Nasional

Gus Kikin Kritik PBNU : Kini Lebih Dekat ke Penguasa Dibanding Yang Maha Kuasa

Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin

SURABAYA, EDUNEWS.ID  Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, melontarkan kritik tajam terhadap arah gerak Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) saat ini. Beliau menilai organisasi yang didirikan oleh kakek buyutnya tersebut tengah mengalami pergeseran prioritas yang mengkhawatirkan.

Dalam sebuah pernyataan yang terekam secara visual, Gus Kikin menyoroti fenomena NU yang dianggapnya terlalu masuk ke dalam lingkaran politik kekuasaan, sehingga perlahan menjauh dari esensi spiritualitasnya.

Sentilan Menohok untuk PBNU

Gus Kikin secara gamblang menyebut bahwa wajah NU saat ini lebih banyak diwarnai oleh kedekatan dengan birokrasi dan kekuasaan daripada memperkuat nilai-nilai ketuhanan dan pengabdian kepada umat di akar rumput.

“Nahdlatul Ulama kini seolah-olah lebih dekat kepada penguasa daripada kepada Yang Maha Kuasa,” tegas Gus Kikin, Rabu (17/12/2025).

Menurutnya, kritik ini merupakan bentuk keprihatinan mendalam sebagai bagian dari keluarga pendiri NU. Ia melihat ada kecenderungan organisasi terseret dalam kepentingan pragmatis yang berisiko mengikis kepercayaan warga Nahdliyin terhadap independensi para ulama.

Tuntutan Kembali ke Khittah

Dinamika internal PBNU dalam setahun terakhir, mulai dari pemberian izin pengelolaan tambang hingga posisi politik di tingkat nasional, terus menjadi sorotan publik. Gus Kikin menekankan bahwa NU seharusnya menjadi kompas moral bangsa, bukan bagian dari struktur kekuasaan.

Gus Kikin membedah sejumlah persoalan krusial yang dianggapnya tengah menggerogoti tubuh organisasi. Ia menyoroti kekhawatiran besar mengenai kehilangan kemandirian organisasi; menurutnya, ketergantungan yang terlalu kuat pada fasilitas dan restu dari pemerintah secara perlahan dapat menumpulkan daya kritis NU sebagai kontrol sosial. Jika NU terlalu nyaman dalam dekapan kekuasaan, dikhawatirkan suara organisasi tidak lagi objektif dalam membela kebenaran.

Kondisi ini, lanjut Gus Kikin, berimbas pada terabaikannya prioritas terhadap umat. Ia melihat adanya risiko di mana energi organisasi habis terkuras untuk urusan lobi-lobi di tingkat atas, sementara persoalan nyata yang dihadapi warga di akar rumput—seperti masalah sosial dan himpitan ekonomi—justru luput dari perhatian. Baginya, NU seharusnya hadir sebagai solusi bagi kesulitan warga, bukan sekadar menjadi penonton di menara gading kekuasaan.

Terakhir, Gus Kikin memberikan penekanan khusus pada aspek integritas ulama. Ia mengajak seluruh elemen untuk kembali memuliakan marwah para kiai dan ulama sebagai pembimbing spiritual yang teduh. Di mata Gus Kikin, posisi mulia seorang kiai adalah menjadi rujukan moral dan ruhani bagi umat, bukannya justru terseret arus dan terjebak dalam peran-peran sebagai aktor politik praktis yang rentan terhadap kepentingan sesaat.

Alarm bagi Warga Nahdliyin

Komentar pedas dari tokoh sentral di Jawa Timur ini diprediksi akan memicu diskusi hangat di internal organisasi. Gus Kikin mengajak seluruh elemen NU untuk melakukan refleksi total agar organisasi ini tetap tegak lurus pada cita-cita para pendiri (Khittah 1926).

Ia mengingatkan bahwa kekuatan utama NU terletak pada doa, keikhlasan, dan pelayanan kepada masyarakat, yang semuanya bermuara pada pengabdian kepada Tuhan, bukan kepada jabatan atau kursi kekuasaan. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kerjasama dan Mitra silakan menghubungi 085171117123

Kirim Berita

  • redaksi@edunews.id
  • redaksiedunews@gmail.com

ALAMAT

  • Branch Office : Gedung Graha Pena Lt 5 – Regus – 520 Jl. Urip Sumoharjo No. 20, Pampang, Makassar Sulawesi Selatan 90234
  • Head Office : Plaza Aminta Lt 5 – Blackvox – 504 Jl. TB Simatupang Kav. 10 RT.6/14 Pondok Pinang Kebayoran Lama, Jakarta Selatan 12310. Telepon : 0411 366 2154 – 0851-71117-123

 

To Top