JAKARTA, EDUNEWS.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup merosot tajam pada perdagangan Senin (2/3/2026). Indeks menyentuh level psikologis baru setelah anjlok 2,51% atau berkurang sekitar 206 poin ke posisi 8.028,85.
Sepanjang hari ini, tekanan jual mendominasi pasar modal tanah air seiring dengan meningkatnya risiko ketidakpastian global. Berikut adalah poin-poin utama penyebab ambruknya indeks hari ini:
1. Eskalasi Konflik Iran-Israel-AS
Pemicu utama koreksi dalam ini adalah memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah. Kabar mengenai keterlibatan Amerika Serikat dalam serangan balasan terhadap Iran memicu kekhawatiran pelaku pasar akan terjadinya perang skala luas. Investor cenderung melakukan aksi risk-off dengan melepas aset berisiko seperti saham dan beralih ke aset aman (safe haven) seperti emas.
2. Lonjakan Harga Minyak Dunia
Kekhawatiran akan terganggunya jalur distribusi minyak di Selat Hormuz menyebabkan harga minyak mentah jenis Brent melonjak ke kisaran $72,87 per barel. Maximilianus Nico Demus dari Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan bahwa jika konflik berlanjut, harga minyak berpotensi kembali ke level $100 per barel, yang dapat memicu inflasi global dan menekan kinerja emiten di dalam negeri.
3. Pelemahan Bursa Regional
Langkah IHSG searah dengan bursa saham di kawasan Asia yang juga memerah. Indeks Nikkei 225 (Jepang) tercatat anjlok lebih dari 2,5%, sementara indeks di bursa Wall Street juga menunjukkan tren pelemahan pada penutupan akhir pekan sebelumnya.
Statistik Perdagangan
Berdasarkan data BEI, mayoritas sektor berakhir di zona merah:
-
Saham Menurun: 645 saham
-
Saham Menguat: Hanya 84 saham
-
Volume Transaksi: Mencapai 33,2 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp16,6 triliun.
-
Saham Blue Chip: Emiten perbankan besar seperti BBCA, BBRI, dan BMRI menjadi penekan utama indeks dengan rata-rata pelemahan di atas 1,5%.
