BALIKPAPAN, EDUNEWS.ID – Aliansi Dosen ASN Seluruh Indonesia (ADAKSI) dengan nama Aliansi Dosen Akademik dan Kevokasian Seluruh Indonesia (ADAKSI) Wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara (KALTIMTARA) menyelenggarakan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) pada 22 November 2025 di Politeknik Negeri Balikpapan.
Kegiatan ini menjadi forum strategis bagi para dosen dari berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta di kawasan KALTIMTARA untuk merumuskan isu-isu penting terkait kesejahteraan, profesionalisme, serta penguatan organisasi.
Rakerwil dibuka oleh Wakil Direktur Bidang Akademik Politeknik Negeri Balikpapan, Prof. Dr. Tuatul Mahfud, M.Pd.
Dalam sambutannya, Prof. Tuatul menekankan pentingnya peran dosen sebagai ujung tombak peningkatan kualitas pendidikan tinggi. Beliau menyampaikan bahwa tantangan dunia pendidikan yang semakin kompleks menuntut dosen untuk terus meningkatkan kompetensi, inovasi pembelajaran, dan kontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
Untuk itu, keberadaan organisasi profesi seperti ADAKSI dinilai sangat penting sebagai wadah aspirasi dan konsolidasi para pendidik.
Salah satu isu utama yang dibahas dalam Rakerwil adalah dorongan penyesuaian tunjangan fungsional dosen, yang dikemukakan oleh Ketua DPW ADAKSI KALTIMTARA, Rahmat Bangun Giarto, S.T., M.Eng. Rahmat menjelaskan bahwa tunjangan fungsional dosen tidak pernah mengalami peningkatan sejak tahun 2007, atau hampir dua dekade. Kondisi stagnan tersebut dinilai tidak lagi sejalan dengan meningkatnya beban kerja dosen, baik dalam kegiatan tridarma maupun tuntutan administratif yang semakin besar.
Menurutnya, sudah saatnya pemerintah melakukan peninjauan ulang agar kesejahteraan dosen dapat meningkat sejalan dengan kebutuhan dan perkembangan zaman.
Dalam forum tersebut, peserta raker juga menyoroti pentingnya penyusunan indikator kinerja dosen secara lebih komprehensif. Untuk itu, Rakerwil merekomendasikan penyelenggaraan workshop perumusan kinerja prestasi dan tunjangan kinerja dosen. Workshop ini dianggap perlu untuk menjembatani potensi kesalahan persepsi (misinterpretasi) terkait penilaian kinerja maupun anggapan adanya double funding dalam pelaksanaan tridarma perguruan tinggi. Melalui perumusan yang lebih terarah, diharapkan dosen memiliki acuan yang jelas dalam menjalankan tugasnya, sekaligus meminimalkan potensi tumpang tindih pendanaan antarprogram.
Ketua Panitia Pelaksana Rakerwil ADAKSI KALTIMTARA, Mohamad Isram M. Ain, S.T., M.Sc., dalam laporannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang hadir mewakili berbagai kampus dari Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.
Ia menegaskan bahwa tingginya antusiasme peserta mencerminkan komitmen kuat para dosen dalam memperjuangkan isu-isu strategis profesi.
Menurutnya, partisipasi aktif tersebut merupakan modal penting bagi ADAKSI untuk terus menguatkan perannya sebagai organisasi yang memperjuangkan kepentingan dosen secara kolektif dan berkelanjutan.
Selain membahas kesejahteraan dosen, Rakerwil juga memfokuskan perhatian pada penguatan internal organisasi ADAKSI. Peserta rapat menilai pentingnya meningkatkan sosialisasi program kerja ADAKSI di tingkat kampus, termasuk memperluas jejaring kemitraan strategis.
Penguatan ini diharapkan dapat mendorong kolaborasi antarkampus dalam berbagai program peningkatan kapasitas dosen, riset kolaboratif, hingga kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
Selain itu, penguatan organisasi juga diperlukan untuk memastikan agenda-agenda strategis ADAKSI dapat disampaikan secara efektif kepada para pemangku kebijakan di tingkat daerah maupun nasional.
RAKERWIL turut dihadiri oleh dua perwakilan Dewan Pengurus Pusat (DPP) ADAKSI, yaitu Eliyah Acantha Manapa Sampetoding, M.Kom dan Annafi, M.Kom. Kehadiran kedua DPP memberikan nilai tambah dalam diskusi, khususnya terkait arah kebijakan nasional organisasi agar DPW menyesuaikan.
Keduanya memberikan arahan dan dukungan terhadap inisiatif DPW KALTIMTARA, sambil menekankan pentingnya sinergi antara DPP dan DPW dalam memperjuangkan isu kesejahteraan dan profesionalisme dosen.
Secara keseluruhan, RAKERWIL ADAKSI KALTIMTARA 2025 menghasilkan sejumlah rekomendasi penting yang mencerminkan komitmen organisasi untuk memperjuangkan hak dan kepentingan dosen di Indonesia.
Penyesuaian tunjangan fungsional, penyusunan kinerja dosen yang lebih komprehensif, dan penguatan organisasi menjadi tiga pilar utama yang disepakati dalam pertemuan tersebut.
Melalui konsolidasi yang kuat dan kerja sama yang berkelanjutan, ADAKSI KALTIMTARA optimistis dapat berkontribusi dalam menciptakan iklim pendidikan tinggi yang lebih berkualitas, profesional, dan berpihak pada pengembangan sumber daya manusia.
Dengan semangat kebersamaan dan kolaborasi, ADAKSI menegaskan perannya sebagai mitra strategis pemerintah dalam membangun pendidikan tinggi yang unggul dan berdaya saing, sekaligus menjadi suara kolektif para dosen dalam memperjuangkan kesejahteraan dan penguatan profesi di Indonesia (*/rls)
