JAKARTA, EDUNEWS.ID – Pasar modal Indonesia mengalami guncangan hebat pada perdagangan Rabu (28/1/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melorot tajam hingga mendekati ambang batas penghentian perdagangan sementara (trading halt) sebesar 8%.
Hingga penutupan sesi I, IHSG terpantau rontok 7,34% ke level 8.321,21. Bahkan, indeks sempat menyentuh titik terendahnya di level 8.269,14 atau anjlok 7,8%, hanya selisih tipis dari protokol darurat bursa.
Panik Massal di Lantai Bursa
Berdasarkan data RTI Business, tekanan jual masif melanda hampir seluruh sektor. Berikut adalah ringkasan performa pasar pada sesi I:
-
Saham Melemah: 764 saham (Dominasi zona merah)
-
Saham Menguat: Hanya 30 saham
-
Volume Transaksi: 42,81 miliar saham
-
Nilai Transaksi: Mencapai Rp30,05 triliun dalam setengah hari.
Pelemahan ini melengkapi tren negatif IHSG yang sudah terkoreksi sebesar 7,65% dalam sepekan terakhir.
Imbas Sentimen MSCI
Pemicu utama rontoknya indeks hari ini adalah pengumuman dari MSCI (Morgan Stanley Capital International) terkait perubahan metodologi perhitungan free float saham di Indonesia. Keputusan ini memicu kekhawatiran investor asing terhadap bobot saham Indonesia dalam portofolio global.
Menanggapi situasi darurat ini, Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, menyatakan bahwa pihak bursa tengah melakukan koordinasi intensif dengan KSEI, KPEI, dan OJK untuk berkomunikasi dengan pihak MSCI.
“Kami memahami pembobotan MSCI memiliki peran strategis bagi investor global. BEI berkomitmen memperkuat kredibilitas pasar dengan meningkatkan transparansi data free-float yang sudah kami rilis rutin sejak awal tahun ini,” ujar Kautsar dalam keterangan resminya.
Langkah Antisipasi Investor
Melihat kondisi indeks yang mendekati batas trading halt, para pelaku pasar diimbau untuk tetap tenang namun waspada. Penurunan tajam ini dipandang sebagai reaksi spontan pasar terhadap perubahan regulasi indeks global. Bursa Efek Indonesia berjanji akan terus memperkuat komunikasi demi menjaga kepercayaan pemangku kepentingan internasional. (*)
