Ahmad Sahide

Permanent Conflict Israel-Palestina

Ilustrasi

Oleh : Ahmad Sahide*

 

SPEKTRUM, EDUNEWS.ID-Dunia Islam kembali menyaksikan kebrutalan aksi dari aparat Israel terhadap warga Palestina saat masyarakat Islam seantero dunia sedang bersiap merayakan hari besar dan kemenangannya, yaitu Idul Fitri 1442 H yang tepatnya jatuh pada 13 Mei 2021. Semua berawal ketika orang Yahudi melakukan provokasi di area masjid Al-Aqsa  saat memeringati hari Al-Quds (Kompas, 11/05/2021). Pemimpin dari dunia Islam kembali menyerukan dukungan moril terhadap perjuangan Bangsa Palestina, pada sisi yang lain mengecam Israel. Namun demikian belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, Israel tidak pernah menggubris seruan dan kecaman internasional atas kasus-kasus kekerasan dan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang dilakukannya terhadap warga Palestina. Oleh karena itu, kita akan selalu menyaksikan konflik-konflik atau tepatnya kekerasan terhadap penduduk Palestina yang dilakukan oleh aparat keamanan Israel. Penulis kemudian menyebutnya dengan istilah konflik permanen (permanent conflict). Penyebutan istilah ini karena konflik tersebut sudah berlangsung lama (sejak 1948) dan kita tidak tahu sampai kapan akan berakhir.

Lobi Yahudi

Sudah bukan rahasia lagi bahwa salah satu faktor utama mengapa konflik Israel-Palestina sulit untuk diselesaikan dan juga mengapa Israel sewenang-wenang dalam konflik ini adalah karena adanya dukungan politik dan diplomasi dari Amerika Serikat, negara super power. Kuatnya dukungan politik Amerika dari waktu ke waktu, yang seolah tidak memberi jalan bagi pemimpin negeri Paman Sam tersebut untuk tidak mendukung, adalah karena lobi politik Yahudi di Amerika yang terorganisasi dengan baik. Dalam kancah politik Amerika dan dunia, kita mengenal American-Israel Public Affairs Committee (AIPAC). Lewat lembaga inilah Israel menjaga politik luar negeri Amerika agar menjaga kepentingan politik Israel di kawasan Timur Tengah. Paul Findley dalam bukunya Mereka Berani Bicara, Menggugat Dominasi Lobi Yahudi mengatakan bahwa mereka yang berani mengkritik Israel, di AS, berarti berada dalam bahaya politik. Bahkan Presiden AS menoleh kepada AIPAC kalau ia mempunyai problem politik yang pelik menyangkut konflik Arab-Israel (Findley, 1990).

Ada dua strategi politik yang dijalankan oleh kelompok Yahudi di AS untuk menjaga kepentingan politik Israel. Pertama, para pelobi berusaha menanamkan pengaruh dan kekuatannya di Gedung Putih, Kongres, dan lembaga-lembaga eksekutif lainnya. Dengan pengaruh yang kuat terhadap lembaga-lembaga eksekutif ini, Israel akan dengan mudah mengendalikan kebijakan luar negeri AS untuk selalu menguntungkan Israel. Kedua, Israel selalu menampilkan potret dan gambaran yang serba baik dan indah tentang Israel (Ruslani dan Suparto, 2010: 51). Kuatnya lobi Yahudi di negeri Paman Sam inilah, sehingga seolah tidak ada jalan untuk perdamaian Israel-Palestina. Dan Israel dari waktu ke waktu terus melakukan kekerasan dan pelanggaran terhadap hak asasi manusia (HAM), tetapi dunia tidak bisa berbuat banyak. Pendekatan perundingan damai yang dilakukan bangsa Arab terhadap Israel, mulai dari konferensi damai di Madrid (Spanyol) tahun 1991, kesepakatan Oslo pada 1993, perundingan damai Israel-Palestina di Camp David, AS pada tahun 2000, juga gagal melahirkan negara Palestina (Kompas, 6 Juli 2020).

Palestina memang mempunyai dukungan moril yang cukup kuat dari dunia internasional tetapi kalah dalam hal dukungan politik. Sebagai contoh, pada September 2011, Mahmoud Abbas telah memperjuangkan status Palestina  sebagai ‘negara’ di dalam forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), namun apes baginya, Abbas harus pulang dengan tangan kosong meskipun rencana dan diplomasinya tersebut mendapatkan dukungan dari 122 negara anggota PBB (Sahide, 2017: 108).  Oleh karena itu, solusi dua negara sebagai jalan keluar dari konflik ini yang juga merupakan putusan dari Majelis Umum PBB pada tanggal 29 November 1947 dengan resolusi PBB No.188 nampaknya masih jauh dari impian. Mantan Menteri Luar Negeri Jordania, Marwan Muasher, menawarkan solusi baru yang kreatif dan inovatif, yaitu opsi satu negara yang menghimpun dua rakyat, Yahudi dan Arab. Opsi ini diambil apabila opsi dua negara tidak mungkin lagi diwujudkan dengan melihat perilaku politik Israel dari waktu ke waktu (Kompas, 6 Juli 2020).

Tentu saja opsi yang ditawarkan oleh Muasher tersebut akan sulit untuk diterima oleh dunia Islam, khususnya masyarakat Arab Palestina. Menyatukan dua bangsa dalam satu negara yang mempunyai konflik dan dendam historis bukan hal yang mudah. Di samping itu, opsi yang diinginkan Israel sebenarnya adalah terhapusnya Palestina dari peta dunia dan hal itu terlihat dengan terus menyusutnya wilayah Palestina dengan aneksasi Israel. Sementara Palestina menginginkan tanahnya tang telah dianeksasi oleh Israel bisa didapatkan kembali. Tantangannya bagi Palestina adalah Palestina hanya mempunyai kekuatan moril, sementara Israel mempunyai kekuatan politik. Hampir semua negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim mempunyai tingkat ketergantungan besar terhadap Amerika. Sementara politik luar negeri Amerika, terutama untuk Timur Tengah, selalu dikawal oleh orang-orang Yahudi di Amerika melalui AIPAC. Selagi ketergantungan negara-negara mayoritas Islam masih sangat tinggi terhadap Amerika maka seruan politik dan kecamannya tidak akan banyak berarti bagi perjuangan bangsa Palestina. Inilah yang harus dipikirkan ke depannya!

Yogyakarta, 16 Mei 2021

Ahmad SahideDosen Hubungan Internasional Program Magister Universitas Muhammadiyah Yogyakarta    

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top