DAERAH

Keluarga Korban Bencana Aceh Desak Kemenhub Subsidi Tiket Rembele, Harga Naik 500 %!

BENER MERIAH, EDUNEWS.ID – Penderitaan warga Aceh Tengah dan Bener Meriah semakin mendalam di tengah penetapan Status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi selama 14 hari oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah. Selain menghadapi krisis pangan dan BBM, serta ancaman korban hilang (dilaporkan mencapai puluhan jiwa), keluarga korban yang terpisah kini dihadapkan pada hambatan akses udara yang mencekik.

Di tengah lumpuhnya total akses darat, listrik, dan komunikasi di banyak desa yang terisolasi, Bandara Rembele menjadi satu-satunya jalur harapan. Namun, harapan itu kini nyaris pupus akibat lonjakan harga tiket yang tidak wajar, memicu protes keras agar Kementerian Perhubungan (Kemenhub) segera melakukan intervensi.

Tiket Normal Rp600 Ribu Dijual Rp4 Juta

Keluarga korban yang berusaha mendatangi kerabat atau mengevakuasi anggota keluarga mengungkapkan bahwa harga tiket pesawat ke dan dari Bandara Rembele telah melambung hingga lebih dari 500%.

“Harga tiket yang normalnya sekitar Rp600.000 kini dijual hingga Rp3.500.000 sampai Rp4.000.000. Kami sudah kehilangan harta benda, dan sekarang kami dihalangi bertemu keluarga hanya karena tidak mampu membayar harga yang dimainkan ini,” ujar seorang keluarga korban yang frustrasi di Jakarta, Rabu (3/11/2025).

Mereka menuding, lonjakan harga ini tidak hanya disebabkan oleh tingginya permintaan, tetapi juga oleh praktik percaloan yang memanfaatkan kesengsaraan warga. Tiket sulit didapatkan secara online dan hanya bisa diakses melalui perantara dengan tarif mark up ekstrem, yang bahkan dilaporkan mencapai Rp8.000.000 untuk rute tertentu.

Korban Terpisah dari Dukungan Moril

Tuntutan intervensi pemerintah ini tentu sangat mendesak. Data terkini menunjukkan krisis logistik dan ketersediaan BBM di wilayah terisolasi, sementara tim gabungan terus berupaya menyalurkan bantuan sembako dan logistik melalui jalur udara dan helikopter. Namun, bagi keluarga korban, kehadiran fisik anggota keluarga adalah dukungan moril yang tak ternilai.

“Kami mohon Kemenhub melihat ini sebagai masalah kemanusiaan, bukan bisnis. Jangan biarkan kami terisolasi ganda. Kami menuntut subsidi penuh atau tarif batas atas darurat untuk penerbangan ke Rembele, agar kami bisa segera satukan kembali keluarga kami yang terpisah dan terancam,” tegas perwakilan keluarga korban.

Mereka berharap pemerintah segera bertindak cepat untuk menertibkan praktik calo dan memastikan akses udara yang adil. Jika tidak, satu-satunya jalur penyelamat yang tersisa di tengah lumpuhnya Takengon dan Bener Meriah akan menjadi jalur  yang tidak terjangkau bagi mayoritas masyarakat yang terdampak.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kerjasama dan Mitra silakan menghubungi 085171117123

Kirim Berita

  • redaksi@edunews.id
  • redaksiedunews@gmail.com

ALAMAT

  • Branch Office : Gedung Graha Pena Lt 5 – Regus – 520 Jl. Urip Sumoharjo No. 20, Pampang, Makassar Sulawesi Selatan 90234
  • Head Office : Plaza Aminta Lt 5 – Blackvox – 504 Jl. TB Simatupang Kav. 10 RT.6/14 Pondok Pinang Kebayoran Lama, Jakarta Selatan 12310. Telepon : 0411 366 2154 – 0851-71117-123

 

To Top