Kampus

Dari Masjid Usman Yaqub, KAMMI Makassar Nyalakan Semangat Literasi dan Gerakan Peradaban

MAKASSAR, EDUNEWS.ID — Masjid Usman Yaqub menjadi pusat aktivitas keislaman, pembinaan, literasi, diskusi, dan sosial kemasyarakatan yang digelorakan oleh kader Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Komisariat Al-Furqon.

Meski bukan milik lembaga KAMMI secara institusional, intensitas kegiatan positif yang konsisten dilakukan membuat masjid ini lekat dengan sebutan “Masjid Peradaban.”

Julukan tersebut merefleksikan semangat menjadikan masjid sebagai pusat ilmu, dakwah, pembinaan generasi, serta kemaslahatan masyarakat. Keterlibatan kader juga tercermin dalam struktur kepengurusan masjid, di mana Imam Masjid Usman Yaqub diamanahkan kepada kader KAMMI yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Kaderisasi KAMMI Komisariat Al-Furqon.

Ketua Umum KAMMI Daerah Makassar, Sahrul Ariansyah, menegaskan bahwa menghidupkan masjid di tengah menjamurnya ruang nongkrong anak muda merupakan langkah krusial dalam menjaga identitas serta tradisi gerakan.

“Kader KAMMI berkumpul di masjid bukan berarti kita ketinggalan zaman karena tidak berkumpul di warkop-warkop yang banyak di Kota Makassar. Kita bisa berada di mana saja, berdiskusi di mana saja, dan berkolaborasi dengan siapa saja. Tetapi KAMMI Makassar harus tetap menghidupkan masjid-masjid sebagai ruang berkumpul, belajar, membina diri, dan melahirkan gagasan,” ujar Sahrul, Senin (21/9/2026).

Ia menjelaskan, masjid memiliki akar historis yang kuat dengan sejarah gerakan mahasiswa Muslim Indonesia. KAMMI lahir pada 29 Maret 1998 melalui konsolidasi aktivis dakwah kampus pada FSLDK Nasional X di Malang, di mana tradisi intelektual dan pembinaan berpusat di masjid.

“Jangan sampai ketika zaman berubah, kemudian kita merasa bahwa berkumpul di masjid itu tidak keren atau tidak relevan lagi. Justru kita ingin menunjukkan bahwa masjid bisa menjadi tempat yang hidup: tempat anak muda membaca buku, berdiskusi, membangun jaringan, berbicara tentang umat, bangsa, bahkan merancang masa depan,” tambahnya.

Sahrul juga menekankan bahwa memakmurkan masjid bukan berarti menutup diri dari ruang sosial publik lainnya. Kader KAMMI didorong untuk tetap aktif di kampus, komunitas, warung kopi, dan berbagai elemen masyarakat. Namun, masjid harus tetap diposisikan sebagai rumah spiritual sekaligus intelektual utama.

“Kalau kita ingin membangun peradaban Islam, maka kita tidak boleh jauh dari masjid. Dari masjid kita membangun ruhiyah, dari buku kita membangun wawasan, dari diskusi kita membangun gagasan, dan dari masyarakat kita belajar menghadirkan kebermanfaatan,” tegasnya.

Melalui konsistensi KAMMI Komisariat Al-Furqon di Masjid Usman Yaqub, ruang ibadah ini bertransformasi menjadi tempat yang terbuka bagi literasi dan penguatan keislaman. Masjid terbukti bukan sekadar tempat singgah untuk menunaikan ibadah ritual, melainkan inkubator bertumbuhnya ilmu, kader, gagasan, dan peradaban. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kerjasama dan Mitra silakan menghubungi 085171117123

Kirim Berita

  • redaksi@edunews.id
  • redaksiedunews@gmail.com

ALAMAT

  • Branch Office : Gedung Graha Pena Lt 5 – Regus – 520 Jl. Urip Sumoharjo No. 20, Pampang, Makassar Sulawesi Selatan 90234
  • Head Office : Plaza Aminta Lt 5 – Blackvox – 504 Jl. TB Simatupang Kav. 10 RT.6/14 Pondok Pinang Kebayoran Lama, Jakarta Selatan 12310. Telepon : 0411 366 2154 – 0851-71117-123

 

To Top