DAERAH

Wanita Lamar Pria di Pinrang, MUI : Tidak jadi Masalah

EDUNEWS.ID – Mejelis Ulama Indonesia (MUI) Sulsel mengatakan seorang wanita melamar pria di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan (Sulsel) tidak menjadi masalah dalam syariat Islam.

“Sebenarnya tidak menjadi masalah, asalkan calon mempelai pria tetap memberi mahar, misalnya seperangkat alat salat,” kata Sekretaris MUI Sulsel, Muammar Bakri, seperti dilansir Antara, Jumat (26/11/2021).

Dalam budaya masyarakat dan adat di Sulsel, biasanya mempelai prialah yang memberikan mahar ataupun uang panai (belanja) kepada calon mempelai perempuan. Fenomena wanita melamar pria yang tak umum dalam tradisi adat Bugis Makassar.

Namun Bakri mengatakan, dalam agama, jika seorang wanita melamar pria pun tidak menjadi masalah. Menurutnya, apabila seorang wanita atau keluarganya melamar seorang pria, hal tersebut diperbolehkan di dalam syariat Islam.

Hal tersebut sebagaimana telah dilakukan para sahabat nabi, yang mendatangi orang-orang saleh untuk menawarkan anak perempuan atau adik mereka untuk dinikahi.

Kemudian terkait mahar. Pada dasarnya, kewajiban menyiapkan mahar ketika nikah dibebankan kepada pria, karena kewajiban pria sebagai suami yang menjadi hak perempuan sebagai istri.

Dalil mengenai mahar telah diatur firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa ayat 4 yang artinya:

Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.

Menurutnya, jika seorang wanita memberikan hartanya kepada seorang pria untuk dijadikan mahar, termasuk uang belanja (sesuai tradisi Bugis Makassar), maka itu tidak mengapa.

Meski demikian, tetap diwajibkan pria menyiapkan mahar sekalipun nilai harganya sedikit. Dia mengatakan, sedikitnya, mahar yang diberikan seperti yang lazim misalnya seperangkat alat salat.

Mahar adalah kewajiban sebagai bentuk tanggung jawab atas keseriusan seorang laki-laki untuk menjadi suami sebagai persembahan yang diberikan untuk mendapatkan kehalalan seorang perempuan.

“Hal ini juga akan memberikan kemudahan kepada laki-laki yang tidak mempunyai harta untuk melakukan pernikahan dengan keridhoan wanita menerima mahar yang sedikit,” tambah Muammar.

Sebelumnya, acara lamaran di Pinrang, Sulsel, ramai dibicarakan hingga viral di media sosial. Pasalnya, pihak pelamar adalah keluarga perempuan yang diketahui merupakan hal tabu dalam adat masyarakat Bugis Makassar.

Video yang diunggah oleh pihak keluarga pada Senin (22/11), saat prosesi lamaran berlangsung ini pun kini telah dibagikan dan ditonton oleh puluhan ribu netizen. Acara lamaran ini terjadi di Kelurahan Marawi, Kecamatan Tiroang.

Usai viralnya video lamaran tersebut, ibu calon pengantin wanita, Hajah Asmira, membeberkan alasan melamar pria yang masih kuliah di Jakarta itu untuk dijadikan menantunya.

“Saya suka orang tuanya, sudah lama baku baik (hubungannya baik), anaknya juga baik, dari pesantren, saya cari menantu seperti dia, karena sangat perhatian, kalau sakit orang tuanya dia yang urus, saya kagum dengan kepribadiannya,” kata Asmira kepada wartawan, Selasa (23/11).

Mahar atau uang panaik yang terbilang fantastis. Asmira mengatakan hal itu kesepakatan kedua belah pihak. Mahar itu terdiri dari gula pasir, terigu, hingga telur 200 rak yang nilainya mencapai Rp 500 juta.

Meskipun lamaran sudah berlangsung, kedua keluarga masih merembukkan hari baik akad nikah yang rencananya baru akan digelar 3 atau 4 tahun ke depan. Sebab, saat ini calon mempelai pria masih berjuang lulus kuliah dan calon mempelai wanita yang saat ini masih duduk di bangku kelas 3 SMP.

 

Sumber : Detik.com

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top