DAERAH

Kritik Warga Terisolasi : Lambatnya Bantuan Pemerintah, Warga Takengon Terpaksa Cari Beras ke Lhokseumawe

TAKENGON, EDUNEWS.ID – Isolasi total Kabupaten Aceh Tengah pascabencana banjir bandang dan tanah longsor telah memicu krisis pangan serius, memaksa warga mengambil risiko besar.

Mereka harus menempuh perjalanan panjang dan penuh tantangan, termasuk berjalan kaki berjam-jam, demi mencari bahan kebutuhan pokok di Kota Lhokseumawe karena pasokan di Takengon telah habis dan bantuan dianggap lambat tiba.

Salah seorang warga Takengon, Roni (43), menceritakan keputusannya yang nekat bersama sang istri untuk mencari kebutuhan ke luar kota setelah rumahnya kehabisan bahan makanan.

“Sebelumnya kami satu hari sudah tidak masak di rumah, tidak ada apapun lagi. Akhirnya terpaksa nekat pergi belanja ke Lhokseumawe,” kata Roni, dikutip dari republika, Kamis (11/12/2025).

Akses Putus Total, Kota Terisolasi

Bencana hidrometeorologi telah melumpuhkan total ruas jalan Kereta Api, yang merupakan satu-satunya akses terdekat dari Takengon menuju Lhokseumawe. Banyak titik jalan amblas tergerus banjir dan tertimbun longsor, membuat Takengon sepenuhnya terisolasi dari jalur logistik.

Roni menggambarkan betapa sulitnya perjalanan tersebut. Ia harus menaiki sepeda motor hingga ke Kampung Buntul, Bener Meriah, sebelum harus berjalan kaki sejauh Buntul sampai ke Kampung Kem. Perjalanan pulang, dengan beban beras dan sembako, memakan waktu hingga lima jam lebih di jalur kaki. Perjalanan itu dilanjutkan dengan berganti-ganti ojek warga, dengan tarif yang mahal, sebelum akhirnya sampai di Lhokseumawe.

“Lambat Kali Pemerintah Ini Bergerak,” keluhnya.

Setibanya di Lhokseumawe, prioritas Roni adalah membeli kebutuhan vital, terutama beras dan BBM. Ia membeli lima sak beras (total 25 kg), satu tabung gas melon, Indomie, minyak goreng, dan 10 liter BBM jenis Pertalite. Keputusan ini diambil karena kekhawatiran bahwa krisis akan berlangsung lama.

Ayah empat anak ini mengaku terpaksa meninggalkan anak-anaknya dititipkan kepada tetangga di Takengon demi memastikan stok makanan keluarga aman. Keputusan ekstrem ini diambil lantaran kondisi di Takengon sudah mengalami krisis parah—beras dan BBM sudah tidak lagi dijual di pasar.

Roni tidak menutupi kekecewaannya terhadap respons penanganan bencana. Ia menyampaikan kritik terhadap penanganan darurat yang dinilai terlambat merespons kebutuhan mendesak warga yang terisolasi.

“Kalau kita cuma harap bantuan dari pemerintah gak bisa, tidak makan anak kita di rumah. Lambat kali pemerintah ini bergerak,” tegas Roni. (**)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kerjasama dan Mitra silakan menghubungi 085171117123

Kirim Berita

  • redaksi@edunews.id
  • redaksiedunews@gmail.com

ALAMAT

  • Branch Office : Gedung Graha Pena Lt 5 – Regus – 520 Jl. Urip Sumoharjo No. 20, Pampang, Makassar Sulawesi Selatan 90234
  • Head Office : Plaza Aminta Lt 5 – Blackvox – 504 Jl. TB Simatupang Kav. 10 RT.6/14 Pondok Pinang Kebayoran Lama, Jakarta Selatan 12310. Telepon : 0411 366 2154 – 0851-71117-123

 

To Top