MAKASSAR, EDUNEWS.ID — Masjid Usman Yaqub menjadi pusat aktivitas keislaman, pembinaan, literasi, diskusi, dan sosial kemasyarakatan yang digelorakan oleh kader Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Komisariat Al-Furqon.
Meski bukan milik lembaga KAMMI secara institusional, intensitas kegiatan positif yang konsisten dilakukan membuat masjid ini lekat dengan sebutan “Masjid Peradaban.”
Julukan tersebut merefleksikan semangat menjadikan masjid sebagai pusat ilmu, dakwah, pembinaan generasi, serta kemaslahatan masyarakat. Keterlibatan kader juga tercermin dalam struktur kepengurusan masjid, di mana Imam Masjid Usman Yaqub diamanahkan kepada kader KAMMI yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Kaderisasi KAMMI Komisariat Al-Furqon.
Ketua Umum KAMMI Daerah Makassar, Sahrul Ariansyah, menegaskan bahwa menghidupkan masjid di tengah menjamurnya ruang nongkrong anak muda merupakan langkah krusial dalam menjaga identitas serta tradisi gerakan.
Ia menjelaskan, masjid memiliki akar historis yang kuat dengan sejarah gerakan mahasiswa Muslim Indonesia. KAMMI lahir pada 29 Maret 1998 melalui konsolidasi aktivis dakwah kampus pada FSLDK Nasional X di Malang, di mana tradisi intelektual dan pembinaan berpusat di masjid.
Sahrul juga menekankan bahwa memakmurkan masjid bukan berarti menutup diri dari ruang sosial publik lainnya. Kader KAMMI didorong untuk tetap aktif di kampus, komunitas, warung kopi, dan berbagai elemen masyarakat. Namun, masjid harus tetap diposisikan sebagai rumah spiritual sekaligus intelektual utama.
“Kalau kita ingin membangun peradaban Islam, maka kita tidak boleh jauh dari masjid. Dari masjid kita membangun ruhiyah, dari buku kita membangun wawasan, dari diskusi kita membangun gagasan, dan dari masyarakat kita belajar menghadirkan kebermanfaatan,” tegasnya.
Melalui konsistensi KAMMI Komisariat Al-Furqon di Masjid Usman Yaqub, ruang ibadah ini bertransformasi menjadi tempat yang terbuka bagi literasi dan penguatan keislaman. Masjid terbukti bukan sekadar tempat singgah untuk menunaikan ibadah ritual, melainkan inkubator bertumbuhnya ilmu, kader, gagasan, dan peradaban. (*)

