Najamuddin Arfah

Daengku, Selamat Jalan Menuju Keabadian

Alm. Haeruddin Arfah

EDUNEWS.ID– Senin malam 22 Juni 2026, tepat pada tanggal 7 Muharram, di saat umat Islam tengah berada dalam bulan yang penuh kemuliaan, kabar duka itu tiba-tiba datang. Ia datang menjemput kakak kandung pertama saya, Haeruddin Arfah, sosok tauladan yang lahir pada tahun 1973 di Desa Lanipa, Kecamatan Pakue Tengah, dipanggil ke pangkuan-Nya.

Beliau adalah sosok yang selama bertahun-tahun berdiri teguh menggantikan posisi Ayahanda yang telah berpulang sejak 2011, disusul Ibunda tercinta pada 2014.
Pulang di bulan Muharram, bulan yang sarat dengan pengingat akan perjuangan dan pengorbanan, terasa begitu bermakna bagi kami. Kita diingatkan pada firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah ayat 156:
Alladzina idza ashabathum mushibatun qalu inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.”
(Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” — Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali).

Kami percaya bahwa setiap ketetapan Allah memiliki waktu yang terbaik. Mungkin Allah ingin menjemput beliau di saat pintu-pintu rahmat sedang terbuka lebar, memberikan ganjaran atas segala lelahnya sebagai pendidik puluhan tahun di SMP Muhammadiyah Majapahit, pengabdiannya sebagai Kepala Desa Majapahit sekitar sepuluh tahun lalu, serta tugasnya sebagai abdi negara di Kantor Kecamatan Pakue Tengah.

Beliau bukan sekadar kakak. Bagi saya, si bungsu dari enam bersaudara, beliau adalah potret ideal. Beliau adalah sosok yang selalu tahu bagaimana meredam badai di dalam keluarga. Hidupnya adalah cerminan dari iman dan integritas yang nyata. Di sekolah, beliau dikenal sebagai guru yang sangat tegas dan keras dalam mendidik. Namun, ketegasan itu lahir bukan dari kebencian, melainkan dari keinginan tulus agar siswanya tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak dan disiplin.

Saya sendiri adalah saksi hidup dari didikan itu, karena saya pernah menjadi muridnya di SMP Muhammadiyah Majapahit pada tahun 2000 hingga 2003. Beliau mendidik kami dengan standar yang tinggi, bahkan tak jarang memberikan hukuman bagi mereka yang melakukan kesalahan, semata-mata agar kami belajar arti tanggung jawab. Begitu pula saat menjadi kepala desa, ketegasannya menjadi benteng untuk menjaga ketentraman warga.

Kesehariannya kental dengan keteguhan dalam prinsip dan kebenaran, seringkali, nasihatnya sejalan dengan QS. Hud ayat 112: “Fastaqim kama umirta…” (Maka tetaplah engkau pada jalan yang benar, sebagaimana telah diperintahkan kepadamu…). Itulah prinsip yang ia genggam erat hingga hembusan napas terakhirnya, sebuah pesan yang senantiasa ia jaga sebagai bentuk tanggung jawabnya di hadapan Allah. Ketegasannya bukanlah kekakuan, melainkan bentuk perlindungan yang paling tulus agar kami, adik-adiknya sekaligus mantan muridnya, tetap berjalan di atas jalan kebaikan.

Saya masih teringat jelas bagaimana sosoknya yang gagah perkasa melangkah dengan penuh wibawa saat mengantar saya melamar ke Aceh pada Juli tahun 2025 lalu. Ada binar kebanggaan di matanya yang tak bisa disembunyikan. Ia menjalankan peran itu dengan sempurna, sebagai pelindung, sebagai penasihat, dan sebagai orang tua yang memastikan adiknya mendapatkan yang terbaik. Ketika beliau mendampingi saya di pelaminan pada Oktober di Aceh, lalu kembali mengulang momen haru itu di tanah kelahiran kami di Desa Latali, Kecamatan Pakue Tengah, pada Desember lalu, saya merasa sangat diberkati. Ia benar-benar menuntaskan amanahnya sebelum Allah memanggilnya pulang ke keabadian.

Kepergian beliau menyisakan rasa kehilangan di hati kita semua, terutama bagi istri tercinta dan keempat putranya yang kini tumbuh menjadi laki-laki tangguh.

