JAKARTA, EDUNEWS.ID- Ketua Umum Pimpinan Pusat Perhimpunan Remaja Masjid (PRIMA) Dewan Masjid Indonesia (DMI) Ahmad Arafat Aminullah, bersama jajarannya menyambangi kantor sekretariat Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA-ITB) di kawasan Patra Kuningan, Jakarta, Selasa (7/12/2021).
Dalam kunjungan tersebut, Arafat dibersamai oleh Sekjend Fajar Iman Hasanie, Wasekjend Hilkadona dan Ketua Umum PD PRIMA Tangerang, Heru Huzainy.
Kedatangan rombongan PRIMA DMI diterima dengan hangat oleh Ketua IA ITB, Gembong Primadjaja didampingi Dr Abd Luky.
Selama hampir dua jam, pembicaraan hangat dan penuh keakraban mengalir – saling bertukar informasi, ide dan berdiskusi mengenai topik kepemudaan, masa depan bangsa Indonesia, dan spirit kolaborasi.
Arafat menyampaikan terima kasih atas sambutan dan juga mengucapkan slamat dan sukses atas hadirnya pengurusan IA-ITB 2021-2025 di bawah kepemimpinan Gembong Primadjaja dan jajarannya.
Dirinya sengaja datang untuk bersilaturahmi, tukar menukar pikiran dan membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya di antara dua lembaga perkumpulan yakni Perhimpunan Remaja Masjid Dewan Masjid Indonesia dan Ikatan Alumni ITB.
Arafat mengungkapkan, pertemuan dan silaturrahmi ini cukup bersejarah dan memiliki arti tersendiri, karena ini adalah pertemuan resmi yang pertama antara kedua organisasi/perkumpulan.
“PRIMA DMI merupakan lembaga keorganisasian kepemudaan yang menjadi ruang temu berhimpunnya dan berkumpulnya para pemuda remaja masjid seluruh Indonesia,” kata Arafat.
Arafat menuturkan, Remaja masjid Indonesia memiliki potensi yang sangat besar mengingat ada 800.000 titik masjid di seluruh Indonesia sehingga tidak kurang potensi remaja masjid seIndonesia yang bisa dibina tak kurang dari 8 juta jiwa – yang juga notabene merupakan kaum milenial.
Ketua IA ITB, Gembong Primadjaja, mengungkapkan Ikatan Alumni ITB, adalah wadah perkumpulan para alumni dari Institut Teknologi Bandung sebuah institusi pendidikan yang telah berdiri sejak lebih dari seabad lalu – sebuah institusi yang banyak menghasilkan tidak hanya teknokrat ulung tapi juga Usahawan (Entrepreneur) dan negarawan.
Menurut Gembong, Indonesia saat ini mengalami apa yang kita sebut sebagai bonus demografi, namun bonus demografi Itu bisa saja berubah menjadi petaka demografi apabila kuantitas Sumber Daya Manusia Indonesia.
“Khususnya mereka yang produktif di usia mudanya, tidak mampu berkembang secara optimal untuk berubah menjadi kualitas manusia Indonesia yang maju,” tuturnya.
Lebih jauh, Gembong menuturkan, bahwa era saat ini adalah eranya para pemuda (generasi Millenial) dan remaja (gen-Z). Telah banyak terjadi perubahan (disrupsi) dan pergeseran (shifting) dalam banyak segi kehidupan dewasa ini.
Dahulu, orang berlomba-lomba untuk menjadi insinyur, sebagai contoh, namun kini anak-anak muda lebih senang menjadi “Content Creator” dan menggunakan kreativitasnya untuk memaksimalkan potensi, minat dan bakatnya.
“Dengan demikian, para pemuda dan remaja masjid memiliki potensi dan peran strategis dalam ikut menentukan nasib dan masa depan bangsa ini ke depan,” lanjutnya.
