Kampus

800 Mahasiswa UPI Duduki Rektorat Tolak Uang Pangkal Mahasiswa Baru

Bandung, EDUNEWS.ID — Kurang lebih 800 mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menduduki kantor rektorat UPI, Bandung, Senin, (15/08/2016). Para mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa UPI ini mendesak rektor agar menghapus uang pangkal masuk UPI yang dibebankan kepada mahasiswa baru Seleksi Mandiri.

Aksi ini dimulai dari lapangan berdebu UPI sekitar pukul 10.00 WIB. Kemudian para mahasiswa berkeliling ke berbagai fakultas untuk mendapat dukungan dari mahasiswa lain hingga kantor rektorat UPI. Dalam aksinya mahasiswa membawa keranda mayat dan sejumlah poster sebagai bentuk penolakan terhadap kebijakan kampus UPI.

Muhammad Guntur Purwanto, Ketua BEM REMA UPI mengatakan, saat ini kampus UPI sudah sangat membelot dari kebijakan yang ada. Di saat berbagai perguruan tinggi menghapus uang pangkal bagi mahasiswa Seleksi Mandiri, UPI justru menerapkan uang pangkal bagi mahasiswa baru tersebut.

“Ini yang kami sayangkan, pendidikan telah menjadi pasar. Padahal pendidikan itu adalah hak semua masyarakat Indonesia,” kata Guntur saat ditemui KabarKampus disela-sela aksi, Senin, (15/08/2016).

Mahasiswa jurusan Fisika ini menegaskan, uang pangkal yang diberikan kepada mahasiswa baru jalur tersebut seolah diperjualbelikan. Ia menganggap jalur mandiri sudah seperti jalur jual belu kursi.

Baca Juga: Mahasiswa Jurusan Sastra Sunda Minta Bahasa Daerah Masuk Kurikulum 2013
“Makanya mahasiswa geram dan hari ini turun. Kami menuntut uang pangkal tersebut dihilangkan,” ungkap Guntur.

Sementara itu Rivaldi Pamungkas, koordinator aksi menambahkan, UPI telah membuat kebijakan yang mengharuskan calon mahasiswa baru yang masuk melalui jalur Seleksi Mandiri membayar uang pangkal sebesar 28 juta rupiah. Para calon mahasiswa itu baru dianggap mahasiswa UPI bila telah membayar dengan jumlah uang tersebut.

“Padahal Menristek Dikti mengatakan, calon mahasiswa apabila telah lolos tes wajib diterima. Dia berhak dilayani. Kalau dia memiliki kesulitan ekonomi maka UPI harus bantu memikirkannya. Dia bisa diberikan beasiswa atau ditangguhkan,” ungkap Ketua Unit Kegiatan Studi Kemasyarakatan UPI ini.

Selain itu mahasiswa jurusan Bahasa Indonesia ini, meminta agar rektorat UPI tidak membeda-bedakan mahasiswa melalui jalur seleksi, apakah di masuk melalui jalur SBMPTN, SNMPTN, atau jalur Seleksi Mandiri. Apalagi fasilitas yang ada di UPI tidak membeda-bedakan mahasiswa.

“Uang pangkal untuk calon mahasiswa seleksi mandiri itu tidak logis,” ungkap Ival.

Selama berlangsungnya aksi, sejumlah perwakilan mahasiswa sempat menemui rektor beserta wakilnya. Namun mahasiswa merasa tidak menemukan jalan keluar, karena pihak rektorat belum memberikan keputusan atas protes yang mereka sampaikan.

Hingga sore ini mahasiswa masih menduduki rektorat kampus UPI. Di sana mereka terus meneriakkan yel-yel perjuangan. Para mahahasiswa mengaku akan menduduki rektorat UPI hingga rektor memberikan keputusan yang jelas mengenai nasib mahasiswa tidak mampu yang masuk melalui jalur mandiri.

 

Kabarkampus

To Top