PYONGYANG, EDUNEWS.ID – Majelis Rakyat Tertinggi Korea Utara (DPRK) secara resmi memilih kembali Kim Jong Un sebagai Presiden Urusan Negara. Pengangkatan ini mengukuhkan posisi Kim sebagai kepala badan pembuat kebijakan sekaligus otoritas tertinggi dalam pemerintahan negara bersenjata nuklir tersebut.
Kantor berita pemerintah, KCNA, melaporkan bahwa keputusan pada Sidang Pertama masa jabatan ke-15 yang digelar Minggu (22/3/2026) ini mencerminkan “kehendak dan keinginan bulat seluruh rakyat Korea”.
Pemilihan ini mencatatkan angka partisipasi yang nyaris sempurna, yakni 99,99%. Dari total suara yang masuk, sebanyak 99,93% menyatakan dukungan, sementara hanya 0,07% yang menyatakan tidak setuju terhadap kandidat tunggal yang diajukan partai penguasa.
Meski demikian, para kritikus dan analis internasional menilai proses ini sebagai agenda yang sangat terencana. Lee Ho-ryung dari Institut Analisis Pertahanan Korea menyebutkan bahwa acara ini dirancang untuk memberikan “lapisan legitimasi demokratis” bagi kepemimpinan dinasti Kim yang telah berkuasa sejak 1948.
“Sepanjang pemerintahan generasi ketiga, Korea Utara menggelar acara seperti ini untuk menunjukkan suatu prosedur politik, tetapi tidak ada yang menyangka akan ada hasil yang berbeda,” ujar Lee.
Sinyal Agresi dan Amandemen Konstitusi
Selain pengangkatan kembali Kim Jong Un, sidang parlemen kali ini menjadi sorotan dunia karena potensi adanya amandemen konstitusi. Analis memprediksi akan ada pengkodifikasian resmi yang mengubah status hubungan antar-Korea menjadi hubungan antara “dua negara yang bermusuhan”.
Hong Min, analis senior di Institut Unifikasi Nasional Korea, menjelaskan bahwa bahasa yang digunakan Kim dalam pidatonya akan menjadi indikator rencana masa depan terhadap Seoul.
“Sejauh mana istilah seperti ‘unifikasi nasional’ digantikan oleh ungkapan agresif termasuk ‘kontrol teritorial’ akan menjadi indikator kerangka ideologisnya,” kata Hong Min kepada AFP. Poin krusialnya adalah seberapa jauh Kim akan menguraikan klaim atas wilayah darat, perairan, dan udara dalam berurusan dengan Korea Selatan.
Foto-foto yang dirilis menunjukkan Kim Jong Un tampil dengan setelan jas formal ala Barat. Ia duduk di tengah panggung utama, diapit oleh pejabat tinggi negara dengan latar belakang dua patung raksasa pendahulunya, Kim Il Sung dan Kim Jong Il.
Kehadiran 687 deputi terpilih dalam aula sidang di Pyongyang dilaporkan penuh dengan “antusiasme revolusioner”. Pemilihan ini menyusul pertemuan lima tahunan partai yang berkuasa bulan lalu, yang semakin memperkuat posisi Kim Jong Un dalam memimpin arah kebijakan nuklir dan geopolitik Korea Utara ke depan.
