Oleh : Najamuddin Arfah
OPINI, EDUNEWS.ID – Karir politik Mohammad Ramdhan Pomanto atau akrab disapa ‘Danny’ di Sulawesi Selatan tak pernah sepi dari sorotan. Setelah sukses memimpin Kota Makassar selama dua periode dan pernah maju sebagai calon gubernur Sulsel 2024 lalu, kini namanya santer disebut-sebut sebagai salah satu kandidat kuat untuk memimpin PDIP Sulawesi Selatan (Sulsel). Lalu bagaimana peluang Danny Pomanto menduduki kursi Ketua DPD PDIP Sulsel ? Tulisan ini akan mengulas dan menimbang titik temu antara popularitas elektoral yang dimiliki oleh Danny dengan struktur hierarki dan tradisi loyalitas partai berlambang banteng moncong putih tersebut.
Tantangan Loyalitas dan Hierarki
Dalam tradisi PDIP, loyalitas terhadap ideologi partai dan riwayat perjuangan kader seringkali menjadi faktor penentu utama dalam menduduki posisi strategis, terutama Ketua DPD. Danny Pomanto adalah “pendatang baru” yang belum lama bergabung, sehingga ia perlu membuktikan loyalitas dan pemahamannya terhadap Marhaenisme dan garis kebijakan partai dalam waktu singkat. Statusnya sebagai ‘pendatang baru’ seringkali memicu resistensi dan sentimen negatif dari kader lama yang telah lama berjuang di akar rumput, sebuah kondisi yang berpotensi mengganggu soliditas dan konsolidasi partai di tingkat bawah.
Lebih jauh, penunjukan tokoh dari luar struktur tradisional ini berpotensi memicu gesekan dan friksi internaldengan figur-figur senior PDIP Sulsel. Para kader senior ini seringkali merasa lebih berhak menduduki posisi puncak berdasarkan lamanya pengabdian dan loyalitas, sehingga jika friksi ini tidak dikelola dengan sangat baik, dampaknya bisa berupa perpecahan atau kurangnya dukungan penuh dari Dewan Pimpinan Cabang (DPC) di berbagai daerah. Loyalitas ideologis Danny terhadap Marhaenisme dan garis komando PDIP tentu akan jadi ujian. DPP PDIP tentu dan mesti memastikan bahwa visi dan misi Danny selaras 100% dengan kebijakan pusat.
Terakhir, dengan tradisi kontrol DPP yang sangat ketat terhadap DPD, Danny harus mampu membuktikan bahwa ia tidak hanya memimpin dengan mengandalkan popularitasnya, tetapi juga patuh dan tunduk sepenuhnya pada sistem komando partai, sebuah adaptasi yang mungkin relatif baru baginya.
Popularitas dan Jejak Elektoral
Kekuatan utama Danny Pomanto terletak pada kapasitas elektoralnya yang teruji. Sebagai Wali Kota Makassar dua periode, ia memiliki basis massa yang loyal dan jaringan politik di ibu kota provinsi yang sangat strategis, ditambah dengan perolehan suara pada Pilgub Sulsel 2024 lalu tentu menarik bagi partai politik. Pengalaman memenangkan Pilkada dua periode, membuktikan kemampuannya mengelola kampanye dan meraih suara, modal utama yang selalu dicari oleh partai politik mana pun.
Daya tarik utamanya adalah kemampuannya menguasai kota metropolitan. Danny merupakan pemimpin Makassar yang telah teruji dalam dua kali kontestasi, menjadikan ibu kota Sulsel yang merupakan episentrum politik, ekonomi, dan populasi regional sebagai kunci kemenangan. Dengan menempatkan Danny di pucuk pimpinan DPD, PDIP secara efektif mengamankan basis suara dan jaringan di wilayah yang paling berpengaruh.
Lebih lanjut, Danny dikenal sebagai figur populis dan vote-getter sejati yang memiliki personal branding kuat dan mampu memobilisasi massa urban. Kemampuannya menarik suara, termasuk dari kalangan pemilih milenial dan non-tradisional, merupakan modal berharga yang sangat dibutuhkan PDIP untuk menambah kursi legislatif di DPRD Provinsi dan Kabupaten/Kota. Keuntungan ini diperkuat oleh pengalaman administrasi dan jaringan pemerintahannya.
Sebagai wali kota dua periode, ia memiliki pemahaman mendalam tentang tata kelola daerah dan jaringan luas di birokrasi serta kalangan pengusaha, yang akan mempermudah koordinasi kebijakan partai dengan implementasi program pemerintah daerah. Terakhir, jika nantinya Danny benar-benar menjadi ketua DPD, tentu turut membuka gerbong baru, membawa serta potensi pendukung dan simpatisan yang selama ini berada di luar lingkaran partai, memberikan tambahan energi dan perluasan basis dukungan di Sulsel.
Pada akhirnya, keputusan akhir siapa yang akan memimpin DPD PDIP Sulsel akan berada di tangan Ketua Umum Megawati Soekarnoputri dan DPP PDIP. Jika DPP PDIP memilih jalur elektoral, menunjuk Danny Pomanto adalah pilihan logis untuk memanfaat potensi kemenangan dan ekspansi suara di masa depan, khususnya menjelang Pilkada Serentak selanjutnya. Namun, jika DPP memilih jalur ideologis dan konsolidasi kader murni, peluang akan lebih besar bagi kader internal yang memiliki rekam jejak loyalitas panjang.
Bagi Danny Pomanto, kunci untuk memenangkan posisi ini adalah kemampuan menyeimbangkan popularitasnya dengan upaya konsolidasi internal, merangkul kader lama, dan membuktikan komitmen ideologisnya terhadap PDIP. Peluangnya besar, namun perjuangan di internal partai yang memiliki tradisi kuat ini tentu tidak akan mudah. Ia harus bisa mengubah label “pendatang baru” menjadi “pemimpin masa depan” PDIP Sulsel.
