MAKASSAR,EDUNEWS.ID – Proses Pemilihan Rektor Universitas Negeri Makassar (UNM) kini memasuki babak baru usai pendaftaran bakal calon resmi ditutup. Namun di tengah adu visi-misi para kandidat, suara sumbang dari akar rumput justru mencuat. Para mahasiswa melontarkan kritik keras terkait minimnya fasilitas pembelajaran hingga buruknya tata kelola pelayanan akademik yang tak kunjung membaik.
Hasil penelusuran dan wawancara redaksi bersama sejumlah mahasiswa dari pelbagai fakultas pada Rabu (14/10/2026) mengungkapkan fakta miris di lapangan. Mulai dari krisis ruang kelas, dugaan komersialisasi buku, hingga dugaan praktik kekerasan di lingkungan kampus.
Mahasiswa Berjejal, Fasilitas Jalan di Tempat
Kondisi memprihatinkan salah satunya dirasakan mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) UNM. Seorang mahasiswa berinisial AF menyentil kebijakan pihak rektorat yang terus membuka program studi (prodi) baru tanpa mengimbangi daya tampung dan sarana pendukung.
“Harapan saya untuk Rektor terpilih, tolong turun langsung cek sarana dan prasarana, khususnya ruang kelas. Mahasiswa FIKK itu ada sekitar 7.300 orang dari berbagai jurusan, tapi fasilitasnya tidak memadai. Ini masalah serius,” tegas AF kepada edunews.id.
Ia mengungkapkan, penambahan prodi baru seperti Gizi, Administrasi Kesehatan, Fisioterapi, hingga Promosi Kesehatan justru membuat mahasiswa sengsara saat menjalani proses belajar-mengajar.
“Jurusan terus dibuka tapi ruangan tidak pernah ditambah. Efeknya, mahasiswa harus ‘lomba rebutan kelas’ saat jam kuliah pagi. Bahkan tidak jarang ada yang terpaksa kuliah di tribun lapangan sepak bola,” bebernya.
Jual Beli Buku dan Pelayanan Akademik Lambat
Tak hanya di FIKK, jeritan senada bertiup dari Fakultas Teknik (FT). Mahasiswa berinisial MZ menuturkan bahwa siapa pun calon yang terpilih nantinya memiliki tumpukan ‘PR’ berat yang selama ini kerap diabaikan rektorat.
“Selain ruang belajar yang jauh dari kata layak, Rektor baru wajib memberantas praktik jual beli buku oleh oknum-oknum tertentu, serta menghentikan segala bentuk kekerasan di lingkungan kampus,” kata MZ.
Ia juga menyoroti birokrasi kampus yang dinilai berbelit-belit dan kerap membebani mahasiswa saat mengurus administrasi akademik.
“Pelayanan akademik dan administrasi harus dibenahi total. Saat ini mengurus administrasi di kampus justru jadi beban mental tersendiri bagi mahasiswa,” lanjutnya.
Tagih Ruang Dialog Serta Pemerataan Sarana
Kritik tajam turut dilayangkan oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FIS-H) berinisial SL, yang menegaskan bahwa keterbatasan ruang kuliah sudah menjadi problem mendasar yang dibiarkan berlarut-larut.
Sementara itu, mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) berinisial FL mendesak pimpinan baru kelak tidak ‘alergi’ terhadap kritik dan mau membuka ruang dialog terbuka.
“Saya berharap pelayanan akademik di FIP ditingkatkan. Siapapun yang terpilih nantinya, harus punya keberanian dan ruang khusus untuk mendengarkan langsung aspirasi serta keluhan mahasiswa tanpa perantara,” pungkas FL.
Tuntutan Nyata untuk Tujuh Figur Kandidat
Seluruh rentetan keluhan dan aspirasi mahasiswa ini kini bermuara pada tujuh nama kandidat yang resmi bertarung dalam bursa Pemilihan Rektor UNM periode ini. Publik kampus menantikan terobosan nyata dari Dr. Arifin Manggau, S.Pd., M.Pd. yang berlatar belakang kuat di bidang kemahasiswaan, serta Prof. Dr. Andi Aslinda, M.Si. yang memegang dukungan di internal senat.
Ekspektasi serupa dialamatkan kepada Prof. Dr. Eko Hadi Sujiono, M.Si. dengan fokus tata kelola universitas modernnya, serta Prof. Dr. Hasmyati, M.Kes., mantan Dekan FIKK.
Tantangan pembenahan ini juga dialamatkan kepada Prof. Dr. Ismunandar, Ph.D. untuk membumikan kebijakan globalnya ke ranah kebutuhan dasar mahasiswa, Prof. Dr. Sukardi Weda, S.S., M.Hum., M.Pd. yang dikenal dekat dengan jejaring sosial kemahasiswaan, hingga Prof. Dr. Suwardi Annas, M.Si. yang diuji kesiapannya merobohkan sekat-sekat birokrasi lambat di UNM. (*)
Redaktur : Eka Setiawan || Kontributor : Tim/fjr

