JAKARTA, EDUNEWS.ID – Pasar modal Indonesia dikejutkan dengan aksi jual masif pada perdagangan hari ini, Rabu (4/3/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dilaporkan “ambruk” dengan koreksi sangat tajam, yakni turun 5,61% atau berkurang 445,43 poin ke posisi 7.494,34.
Penurunan drastis ini menjadi salah satu koreksi harian terdalam dalam beberapa tahun terakhir, memicu kekhawatiran di kalangan investor domestik maupun asing.
Efek Domino Eskalasi Timur Tengah
Kejatuhan IHSG hari ini tidak lepas dari faktor geopolitik global yang kian mencekam. Eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS)-Israel, serta ancaman penutupan Selat Hormuz, menjadi pemicu utama kepanikan pasar (panic selling).
Ketidakpastian pasokan energi dunia membuat investor cenderung menarik dana dari aset berisiko (saham) dan beralih ke aset aman (safe haven) seperti emas atau dolar AS.
“Pasar sedang merespons risiko ketahanan energi. Penurunan ini mencerminkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi inflasi tinggi akibat kenaikan harga minyak mentah dunia,” ujar salah satu analis pasar modal kepada edunews.id.
Sektor Energi dan Perbankan Tertekan
Hampir seluruh sektor di Bursa Efek Indonesia (BEI) mendarat di zona merah. Saham-saham blue chip di sektor perbankan dan infrastruktur turut terseret arus pelemahan. Investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) yang cukup signifikan sepanjang jam perdagangan.
Kondisi ini semakin diperberat dengan sentimen dalam negeri mengenai tipisnya cadangan minyak nasional Indonesia yang hanya bertahan 20 hari, menambah beban psikologis terhadap stabilitas ekonomi makro.
Apa yang Harus Dilakukan Investor?
Bagi para pelaku pasar, penurunan sebesar 5,61 % dalam satu hari adalah sinyal waspada tinggi. Secara teknikal, IHSG telah menembus beberapa level support psikologis penting.
Redaksi edunews.id merangkum beberapa catatan penting bagi investor ritel:
-
Wait and See: Di tengah volatilitas yang sangat tinggi, langkah menunggu kepastian kebijakan pemerintah terkait energi adalah pilihan bijak.
-
Diversifikasi Portofolio: Mengurangi paparan pada saham yang sangat sensitif terhadap harga minyak dan kurs rupiah.
-
Cermati Fundamental: Penurunan tajam seringkali menyisakan saham-saham berfundamental bagus di harga yang “diskon”, namun tetap perhatikan manajemen risiko.
Hingga berita ini diturunkan, otoritas bursa masih memantau pergerakan indeks. Publik kini menanti langkah antisipasi dari otoritas jasa keuangan dan pemerintah untuk meredam gejolak yang lebih dalam di pasar keuangan nasional. (*)
