MAKASSAR, EDUNEWS.ID – Keputusan Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 RI, Soeharto, memicu reaksi keras dari kalangan mahasiswa di Makassar.
Pada hari Jumat (21/11/2025), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Adab dan Humaniora Komisariat UIN Alauddin Makassar menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor Gubernur Sulawesi Selatan.
Aksi yang dipimpin oleh Jenderal Lapangan Adhe Syafutra ini menuntut keras pembatalan keputusan tersebut, dengan alasan Soeharto identik dengan pelanggaran HAM berat dan cacat moral.
Otoritarianisme dan Pelanggaran HAM
Dalam orasinya, Adhe Syafutra menyoroti Putusan Presiden Nomor 116 Tahun 2025 tentang gelar, tanda jasa, dan tanda kehormatan, yang dinilai tidak sejalan dengan ketentuan normatif yang berlaku.
Menurut Adhe Syafutra, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 Pasal 24–26 menegaskan bahwa seorang Pahlawan Nasional harus memiliki integritas, moral, dan keteladanan.
Sementara itu, sosok Soeharto justru identik dengan praktik otoritarianisme, pelanggaran HAM berat, serta pembungkaman kebebasan sipil, yang banyak menyebabkan hilangnya nyawa.
“Secara objektif Soeharto lebih layak ditempatkan dalam kategori Aktor Pelanggaran HAM ketimbang figur yang layak diberikan gelar pahlawan,” tegas Adhe Syafutra.
Tuntut Cabut Keputusan hingga Berantas Mafia Tanah
Aksi yang dimulai sejak pukul 15.00 WITA ini berangkat dari Padepokan Bintang 9 Kampus UIN Alauddin Makassar sebelum bergerak menuju Kantor Gubernur Sulsel.
Selain menuntut pencabutan gelar Pahlawan Soeharto, massa aksi juga membawa sejumlah isu turunan yang mendesak pemerintah untuk bertindak, di antaranya adalah usut tuntas kriminalitas dan berantas mafia tanah di Kota Makassar, serta mendesak pengesahan Undang-Undang Perampasan Aset dan revisi kembali Undang-Undang KUHAP.
Aksi PMII ini bubar secara tertib pada pukul 17.00 WITA setelah aspirasi yang disampaikan langsung diterima oleh staf aspirasi Kantor Gubernur Sulawesi Selatan, yang berjanji akan menindaklanjuti tuntutan mahasiswa. Massa kemudian kembali ke titik evaluasi di Lapangan Hertasning. (*/rls)
?
