MAKASSAR, EDUNEWS.ID – Musyawarah Daerah (Musda) XVI Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sulawesi Selatan yang digelar di Hotel Horison Makassar sejak 8 Desember 2025, memuncak menjadi kericuhan pada hari ini, Senin (9/12).
Insiden ini ditandai dengan aksi saling dorong, adu pukul antar massa pendukung, hingga perusakan fasilitas Musda seperti spanduk dan bendera.
Puncak kekerasan terjadi ketika Wakil Ketua Umum (Waketum) DPP KNPI, Dickson (Ludikson Siringoringo), yang tengah memimpin sidang, menjadi sasaran pengeroyokan. Insiden ini memaksa Dickson melaporkan kejadian tersebut ke Polrestabes Makassar dengan nomor LP/B/2354/XII/2025.
Dipicu Sengketa Pimpinan Sidang
Kericuhan ini diduga kuat berakar dari persaingan ketat antara dua kandidat utama Ketua DPD KNPI Sulsel, yaitu Fadel Muhammad Tauphan Ansar dan Vonny Ameliani Suardi, yang keduanya berasal dari kader Partai Gerindra.
Dickson, Waketum DPP KNPI yang menjadi korban pengeroyokan, menjelaskan awal mula situasi memanas. “Saya lagi memimpin sidang, minta SC (Steering Committee) turun dulu. Eh, saya malah dituduh mengusir,” ungkap Dickson.
Kekerasan tersebut menyebabkan sidang Musda tidak dapat dilanjutkan, dan belum ada hasil resmi pemilihan ketua DPD KNPI Sulsel hingga berita ini tayang.
DPP KNPI Ambil Alih Musda
Menanggapi situasi yang tidak terkendali dan berujung pada kekerasan, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) KNPI mengambil langkah tegas.
Melalui Sekretaris Jenderal Almanzo Bonara, DPP KNPI menyatakan telah mengambil alih seluruh proses Musda untuk memastikan pemilihan dapat dilanjutkan secara transparan dan kondusif. Almanzo mengakui bahwa dinamika semacam ini adalah bagian dari kultur kepemudaan lokal, namun menegaskan bahwa segala bentuk kekerasan tidak dapat dibenarkan dalam berorganisasi.
Proses pemilihan ketua DPD KNPI Sulsel terpaksa ditunda dan akan dilanjutkan di bawah pengawasan ketat DPP KNPI.
