DAERAH

Tahlilan 40 Hari Kepergian Ayahanda Djusman AR Dihadiri Aparat Penegak Hukum

SOPPENG, EDUNEWS.ID – Tahlilan 40 Hari Kepergian H Abdul Rauf A Hamzah Petta Watan Dg Parani yang merupakan ayahanda dari Djusman AR dihadiri aparat penegak Hukum, tokoh publik dan keluarga besar.

Hadir dalam tahlillan tersebut. Selain keluarga Dekat diantaranya Andi Abdul Azis Sapada, Hj Fatmawati Adam, Hj Rachmawati Sahabuddin, Hj Jurana, Aria Adam, H Rustam, H Abdul Rahman Kadir dan keluarga dekat lainnya serta anak-anak Panti Asuhan.

Juga dihadiri beberapa pejabat diantaranya Bapak Kajari Soppeng Salahuddin SH MH, bersama Kasi Intel dan Kasi Pidsusnya, Kasat Reskrim Polres Soppeng Iptu Ridwan S.H.,M.H, Dandim 1423/Soppeng Letkol Inf Sigit Suhendro Hadi Kusmawan, S.T., M. Tr (Han), ASN Pemkab Soppeng, Kades, Lawyer, LBH, Media, hingga Aktivis HMI yang juga Mantan Ketua BADKO HMI Sulselbar La Nyala Soewarno.

Hadir pula Prof Dr Hasnawi Haris Ketua PGRI Sulsel yang juga menjabat Wakil Rektor 1 UNM. Ada juga anggota DPRD Sulsel Dr Andi Nurhidayati (A. Etti) Politisi PPP dan beberapa politisi lainnya.

Putra Soppeng yang lahir di Jantung Kota Watan Soppeng beralamat Jalan Ujung Kelurahan Botto Kecamatan Lalabata.

Dari Harjoko menjadi Abdul Rasyid hingga Abdul Rauf begitulah namanya yang pernah melekat pada jatidirinya. Berpulang ke rahmatullah pada hari Rabu Tanggal 14 Juni 2023.

Dimasa kecilnya dikenal sebagai anak yang soleh, rajin dan disiplin. Dilahirkan dari kedua orangtua yang memegang prinsip, adab dan adat istiadat yang tegas.

Bagai anak yang diperebutkan oleh Ayah dan Ibunya yang keduanya berpisah semasa almarhum masih belia. Kedua orangtuanya memilih pasangan lain dan memiliki banyak anak atau saudara seayah/seibu Almarhum.

Karena itu semasa kecil Almarhum banyak mengikuti kakeknya dari pihak ibunya bernama La Cebe Bin La Pattawe-I Becce Bin La Tenriewa dan I Suha Bin Syekh Dg Pagala- I Katu Bin La Macca.

Almarhum Abdul Rauf yang menghembuskan nafas terakhirnya menjelang usia 90 an, telah menamatkan pendidikan SR – MULO di Masa pemerintahan kolonial.

Masa remajanya tumbuh sebagai pemuda didikan keras, tegas dan religius. Banyak mendapat tempahan hidup dari Ibunya bernama I Nangnga Bin La Cebe, sebagian oleh Ayahnya A Hamzah Petta Watan Dg Parani berdarah Bone dan Soppeng.

Semasa remajanya juga seringkali diajak oleh kakeknya turun melihat sawah dan kebun yang dipekerjakan kepada orang lain.

Selain itu juga aktif belajar beladiri di perguruan pencak silat aliran sendeng binaan keluarganya sendiri yang dikenal dengan sapaan Lato Hemmu. Yang kemudian sepeninggal Gurunya, ia diamanahkan melanjutkan perguruan pencak silat tersebut di Jl Ujung Kel Botto Kecamatan Lalabata. Hal itu dilakoni bukan hanya di pusat kota tapi sampai di pelosok desa hingga pegunungan. Ratusan hingga ribuan anak muridnya yang tersebar di Sulsel.

Semasa membuka perguruan banyak berurusan dengan aparat hingga tarung bebas. mengingat almarhum selalu kedapatan pulang larut malam dari tempat mengajari muridnya di desa dan pegunungan (belum ada listrik saat itu, hanya senter).

