Ekonomi

IHSG Dekati Level 9.100, Inilah Cara Mengatur Portofolio di Pucuk agar Tidak “Nyangkut”

JAKARTA,  EDUNEWS.ID– Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus menunjukkan taringnya di awal tahun 2026. Hingga penutupan pekan lalu, indeks kebanggaan tanah air ini bergerak stabil di zona hijau dan mulai menguji level psikologis baru di angka 9.100.

Bagi investor, kondisi All Time High (ATH) atau harga tertinggi sepanjang masa membawa dua rasa: euforia karena melihat portofolio menghijau, sekaligus cemas akan adanya potensi koreksi mendadak atau profit taking.

Lantas, bagaimana strategi yang tepat untuk mengatur portofolio saat pasar berada “di pucuk”? Redaksi edunews.id merangkum 4 langkah cerdas bagi Anda:

1. Lakukan Rebalancing Portofolio

Saat pasar naik tajam, proporsi aset Anda pasti berubah. Saham-saham di sektor komoditas seperti ANTM atau INCO mungkin kini mendominasi nilai portofolio Anda karena kenaikannya yang signifikan.

Inilah saatnya melakukan rebalancing. Jual sebagian kecil keuntungan (taking profit) pada saham yang sudah naik terlalu tinggi, dan alokasikan ke aset yang lebih stabil atau simpan dalam bentuk kas (cash) untuk berjaga-jaga jika terjadi diskon pasar.

2. Jangan Lupakan “Trailing Stop”

Berhenti menggunakan harapan, mulailah menggunakan sistem. Saat harga saham melonjak, jangan hanya menetapkan target profit, tetapi pasanglah Trailing Stop.

Jika Anda memiliki saham di harga Rp4.000 dan sekarang sudah di Rp4.200, pasanglah perintah jual otomatis jika harga turun ke Rp4.100. Dengan cara ini, Anda tetap bisa mengikuti tren kenaikan harga (let the profit run) tanpa takut kehilangan keuntungan yang sudah ada jika tiba-tiba pasar berbalik arah.

3. Hindari FOMO (Fear of Missing Out)

Kesalahan fatal investor saat IHSG mendekati 9.100 adalah mengejar harga saham yang sudah naik puluhan persen dalam waktu singkat. Secara psikologis, emosi manusia cenderung ingin “masuk” saat melihat orang lain profit besar.

Ingat prinsip dasar, beli saat merah, jual saat hijau. Jika sebuah saham sudah terbang terlalu jauh dari garis rata-ratanya (Moving Average), bersabarlah menunggu fase konsolidasi atau koreksi sehat sebelum memutuskan untuk masuk.

4. Perhatikan Sektor yang Masih Tertinggal (Laggards)

Saat IHSG mencapai puncak, biasanya saham-saham Blue Chip (lapis satu) sudah mahal. Investor cerdas mulai melirik sektor yang belum naik signifikan namun memiliki fundamental kuat. Pantau kembali sektor properti atau infrastruktur yang mungkin memiliki valuasi lebih murah dibandingkan sektor energi yang sudah reli panjang.

Kesimpulan Mencapai level 9.100 adalah prestasi besar bagi pasar modal Indonesia. Namun, sebagai investor yang cerdas, kita harus tetap dingin. Jangan biarkan euforia membutakan manajemen risiko Anda. Tetap disiplin pada trading plan dan pastikan portofolio Anda memiliki bantalan kas yang cukup.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kerjasama dan Mitra silakan menghubungi 085171117123

Kirim Berita

  • redaksi@edunews.id
  • redaksiedunews@gmail.com

ALAMAT

  • Branch Office : Gedung Graha Pena Lt 5 – Regus – 520 Jl. Urip Sumoharjo No. 20, Pampang, Makassar Sulawesi Selatan 90234
  • Head Office : Plaza Aminta Lt 5 – Blackvox – 504 Jl. TB Simatupang Kav. 10 RT.6/14 Pondok Pinang Kebayoran Lama, Jakarta Selatan 12310. Telepon : 0411 366 2154 – 0851-71117-123

 

To Top