Untuk istri almarhum, kakak iparku, ketahuilah bahwa beliau selalu mencintai dan menghormati engkau lebih dari siapa pun. Beliau adalah suami yang tangguh, yang bekerja keras demi senyummu dan masa depan anak-anak. Jangan biarkan kesedihan ini meruntuhkan keteguhanmu, karena di pundakmu kini ada amanah besar untuk meneruskan cita-cita mulia beliau dalam mendidik anak-anak dalam koridor agama dan akhlak yang mulia. Beliau mungkin telah tiada secara fisik, namun doa-doa tulus darimu akan selalu menyertainya di alam sana.

Dan untuk empat keponakan laki-lakiku, kalian adalah kebanggaan terbesar beliau. Bapak kalian adalah pria yang sangat hebat. Beliau adalah guru, pelindung, dan pria berprinsip yang selalu menempatkan kehormatan keluarga di atas segalanya. Beliau tidak meninggalkan harta yang berlimpah, namun beliau meninggalkan warisan yang jauh lebih berharga: nama baik, integritas, dan pesan untuk selalu berdiri tegak di atas kebenaran. Jadilah pria-pria yang tangguh seperti beliau. Teruslah berbakti, jadilah orang yang bermanfaat bagi umat, dan jangan pernah melupakan pesan beliau untuk tidak mundur selangkah pun ketika kalian tahu kalian berada di jalan yang benar.

Kepada saudara-saudaraku yang lain, kepada dua kakak laki-laki dan dua kakak perempuan yang kini bersama-sama memikul beban kehilangan ini, saya menitipkan harapan besar. Beliau telah pergi, namun estafet kepemimpinan dalam keluarga ini tidak boleh terputus. Saya adalah bungsu yang masih sangat membutuhkan bimbingan kalian. Sebagaimana pesan Allah dalam QS. Ali ‘Imran ayat 103: “Wa’tashimu bihablillahi jami’an wala tafarraqu…” (Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai…). Mari kita satukan kekuatan, saling menjaga, dan menjadi sosok pelindung bagi satu sama lain, seperti yang telah dicontohkan Almarhum kepada kita semua. Jadilah sandaran bagi keluarga besar ini, jadilah penyejuk di saat kami sedang kesulitan, dan mari kita rawat kebersamaan ini dengan kasih sayang yang tulus, sebagaimana beliau merawat kita semasa hidupnya.

Beliau mungkin sudah tidak ada lagi di meja makan atau di ruang kerjanya, yang selalu mengirim buah-buahan dari kampung saat musim buah, namun setiap kali kita melakukan kebaikan, setiap kali kita jujur meski itu berat, di situlah beliau ada. Beliau akan selalu hidup melalui tindakan-tindakan kita.

Atas nama keluarga, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya jika selama hidupnya, beliau pernah memiliki salah kata, khilaf, atau perbuatan yang kurang berkenan di hati Bapak/Ibu, kolega, sahabat, warga masyarakat Majapahit, dan murid-muridnya. Kami juga memohon doa agar beliau diberikan tempat terbaik di sisi Allah SWT, diampuni segala dosanya, dan diterima segala amal ibadahnya.

Terakhir, kami berharap hubungan silaturahmi yang telah beliau jalin selama ini tidak terputus sampai di sini. Kepada para kolega, sahabat, dan rekan-rekan beliau, kami memohon agar tetap menganggap kami, adik-adik dan keluarga beliau, sebagai bagian dari beliau semasa hidup. Terbukalah pintu rumah dan hati kami untuk terus menyambung tali persaudaraan yang telah beliau tanamkan. Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan hidup Kakanda kami.

Selamat jalan, Daengku. Engkau telah menyelesaikan tugasmu dengan sangat mulia. Insya Allah kini engkau dalam naungan kasih sayang-Nya.

Najamuddin Arfah

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kerjasama dan Mitra silakan menghubungi 085171117123

Kirim Berita

  • redaksi@edunews.id
  • redaksiedunews@gmail.com

ALAMAT

  • Branch Office : Gedung Graha Pena Lt 5 – Regus – 520 Jl. Urip Sumoharjo No. 20, Pampang, Makassar Sulawesi Selatan 90234
  • Head Office : Plaza Aminta Lt 5 – Blackvox – 504 Jl. TB Simatupang Kav. 10 RT.6/14 Pondok Pinang Kebayoran Lama, Jakarta Selatan 12310. Telepon : 0411 366 2154 – 0851-71117-123

 

To Top