JAKARTA, EDUNEWS.ID – Dunia internasional sedang menahan napas. Eskalasi konflik antara Iran dan aliansi Amerika Serikat (AS)-Israel yang berujung pada penutupan Selat Hormuz mulai memukul urat nadi energi global. Di tengah situasi genting ini, ketahanan energi Indonesia menjadi sorotan tajam karena cadangan minyak nasional dilaporkan hanya mampu bertahan selama 20 hari.
Jepang Siaga 254 Hari
Kondisi Indonesia berbanding terbalik dengan Jepang. Perdana Menteri (PM) Jepang, Sanae Takaichi, baru saja mengonfirmasi bahwa negaranya berada dalam posisi aman dengan cadangan minyak mentah yang sanggup menopang kebutuhan hingga 254 hari.
Dalam rapat Komite Anggaran DPR Jepang, Rabu (4/3/2026), Takaichi memastikan bahwa pasokan energi di Negeri Sakura tetap stabil. Pemerintah Jepang bahkan telah menjamin keamanan kapal-kapal tanker mereka yang saat ini dalam posisi standby di Teluk Persia.
“Kami akan memastikan pasokan energi yang stabil untuk negara kami. Langkah-langkah yang diperlukan akan segera diambil,” ujar Takaichi sebagaimana dikutip dari Mainichi.
BBM Langka Hantui RI
Di dalam negeri, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengakui tipisnya stok cadangan minyak Indonesia. Angka 20 hari ini memicu kekhawatiran akan terjadinya kelangkaan bahan bakar massal di seluruh wilayah nusantara jika konflik di Timur Tengah tidak segera mereda.
“Masih cukup 20 hari. Nanti besok insyaallah saya rapat di ESDM, kami akan rapat Dewan Energi Nasional. Sampai hari ini tidak ada masalah, tapi harga dunia akan terjadi koreksi ketika kondisi geopolitik terus memanas,” ungkap Bahlil.
Dampak Ekonomi dan Kemanusiaan
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), juga menyampaikan kecemasannya. Menurut AHY, penutupan Selat Hormuz bukan sekadar urusan teknis pengiriman minyak, melainkan ancaman terhadap stabilitas ekonomi dunia.
“Kita berharap ini bisa segera berakhir. Karena memang ini akan mengakibatkan bukan hanya tragedi kemanusiaan, tapi juga akan menyebabkan berbagai tantangan yang berat di sektor ekonomi, termasuk energi dunia,” kata AHY.
Mengapa Selat Hormuz Begitu Vital?
Selat Hormuz adalah jalur distribusi minyak paling penting di dunia. Sekitar 20-30% pasokan minyak mentah global melewati jalur sempit ini. Blokade di wilayah ini secara otomatis akan mengerek harga minyak mentah dunia ($Brent$ dan $WTI$), yang bagi Indonesia berarti beban subsidi BBM akan membengkak drastis di APBN.
