Inovasi

Perguruan Tinggi Perlu Insentif untuk Dorong Inovasi Riset

Pengunjung memainkan permainan melalui media Lumi Glass Podium dalam pagelaran Indonesia Innovations and Innovators Expo 2015 di Jakarta, Kamis (19/11/2015)

BANDUNG, EDUNEWS.ID – Pemberian insentif mampu mendorong lahirnya inovasi-inovasi riset di tingkat perguruan tinggi. Tidak hanya itu, lebih jauh juga mampu mendorong terbentuknya perusahaan pemula berbasis teknologi (PPBT) yang berawal dari inovasi riset tersebut.

Direktur Jenderal Penguatan Inovasi, Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti), Djumain Appe menuturkan perguruan tinggi memiliki potensi SDM yang mampu mendorong lahirnya usaha berbasis sumber daya alam tanah air. Namun pengembangan hasil penelitian menjadi sebuah produk usaha yang berkelanjutan membutuhkan suntikan dana atau insentif.

Karena itu, dia menelaskan, dalam dua tahun terakhir pihaknya telah mendorong pemberian insentif bagi perguruan tinggi dan juga lembaga penelitian lainnya melalui Insentif Bisnis Teknologi (IBT).

“Saat ini ekonomi bangsa mengalami penurunan atau slow down, bukan hanya karena ekonomi global juga menurun. Namun karena produktivitas nasional yang menurun. Karena itu harus dilakukan penumbuhan ekonomi yang memiliki kekuatan dari SDA dan SDM sendiri,” tuturnya di Gedung Kemenristek Dikti, Jakarta, Selasa (15/11/2016).

Sejauh ini terdapat lebih dari 150 calon PBBT yang dihasilkan dari pemberian IBT tersebut. Pada 2015, tercatat 54 perguruan tinggi dan lembaga penerima IBT. Sementara di tahun 2016 ini terdapat 105 perguruan tinggi dan lembaga yang mendapatkan IBT. Total anggaran yang dikeluarkan untuk program IBT tersebut ialah Rp 225 Miliar, dengan jumlah dana yang diterima masing-masing perguruan tinggi maupun lembaga rata-rata berkisar dari Rp 150 juta hingga Rp 300 juta.

Djumain menuturkan, pihaknya tidak hanya berhenti pada pemberian insentif. Melainkan juga kami menjalin komunikasi dengan kementrian dan lembaga lainnya untuk bisa memanfaatkan calon-calon perusahaan pemula berbasis teknologi tersebut.

Salah satu upaya komunikasi tersebut melalui pameran Indonesia Innovations and Innovators Expo (I3E) 2016. Pada ajang yang akan berlangsung ada 17-20 November 2016 tersebut lebih dari 100 produk inovasi teknologi kaya inovator akan ditampilkan. Bukah hanya dari berbagai perguruan tinggi, dan juga lembaga penerima IBT, namun juga inovator lainnya binaan Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF).

“Pemerintah perlu mendorong hingga produk bisa masuk ke pasar. Namun juga berkelanjutan. Sehingga produk-produk yang dihasilkan tidak mati. Karena itu sangat diperlukan kerjasama antara perguruan tinggi, dunia industri, dan juga lembaga hingga kementerian terkait lainnya,” ucapnya.

 

[PR]

To Top