ACEH, EDUNEWS.ID – Situasi kemanusiaan di Aceh pasca-banjir bandang dan tanah longsor memasuki babak kritis. Jeritan putus asa terdengar dari daerah-daerah terpencil yang terisolasi, di mana korban selamat menghadapi ancaman baru yang lebih mematikan, kelaparan.
Narasi dan ‘Kalau tidak ada makanan, kirimkan kami kain kafan,’ mulai viral dan menggema di media sosial, terutama Instagram (IG).
Kutipan tersebut menjadi trending setelah Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) mengungkapkan jika korban jiwa yang terus bertambah bukan lagi disebabkan oleh banjir, melainkan akibat kelaparan karena terputusnya pasokan logistik.
“Mereka meninggal bukan meninggal (karena) banjir, (tapi) mati kelaparan,” tegas Mualem di Aceh, Sabtu (6/12/2025).
Lima Kabupaten Terancam Kelaparan
Meskipun Mualem menyebut Aceh Tamiang, Aceh Timur, dan Aceh Utara sebagai yang paling urgen, informasi tambahan menunjukkan bahwa dua kabupaten di dataran tinggi, Aceh Tengah dan Bener Meriah, juga menghadapi isolasi parah.
Jalur darat menuju daerah-daerah ini terputus, dan krisis di dataran tinggi tersebut diperparah dengan laporan terputusnya listrik dan melonjaknya harga beras secara drastis. Isolasi ini menciptakan situasi force majeure yang mendesak intervensi logistik skala besar.
“Penyaluran bantuan ke pedalaman masih mengalami kendala karena aksesnya terputus, kadang masih banjir dan juga jembatan putus,” jelas Mualem.
Data terbaru dari BNPB per 6 Desember 2025 pukul 16.30 WIB mencatat bahwa jumlah korban meninggal dunia telah mencapai 353 jiwa, dengan 115 orang masih hilang.
Kritik Jalur Udara
Kelambatan ini menuai kritik pedas dari berbagai pihak yang mempertanyakan kesiapan quick response pemerintah pusat.
“Ini bukan lagi soal dana, ini soal waktu dan nyawa. Ketika akses darat lumpuh di lima kabupaten krusial—dari Tamiang hingga Bener Meriah—solusi tunggal dan cepat adalah pengerahan helikopter logistik berkapasitas besar,” ungkap salah satu pemerhati sosial di IG.
Menurutnya, tuntutan utama saat ini adalah agar otoritas segera memobilisasi aset udara militer secara masif dan terkoordinasi untuk menerjunkan bantuan pangan dan medis, sekaligus memulihkan jalur distribusi, sebelum jumlah korban jiwa terus bertambah karena kelaparan di wilayah yang terputus dari dunia luar (*)