Arafat pun menambahkan, salah satu misi PRIMA DMI dikepemimpinannya ialah untuk mengangkat harkat dan martabat para pemuda dan remaja masjid di Indonesia yang sebagian besar masih termarjinalkan dan belum berdaya secara optimal.
Sementara masjid kian bertambah fungsinya di tengah-tengah masyarakat, termasuk mengambil contoh riil bagaimana masjid menjadi sentra vaksinasi dan PRIMA DMI telah melakoni peran aktif dalam ikut mensukseskan fungsi sosial kemasyarakatan tersebut.
Sehingga, masjid dan remaja masjidnya yang aktif, dinamis dan kreatif ditantang untuk mampu membangun sebuah ekosistem dan habitat yang berdayaguna dan bermanfaat secara luas.
Ketua IA ITB, Gembong pun menyambut baik misi mulia ini dan mengingatkan bahwa potensi besar yang dimiliki oleh pemuda remaja masjid seIndonesia harus dapat dikristalisasikan untuk membawa dampak dan memberi gaung yang signifikan.
Apalagi pemuda di Indonesia akan sangat menentukan masa depan dan sejarah bangsa ini dalam beberapa tahun yang akan datang.
Ia secara khusus mengapresiasi inisiatif dari PRIMA DMI untuk “connecting the dots”, menjalin simpul-simpul kolaborasi baru, berteman baik dengan siapa saja secara inklusif – sebuah wujud geraklaku organisasi kepemudaan yang ikut merawat keutuhan NKRI yang Berbhinneka.
Dalam kesempatan pertemuan yang baik itu, kedua belah pihak; IA ITB dan PRIMA DMI bersepaham dan sepakat untuk berkolaborasi sinergis, khususnya dalam membangun PLATFORM DIGITAL untuk meraih, merangkul dan menghubungkan para pemuda remaja masjid di Indonesia yang kian melek digital ini.
Kecanggihan dan kemajuan teknologi, dapat dimanfaatkan untuk memberikan kemudahan dalam mengorkestrasikan kegiatan yang dilakukan di berbagai daerah, pendataan anggota, hingga ke pembinaan (kaderisasi) maupun pengembangan selanjutnya.
Secara khusus, Arafat yang juga merupakan Alumnus ITB angkatan Milenial itu menyampaikan rasa kesyukurannya yang tak terhingga atas tawaran baik dan indikator kolaborasi positif untuk mempermudah terhubungnya para remaja masjid seantero Indonesia melalui ruang digital – yang saat ini sudah merupakan kelaziman dan keniscayaan.
Para pemuda harus mampu menempatkan diri sebagai penggerak dan aktor pejuang kemajuan peradaban alih-alih hanya sebagai objek yang termarjinalkan dan dikomoditaskan begitu saja. Begitu banyak potensi yang terpendam di setiap anak-muda bangsa yang religius dan cinta damai ini, dan potensi tersebut harus menjelma sebagai sebuah peran-positif juga memberi pengaruh-baik bagi terjaganya tatanan kehidupan sosial kemasyarakatan dan kebangsaan Indonesia yang majemuk.
Ini adalah titik temu dan tantangan yang dihadapi bersama, sehingga PRIMA DMI maupun IA ITB merasa terpanggil untuk berkontribusi dalam ruang fokus pemberdayaan/pembinaan Pemuda Remaja Indonesia, khususnya untuk berproses menjadi manusia yang berilmu, cakap (berkompetensi) dan unggul (berkemajuan).
“Bertemunya dua organisasi perkumpulan ini kiranya memberikan sebuah spirit dan harapan untuk menjalin secara produktif dan positif simpul-simpul anak bangsa yang berkolaborasi, bekerjasama, dan saling bahu-membahu, untuk memecahkan pernak-pernik permasalahan yang sedang dan akan dihadapi oleh bangsa ini di masa depan yang akan menentukan: apakah Kemajuan dan Kejayaan di 100 tahun usia Indonesia adalah sebuah keniscayaan ataukah hanyalah khayalan?,” harap Arafat. (rls)
