JAKARTA, EDUNEWS.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bangkit (rebound) dan berbalik menguat signifikan pada perdagangan sesi I, Kamis (22/10/2026).
Penguatan pasar saham domestik sebesar 1,70% ini terjadi sehari setelah Presiden Prabowo Subianto menyampaikan ketegasan bahwa Indonesia tidak akan gentar menghadapi ancaman penurunan status (downgrade) pasar modal oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG mengakhiri sesi I dengan lonjakan 90,64 poin atau menguat 1,70% ke level 5.419,00. Angka ini menandai pembalikan arah yang tajam dibandingkan penutupan perdagangan hari sebelumnya di level 5.328,36.
Pergerakan IHSG sepanjang sesi pagi sempat diwarnai tekanan berat. Indeks dibuka melemah ke posisi 5.247,98 dan terus tergerus hingga menyentuh titik terendahnya di level 5.185,53. Namun, aksi beli investor perlahan meredam tekanan jual, mendorong indeks berbalik naik hingga menyentuh level tertinggi 5.422,59 sebelum perdagangan sesi pertama ditutup.
Energi dan Perbankan Memimpin Penguatan
Pembalikan arah IHSG ditopang oleh aksi beli yang merata di lantai bursa. Mayoritas saham mencatatkan kinerja positif, di mana sebanyak 550 saham menguat, 131 saham melemah, dan sisanya bergerak stagnan.
Kenaikan IHSG dipimpin oleh sektor energi yang melonjak 3,24%, disusul sektor transportasi (2,60%), barang baku (2,27%), serta infrastruktur (2,20%). Sejumlah indeks unggulan juga mencatatkan apresiasi signifikan:
- Jakarta Islamic Index (JII): Melonjak 2,17%
- LQ45: Naik 1,64%
- IDX30: Menguat 1,43%
Saham-saham perbankan berkapitalisasi besar (big caps) seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turut mendominasi jajaran saham dengan nilai transaksi terbesar sepanjang sesi pertama.
Respons Pasar atas Sikap Tegas Presiden
Daya tahan pasar saham domestik ini berlangsung di tengah perhatian publik terhadap retorika tegas Presiden Prabowo Subianto terkait isu klasifikasi pasar modal Indonesia oleh MSCI. Dalam Sidang Kabinet Paripurna di Jakarta, Rabu (21/10/2026), Presiden menegaskan bahwa Indonesia tidak akan gentar menghadapi tekanan finansial global.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul potensi penurunan klasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Prabowo menilai guncangan dan ancaman dari pihak luar tidak boleh meruntuhkan kepercayaan diri bangsa dalam mengelola stabilitas perekonomian serta pasar keuangan nasional.
“Saya hanya katakan pada MSCI, bangsa Indonesia tidak takut siapa pun dan tidak akan gentar!” tegas Prabowo di hadapan jajaran menteri kabinet.
Presiden menegaskan optimismenya terhadap ketahanan pasar modal nasional, yang ditopang oleh kinerja emiten di bursa serta pengawasan ketat dari regulator keuangan. Pembalikan IHSG ke zona hijau dengan kenaikan 1,70% pada perdagangan Kamis ini memberikan sinyal awal bahwa fundamental pasar modal Indonesia tetap memiliki daya saing di tengah dinamika eksternal. (*)
Redaktu | Eka Setiawan

