Kampus

Duh, Banyak Manipulasi Nilai Rapor di SNMPTN 2016

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Panitia Pusat Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) akan mencoret sekolah yang melakukan kecurangan dalam mengisi Pangkalan Data Siswa dan Sekolah (PDSS). Kecurangan yang paling mungkin terjadi adalah guru mengatrol nilai rapor siswanya agar lolos SNMPTN.

Ketua Panitia Pusat SNMPTN Ravik Karsidi menegaskan, panitia telah melakukan penulusuran kepada semua mahasiswa yang lolos SNMPTN tahun 2016. Hasilnya, nilai akademik mahasiswa lulusan SNMPTN banyak yang mengecewakan ketimbang mahasiswa lulusan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) lulusan SNMPTN kerap di bawah rata-rata.

“Sehingga kami berkesimpulan, nilai dari SMA/SMK sederajat itu pilihan dari sekolah ada masalah. Jadi agar seleksi SNMPTN ini lebih baik, saya kira semakin jumlahnya (daya tampung) kecil, proses seleksi di masing-masing SMA/SMK akan semakin ketat. Harapan kami juga kepada para sekolah, sangat hati-hati mengisikan dan memilih siswa-siswa mereka,” ujar Ravik di Jakarta, Selasa (24/1/2017).

Kendati demikian, Ravik mengaku hingga saat ini panitia belum menemukan bukti otentik terkait praktik dugaan mengatrol nilai rapor siswa. Namun, ketimpangan nilai akademik antara mahasiswa lulusan SNMPTN dan SBMPTN bisa menjadi parameter ilmiah untuk mengukur kualitas model seleksi.

“Jika ditemukan kecurangan, mengatrol rapor, tidak ada ampun. Tahun depan sekolahnya akan dicoret dan tidak bisa lagi SNMPTN,” ujarnya.

Ia mengatakan, panitia terus melakukan penelusuran berdasarkan nilai akademik mahasiswa. Panitia memantau dengan ketat prestasi akademik mahasiswa dari sekolah yang lolos SNMPTN. Jika ternyata nilai akademiknya mengecewakan, penulusuran berlanjut kepada masing-masing sekolah asal mahasiswa tersebut.

“Kami mengolah melalui data akademik. Imbauan kami supaya betul-betul dari mereka itu yang baik dan hati-hati. Berdasarkan hasil kajian menunjukkan ada kecenderungan sekolah berusaha optimal agar siswanya lolos SNMPTN. Misalnya, ditemukan nilai-nilai mata pelajaran yang meningkat sejak semester I sampai V, tetapi saat ujian nasional malah rendah padahal nilai mata pelajaran yang sama,” katanya.

To Top