Suatu ketika almarhum kena pencahayaan senter di matanya oleh aparat patroli siaga malam dan terjadilah perkelahian satu lawan tiga dan hasilnya ke tiga aparat itu berlumuran darah hingga kehilangan giginya dan bahkan ada yang patah tulang berujung perawatan mantri (saat itu).

Diketahui aliran Sendeng Pencak Silat bukan merupakan olah raga bela diri yang dapat di perlombakan atau pertandingkan. Salah satu alasannya karena gerakan (pencak dan silatnya) memang sasaran pukulannya pada titik mematikan makanya salahsatu latihan dasarnya adalah ketajaman mata dan keseimbangan dalam mengamati gerak lawan. Prinsipnya, makin sempit arena makin disuka kalau Sendeng.

Tak heran jika pernah suatu kejadian pada pertandingan pencak silat di ibukota seorang atlit dari Soppeng Sulsel dikalahkan oleh atlit asal Jawa Timur dan atlit tersebut berlagak angkuh berteriak “ayo siapa jago silat dari Sulawesi, saya tantang sekarang” seketika Almarhum yang turut hadir menemani koleganya yang juga seorang guru pelatih, langsung mengangkat tangannya dan terjadilah pertarungan bebas dan atlit yang sombong itu berujung maut menjemputnya dan almarhum terpaksa diamankan hingga berbulan-bulan di ibukota.

Usai menjalani pengamanan tersebut, almarhum kembali ke Makassar/Soppeng dan beberapa tahun kemudian bergabung di Darul Islam – Tentara Islam Indonesia (DI/TII) pimpinan Kahar Mudzakkar.

Almarhum dipercayakan sebagai guru pelatih bela diri pada perhimpunan tersebut. Hal itu dikerjakan dari Soppeng, Barru, Bone, Wajo, Sidrap, Makassar, Luwu hingga sulawesi tenggara dan Palu. Namanya pun berganti menjadi Abdul Rasyid disapa Petta Rasyid.

Almarhum yang dimasa lahirnya bernama Harjoko atas pemberian oleh salah satu Tokoh Pemuka Agama berdarah Jawa Barat dan Sumatera, berganti saat tumbuh remaja (menurut Ibunya alias Nenek saya, saat bernama itu Pettamu Nak, memang rajin sekali mengaji, sembahyang namun sangat nakal/suka berkelahi).

Almarhum pada masanya juga dikenal sebagai guru sempoa dan banyak dikontrak oleh pengusaha-pengusaha non pribumi (China) di Soppeng dan Makassar mengingat Almarhum mahir matematika (hitungan, pembagian, perkalian dan pengurangan) belum ada kalkulator saat itu.

Tak heran jika banyak berteman dengan warga non pribumi dan terlihat dimasa sakit dan berpulangnya ke rahmatullah yang datang mendoakan dan melayat. Salah satu sahabat dekatnya bernama Djullion (Ayahanda Acong/Owner Warkop Semarang).

Dari banyak profesi yang pernah digeluti, almarhum berakhir mengabdikan diri pada negara sebagai Aparatur Sipil Negara (Dulu PNS) di Dinas PU Provinsi, kini bernama PU Bina Marga Soppeng dengan jabatan Mandur/Pengawas hingga pensiun dengan Nama Abdul Rauf.

Selamat jalan Ayahanda, Semoga Husnul Khotimah.

Kami Putra(i) senantiasa mendoakanmu. Alfatihah.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kerjasama dan Mitra silakan menghubungi 085171117123

Kirim Berita

  • redaksi@edunews.id
  • redaksiedunews@gmail.com

ALAMAT

  • Branch Office : Gedung Graha Pena Lt 5 – Regus – 520 Jl. Urip Sumoharjo No. 20, Pampang, Makassar Sulawesi Selatan 90234
  • Head Office : Plaza Aminta Lt 5 – Blackvox – 504 Jl. TB Simatupang Kav. 10 RT.6/14 Pondok Pinang Kebayoran Lama, Jakarta Selatan 12310. Telepon : 0411 366 2154 – 0851-71117-123

 

To Top