TAKENGON, EDUNEWS.ID — Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh, dilaporkan masih berada dalam kondisi terisolasi total dua pekan setelah dilanda bencana banjir besar, Minggu (7/12/2025). Rusaknya parah akses jalan darat utama menyebabkan kelangkaan drastis pada kebutuhan pokok, memicu kekhawatiran bencana kemanusiaan.
Kelangkaan barang-barang kebutuhan terlihat jelas di Takengon. Ibu rumah tangga, Ayu, mengungkapkan bahwa kelangkaan gas LPG dan padamnya listrik telah memaksa warga kembali ke metode tradisional.
“Gas enggak ada, listrik enggak ada. Ya sudah masak pakai kayu,” ujar Ayu.
BBM Langka, Jalanan Lengang
Selain LPG, pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) juga dilaporkan langka. Kondisi ini membuat jalanan di Takengon lengang dari kendaraan bermotor.
Haris, salah seorang warga, menyebut bahwa aktivitas sehari-hari kini dilakukan dengan berjalan kaki atau bersepeda. “Semua orang jalan kaki sekarang. Saya juga setiap malam jalan kaki ke kantor bupati, supaya bisa cas HP dan akses internet gratis,” katanya.
Banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah tersebut telah memutus total akses vital, termasuk Jalan Takengon-Bireuen dan jalan KKA tembusan Lhokseumawe, meninggalkan 98 desa di tujuh kecamatan dalam kondisi terisolasi.
Bupati Khawatirkan Bencana Kelaparan
Menyikapi kondisi kritis ini, Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, telah menghubungi Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya untuk menyampaikan permohonan bantuan darurat.
Haili Yoga secara tegas meminta pemerintah pusat agar segera turun tangan memperbaiki jalan KKA Takengon-Lhokseumawe. Ia menekankan bahwa jika perbaikan akses jalan tidak segera dilakukan, kondisi ini dikhawatirkan dapat berujung pada bencana kelaparan bagi masyarakat korban banjir.
“Kami sangat memohon hal ini bisa menjadi perhatian Bapak Presiden,” tegas Haili. (*)
