MAKASSAR, EDUNEWS.ID– Pengurus Wilayah Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (PW SEMMI) Sulawesi Selatan angkat bicara menyikapi aksi teror penyiraman air keras yang menimpa seorang aktivis dari organisasi masyarakat sipil, KontraS. Tindakan keji tersebut dinilai sebagai serangan fatal yang tidak hanya melukai fisik, tetapi juga mengancam nyawa serta kebebasan berpendapat di negara demokrasi.
Sekretaris PW SEMMI Sulawesi Selatan, Muhammad Nur Fajar Arsyad, menilai tindakan ini bukan sekadar bentuk intimidasi biasa, melainkan upaya yang secara nyata membahayakan nyawa manusia. Ia menegaskan bahwa negara tidak boleh diam melihat para pejuang keadilan dibungkam dengan cara-cara primitif dan brutal.
“Kasus ini harus benar-benar diusut hingga tuntas oleh pihak kepolisian. Jika dibiarkan begitu saja, maka bukan tidak mungkin akan muncul korban-korban aktivis berikutnya ketika mereka menyuarakan aspirasi rakyat,” tegasnya dalam pernyataan resmi, Jumat (13/3/2026).
Secara khusus, PW SEMMI Sulawesi Selatan mendesak Prabowo Subianto selaku Presiden RI untuk memberikan perhatian serius terhadap kasus ini. Mereka meminta Presiden memastikan proses penegakan hukum berjalan secara transparan, tegas, dan tanpa pandang bulu terhadap seluruh pihak yang terlibat, baik eksekutor lapangan maupun aktor intelektual di baliknya.
PW SEMMI Sulawesi Selatan berharap aparat kepolisian dapat bekerja secara profesional dan serius dalam menangani kasus ini. Mereka menekankan bahwa negara memiliki tanggung jawab besar untuk menjamin keselamatan setiap warga negara, terutama bagi mereka yang menjalankan peran kontrol sosial dalam kehidupan demokrasi.
“Kami berharap keadilan bagi korban dapat segera terwujud agar kejadian serupa tidak terulang di masa yang akan datang. Profesionalisme kepolisian sedang diuji dalam kasus ini,” pungkas Sekretaris PW SEMMI Sulsel ini.
Kronologi Kejadian
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari berbagai sumber, peristiwa kelam ini bermula saat korban tengah menempuh perjalanan pulang setelah menjalankan aktivitas advokasi. Di tengah perjalanan yang tampak normal, korban tiba-tiba dipepet oleh dua orang tidak dikenal yang berboncengan sepeda motor.
Tanpa adanya konfrontasi verbal maupun peringatan, salah satu pelaku langsung menyiramkan cairan asam pekat atau air keras ke arah wajah dan tubuh korban. Serangan mendadak ini membuat korban mengalami luka bakar kimiawi yang cukup parah.
Para pelaku segera memacu kendaraannya melarikan diri dari lokasi kejadian, meninggalkan korban dalam kondisi kesakitan yang membutuhkan pertolongan medis darurat segera.
Motif serangan ini diduga kuat berkaitan dengan peran aktif korban dalam mengawal isu-isu pelanggaran HAM yang sedang ditangani oleh KontraS.(*)
