JAKARTA, EDUNEWS.ID- Gedung Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menjadi saksi bersejarah atas keberhasilan Muhammad Arjul meraih gelar doktor. Dalam Sidang Promosi Ujian Terbuka yang digelar pada Jumat (1/8/2025), Muhammad Arjul berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Pengaruh Good University Governance, Kepemimpinan Transformasional, dan Teknologi Digital terhadap Internasionalisasi Perguruan Tinggi Muhammadiyah”.
Disertasi ini merupakan hasil riset mendalam yang menggabungkan tiga faktor utama—tata kelola universitas yang baik, kepemimpinan transformasional, dan pemanfaatan teknologi digital—dalam mendorong perguruan tinggi Muhammadiyah (PTM) menuju kancah global. Penelitian kuantitatif ini melibatkan responden dari berbagai kampus Muhammadiyah di Indonesia, menghasilkan model integratif yang relevan dan aplikatif.
Sidang promosi dipimpin oleh Prof. Dr. Jafar sebagai Ketua Dewan Penguji, dengan Prof. Dr. Suryadisebagai Sekretaris merangkap Ketua Program Studi S3 Manajemen Pendidikan UNJ. Bertindak sebagai promotor, Prof. Dr. Awaluddin Tjalla menyampaikan apresiasi tinggi atas dedikasi intelektual Muhammad Arjul.
“Apa yang ditulis oleh saudara Muhammad Arjul bukan sekadar studi akademik, tetapi juga refleksi strategis atas kebutuhan PTM untuk bertumbuh secara global dengan tetap berpijak pada nilai-nilai Islam dan semangat kolektif yang menjadi ruh Muhammadiyah,” ujar Prof. Awaluddin.
Selain itu, tim penguji internal dan eksternal, yang terdiri dari Prof. Dr. Neti Karnati, Prof. Dr. Aan Komariah, dan Dr. Matin, turut memberikan kontribusi penting dalam diskusi akademik yang mendalam.
Lulus dengan Predikat Cum Laude
Setelah melalui sesi tanya jawab yang kritis, Muhammad Arjul dinyatakan lulus dengan predikat cum laude. Keberhasilan ini tidak hanya menjadi prestasi pribadi, tetapi juga menambah daftar doktor baru dari UNJ yang siap berkontribusi pada kemajuan pendidikan nasional.
Dalam pernyataan penutupnya, Muhammad Arjul berharap disertasinya tidak hanya berhenti di ranah akademik, tetapi dapat menjadi inspirasi kebijakan dan praktik kelembagaan yang berdampak luas, terutama bagi PTM yang berupaya melakukan internasionalisasi berbasis nilai-nilai keislaman. Acara ini juga dihadiri oleh kolega akademisi dari berbagai negara, seperti Kamerun, Dubai, dan Malaysia, yang menunjukkan kolaborasi intelektual lintas negara. (**)
