OPINI, EDUNEWS.ID – Pagi tadi saya menelfon teman baik di Makassar. Saya bertanya apakah situasi ini memungkinkan tragedi 1998 terulang. Dia dengan santai dan tertawa kecil menjawab, jika TNI sudah mulai turun maka tragedi lengsernya Soharto bakal terjadi, tapi kini giliran menantunya, Prabowo.
Jawaban teman saya ini membuat saya berpikir keras, saya penasaran perihal ujung dari situasi sekarang. Namun yang pasti, jika kerusuhan tak terkendali maka negara akan chaos. Bahkan situasi chaosnya mungkin lebih besar dari era Soharto dulu.
Saya kemudian menutup telfon dan langsung menonton tv. Di pagi buta ternyata demonstran masih terus berdemo. Sekitar 10 menit saya di depan tv, saya bergegas menyelesaikan pekerjaan rumah. Kemudian duduk di depan laptop menuliskan imajinasi saya soal kondisi sekarang.
Kemarahan, pengrusakan, penjarahan, yang memakan korban jiwa adalah peristiwa nyata yang terus terdengar. Situasi makin memanas tetapi kehadiran negara nyaris sama sekali tak terlihat.
Setelah meninggalnya driver ojol disusul jatuhnya korban jiwa di sejumlah daerah, muncullah petanda negara sedang menuju puncak kedamaiannya. Negara seakan segera tamat oleh dan sebab ulah anggota dewan dan aparat keparat.
Saya lalu mengamati, informasi yang beredar di media sosial dan story WA, bahwa demo kali ini, nampaknya murni kemarahan masyarakat. Ada perasaan sulit menghentikan kemarahan ini, sebab telah tertahan sejak lama, terutama sejak raja jawa dan komplotannya, DPR dengan jogetnya, menginjak rakyat miskin, merusak alam serta tatanan hukum, dan selalu memilih kekerasan sebagai pilihan meredam suara kritik.
Rapuhnya kondisi pemerintahan, sangat jelas terlihat dengan terus melemahnya pergerakan institusi negara seperti Polri. Sebelum kemarahan rakyat meledak lebih keras, Kapolri meminta maaf dengan wajah lesuh atas perilaku anak buahnya. Secara psikologis, dia tak lagi berdaya, seakan menyerahkan sepenuhnya ke Prabowo, soal nasibnya sebagai pimpinan polisi dan nasib Polri ke depan. Lemahnya kekuatan polisi juga terlihat dengan cara mereka menghalau demonstran. Polisi tidak lagi berani satu lawan satu dengan warga. Si coklat yang dianggap sebagai pembunuh ini hanya bisa bertahan dari hantaman batu, kayu, dan bom molotov.
Sepertinya kudeta terhadap Prabowo semakin dekat. Pembantu Prabowo hanya diam kebingungan berbuat apa. Setelah polisi melemah, pintu kudeta lebih terbuka. Wajah-wajah anggota DPR juga lenyap. Mulut yang sering mengeluarkan kata busuk dan janji inkar hilang ditengah kemarahan publik. Bahkan ada yang menyebut, mereka kabur ke luar negeri. Dan lagi-lagi situasi ini, makin melemahkan posisi pemerintahan Prabowo.
Dibalik semua itu. Pikiran saya makin liar. Saya memikirkan satu sosok yang sebenarnya juga menjadi penyebab utama kerusakan negara ini. Dia adalah anak mantan Presiden, namanya Wapres Gibran. Ditengah posisi Prabowo diujung tanduk, kemana Gibran sebenarnya. Kenapa dia membisu. Sebagai wakil presiden tapi tidak tau berbuat apa. Apakah gibran sedang merenungkan perbuatan ayahnya, yang juga turut berkontribusi membuat chaos negara ini. Saya yakin sebenarnya Prabowo ingin mengajak Gibran berdiskusi, namun tak ada gunanya lagi. Apalagi Gibran tak bisa diajak berdiskusi dengan tema kehancuran sebuah bangsa. Saya berandai, jika kericuhan hari ini karena stok skincare di pasaran habis, barulah gibran berguna.
Dan ini poin paling mengerikan yang saya bayangkan saat menulis ini. Dengan situasi yang tak terkendali lagi, orang-orang dekat Prabowo bisa berbalik badan menjadi musuh. Siapa mereka, jawabannya adalah polisi kita. Dengan situasi tertekan, institusi polisi bisa saja menjadi pelaku utama kudeta Prabowo. Saya serius mengatakan ini sebab banyak peristiwa kudeta dilakukan kalangan aparat bersenjata dan kudeta semacam ini bisa melahap Prabowo dan makin membuat negara rusuh, sebab polisi akan berhadapan dengan TNI.
Jadi kini keputusan genting ada pada Prabowo sendiri. Apakah dia harus memenuhi tuntutan demontran atau mematikan karirnya sendiri. sebagai warga yang peduli, saya ada pilihan untuk presiden. Prabowo harus mundur sebelum negara chaos atau mendapat perlawanan sengit rakyat dan mantan anak buah, yang juga pada akhirnya membawa Prabowo bernasib sama dengan sang mertua.
Akhir kata, tulisan ini hanyalah imajinasi saya, tolong tidak dianggap serius.
