MAKASSAR, EDUNEWS.ID – Mimbar Masjid Al-Markaz Al-Islami Makassar kembali menjadi pusat pemikiran strategis. Dalam forum “Dialog Jumat” bertajuk “Mengukur Arah Eskalasi Konflik di Timur Tengah dan Peran Indonesia”, para cendekiawan dan diplomat berkumpul untuk membedah pergeseran peta kekuatan dunia di tengah memanasnya perseteruan Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Kegagalan Teknologi Melawan Rakyat
Salah satu sorotan tajam datang dari Dr. Sawedi Muhammad. Ia menegaskan bahwa keunggulan teknologi militer Barat tidak menjamin kemenangan mutlak atas kedaulatan sebuah bangsa. Mengambil pelajaran dari sejarah kelam militer AS di Vietnam dan Irak, Sawedi menyebut ada kekuatan yang tidak bisa dideteksi oleh radar tempur.
“Serangan udara tidak akan pernah cukup untuk menaklukkan kedaulatan suatu bangsa,” tegas Sawedi, Jumat (13/3/2026).
Ia mengidentifikasi adanya “nasionalisme banal” atau semangat kebangsaan sehari-hari yang hidup di urat nadi warga biasa—di jalanan, masjid, hingga kedai kopi—yang menjadi benteng pertahanan terakhir yang tak tertembus bom sekalipun.
Perang Sebagai Rahim Peradaban Baru
Senada dengan itu, sosiolog Prof. Kasim Matar memberikan perspektif provokatif mengenai masa depan global. Menurutnya, sejarah membuktikan bahwa peradaban besar selalu lahir dari rahim kekacauan dan perang panjang.
Ia menilai peradaban Barat modern saat ini sudah mulai “busuk dan lapuk”. Eskalasi yang terjadi saat ini dipandang sebagai pintu gerbang menuju tatanan dunia baru yang lebih manusiawi dan dipandu oleh nilai-nilai spiritual.
“Jika perang ini adalah titik masuk bagi peradaban baru, saya sarankan agar perang ini berlanjut,” ujar Prof. Kasim, merujuk pada perlunya perubahan total atas sistem dunia yang ada saat ini.
Resiliensi Iran dan Warisan Budaya Persia
Diskusi semakin dalam saat Ir. Muhammad Adlani, PhD, yang menetap selama 22 tahun di Iran, memaparkan bagaimana embargo internasional selama 47 tahun justru mengaktualisasikan potensi internal Iran dalam teknologi dan nuklir. Ia menekankan bahwa dukungan Iran terhadap Palestina adalah mandat konstitusional yang tak tergoyahkan.
Sementara itu, mantan Duta Besar RI untuk Iran, Prof. Basri Hasanuddin, menggambarkan Iran sebagai pewaris Kekaisaran Persia yang memiliki disiplin dan etika tinggi. Ia mengkarakterisasi konflik ini sebagai perjuangan antara “kebenaran” melawan “kebohongan”.
“Mereka adalah budaya yang telah terbentuk selama ribuan tahun, sangat sulit untuk menghapusnya dari peta sejarah,” ungkapnya optimistis.
Posisi Indonesia
Di akhir diskusi, panel pakar di Al-Markaz ini menyimpulkan bahwa Indonesia harus tetap teguh pada koridor konstitusi. Indonesia didorong untuk terus menjalankan politik luar negeri yang “bebas dan aktif” serta menjadi motor penggerak persatuan dunia Islam di luar sekat sektarian.
Para pembicara sepakat bahwa di tengah ancaman mesiu dan serangan udara, kekuatan moral, budaya, dan persatuan tetap menjadi kunci utama dalam menjaga kedaulatan sebuah bangsa di era baru yang akan datang. (*)
