. Kegagalan kudeta militer 15-16 Juli 2016 bukannya menguatkan konsolidasi demokrasi sipil. Yang terjadi malah pemerintah sipil Presiden Erdogan mengadopsi gaya otoritarianisme militer dalam membasmi lawan-lawan politiknya, terutama Fethullah Gulen dengan gerakan Hizmet-nya.

Sementara itu, secara eksternal, dunia Islam juga di bawah bayang-bayang kendali kekuatan luar, baik secara militer, politik, maupun ekonomi. Negara-negara berpenduduk mayoritas muslim di Timur Tengah, Asia Selatan, dan Asia Tengah tidak dapat melepaskan diri dari ketergantungan terhadap Amerika dan Eropa dalam konteks stabilitas keamanan, politik, danekonomi di kawasannya.

Naik dan turunnya sebuah rezim selalu dikaitkan dengan dukungan atau intervensi negara-negara Barat. Beberapa Negara bahkan memberikan fasilitas pangkalan militer buat Amerika Serikat untuk menjaga keamanan kawasan. Negara-negara muslim di kawasan Asia Tenggara meskipun relative terbebas dari intervensi politik dan militer tapi tetap saja tidak bisa lepas dari ketergantungan ekonomi terhadap negara-negara besar, terutama Amerika dan Cina.

Tidak saja pada level negara. Di level masyarakat, umat Islam yang secara jumlah meningkat di negara-negara Barat juga mendapatkan perlakuan yang seringkali buruk dan diskriminatif. Tanpa pengetahuan yang akurat dan mendalam tentang Islam dan kaum muslim, sebagian masyarakat Barat menuding Islam sebagai agama kekerasan.

Sementara pemeluk agamanya diidentikkan dengan pikiran sempit, rasa kesukuan yang kuat, ketidakmampuan berintegrasi dengan masyarakat setempat, dan sumber masalah social akibat arus imigrasi dan pengungsi yang meningkat. Belum lagi aksi-aksi teror yang hamper selalu dilekatkan dengan pelaku atau teriakan yang identik dengan nama atau frase keislaman. Islamofobiapun merebak. Para politisi bahkan tidak segan-segan memakai retorika anti-Islam untuk mendapat suara politik atau liputan media.

Indonesia dan Peran Peradaban

Indonesia, yang relatif terbebas dari intervensi politik negara-negaraa didaya, sebenarnya mempunyai potensi untuk member kontribusi penting bagi peradaban dunia. Apalagi Indonesia secara umum tidak mengalami perpecahan internal separah negara-negara Timur Tengah dan tidak berada di bawah bayang-bayang sejarah kudeta militer atau kekuasaan militeristik seperti Turki.

Hanya saja, Indonesia mempunyai kegalauan peradabannya sendiri. Sebagai negara yang mayoritas muslim dan merupakan Negara muslim terbesar di dunia, Indonesia masih belum menunjukkan diri sebagai salah satu kekuatan peradaban dunia. Salah satu persoalan mendasar yang perlu diubah, hemat saya, adalah masalah mentalitas selain masalah kapasitas.

Meskipun Islam adalah agama yang dipeluk oleh mayoritas warga, kebanyakan kaum muslimin di Indonesia masih belum mempunyai kedewasaan mental yang cukup untuk dapat member kemaslahatan dan kemanfaatan bagi semua kelompok dan golongan. Sebagian di antaranya gemar memperalat agama baik untuk menentang atau mendukung salah satu pihak di sebuah pertandingan politik.

Sebagian yang lain lebih gemar menggunakan sentiman keagamaan dan etnik untuk menyerang pejabat public non-Muslim ketimbang kebijakan-kebijakanya. Pada saat yang bersamaan, ketika ada figure atau organisasi yang berlatar belakang keislaman dikritik, mereka merasa bahwa yang dikritik adalaha gamanya.Mereka tidak mampu membedakan dimensi agama yang ilahi dengan dimensi figur, organisasi, atau penafsiran keagamaan yang bersifat profan alias duniawi.

Agama lebih sering dipahami sebagai symbol dan identitas ketimbang sebagai elan dan spirit yang membawa manfaat dan kemaslahatan. Dalam sebuah perhelatan politik, misalnya, orang lebih terpana dengan calon yang pintar memakai symbol dan identitas keagamaan meskipun miskin karakter dan rekam jejak yang membawa maslahat.

Sementara calon yang tidak mempunyai dukungan organisasi atau genealogi keagamaan, dinilai kurang religious meski orang tersebut memiliki karakter dan rekam jejak yang bagus dalam member manfaat dan kemaslahatan buat orang banyak.

Saat sang calon yang dianggap religious gagal memenangkan pertarungan politik, sebagian orang lebih sering memakai penjelasan teori konspirasi untuk mengobati kekecewaannya dari pada mengevaluasi kekurangan dan kelemahan kinerja politiknya. Kekalahan sang calon kemudian dianggap kekalahan agama dan  para penganutnya. Bukan kekalahan seorang pemburu kuasa politik dalam sebuah kontestasi politik yang biasa.

Ketidakdewasaan mental seperti itu mempengaruhi performa dan kontribusi masyarakat dan pemimpin Muslim Indonesia bagi peradaban. Kaum muslimin lebih berorientasi pada siapa yang menang dan yang kalah, orang beragama apa yang memimpin dan orang beragama apa yang dipimpin, dari pada berorientasi pada maslahat apa yang bisa dihasilkan baik sebagai pemimpin maupun sebagai yang dipimpin.

Orientasi pada kontribusi dan maslahat bagi perbaikan masyarakat luput dari focus perhatian. Padahal konsep maslahat dalam Islam, sebagaimana dijelaskan lebih teoretis dan detil oleh para ʿulamā’ terdahulu seperti Imām al-Ḥaramayn al-Juwayni (w. 1085), Imām al-Ghazālī  (w. 1111), dan Abū Isḥāq al-Shatibi (w.1388), menempati posisi yang sangat penting.

Jika Islam lebih dipahami sebagai agama pembawa manfaat dan maslahat, bukan semata-mata symbol dan identitas, niscaya kontribusi umat Islam Indonesia untuk peradaban akan lebih banyak dan berarti. Seseorang akan dinilai religious dan Islami lebih berdasarkan kemaslahatan dan kontribusi manfaat yang dibuatnya, bukan semata-mata karena latar belakang etnik dan agamanya.

Pemimpin non-Muslim pun bisa di buat “Islami”, bukan dengan memaksanya untuk berpindah agama, tapi dengan memastikan bahwa kebijakan-kebijakan publiknya membawa manfaat dan kemaslahatan buat orang banyak. Ukuran Islami atau tidaknya sebuah kinerja diukur bukan saja berdasarkan dictum teks agama dan fatwa tapi juga pada sejauh mana tindakan dan kebijakan tersebut membawa manfaat, maslahat, dan kontribusi bagi peradaban sebuah bangsa.

Dengan demikian, energy umat Islam yang mayoritas di negeri ini bisa dikerahkan untuk menciptakan manfaat dan kemaslahatan manusia. Bukan malah dihabiskan untuk meratapi kekalahan simbolik dan politiki dentitas yang tiada henti. Pada ujungnya, mudah-mudahan, Indonesia sebagai Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia tidak saja dapat mengatasi kegalauan peradabannya, tapi juga mampu member sumbangan yang berarti bagi peradaban dunia.

Mohammad Syifa A. Widigdo. Pengelola Wonder Start Learning Center, Bogor.

To Top